Lompat ke isi utama
blind project sedang melakukan aktivitas youtuber

Blind Project, Difabel Netra Berkarya saat Pandemi

Solider.id - Pandemi Covid-19 ini telah menumbuhkan sisi lain pada diri manusia yakni kreativitas. Pembatasan aktivitas sosial dan pemberlakuan tinggal di rumah membuat tumbuhnya ide-ide kreatif dalam diri seseorang. Hal tersebut dapat dilihat dari menjamurnya youtuber baru dari usia kecil hingga dewasa serta jualan online. Dengan dukungan teknologi saat ini, kreativitas-kreativitas itu tidak hanya dapat dilakukan oleh nondifabel saja melainkan juga oleh difabel sendiri.

Blind Project Youtube merupakan salah satu kreativitas yang dibuat oleh difabel netra asal Bali.  Mereka merupakan anak-anak muda yang masih mengenyam bangku pendidikan, ada yang menjadi mahasiswa dan ada yang masih di bangku sekolah. Jiwa muda dan semangat yang tinggi mengalir dalam diri mereka.  Dengan hambatan penglihatan yang dimiliki tidak serta merta membuat mereka terdiam tanpa karya di tengah pandemi ini. Tidak hanya ingin menjadi penonton youtube saja, kumpulan anak muda yang tergabung dalam Blind Project ini pun memutuskan untuk membuat youtube sendiri. Tentunya dengan konten yang sedikit berbeda pada umumnya. Ide-ide kreatif yang mereka tuang pada konten youtube  Blind Project ini mayoritas tentang aktifitas-aktifitas sederhana yang dilakukan oleh difabel netra. misalnya saja seperti bagaimana difabel netra  menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi ini, bagaimana tunanetra bermain bola dengan mengandalkan pendengaran, kemudian bermain lego, jalan-jalan di tempat umum, bermain musik dan menyanyi serta aktifitas sederhana lainnya.

Menurut Putu Pande Rivan, seorang mahasiswa difabel netra yang juga pencetus Blind Project sekaligus koordinator tim ini mengatakan bahwa Melihat maraknya youtuber yang bertebaran, ia tergerak untuk membuat channel youtube. “awalnya sih iseng aja. Karena gak ada kegiatan yang padat, terus iseng sama teman-teman buat video terus di unggah.” Tutur mahasiswa jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) ini.

“tim kami saat ini berjumlah delapan orang. Semuanya adalah difabel netra. Ada dengan kondisi penglihatan low vision dan penglihatan total. Mulai dari kameraman, editing, aransement musik hingga uploading dan siap ditonton semuanya dilakukan oleh difabel netra!” sambung Rivan saat dihubungi melalui whatsapp.

Selain ingin mencapai target yakni memperoleh penghargaan dari youtube, Blind Project sendiri memiliki visi dan misi yang membuat mereka terus berkarya. Selain ingin menghibur masyarakat luas, mereka juga ingin mensosialisasikan  tentang bagaimana difabel netra juga bisa berkarya dan beraktivitas sama halnya seperti orang-orang nondifdbel. “menjadi tunanetra bukan berarti tidak bisa apa-apa! Melalui youtube ini kami ingin turut menghilangkan stigma negatif tentang kaum difabel dan memberitahu masyarakat bahwa kami juga bisa!” tuturnya.

Kerja keras mereka tidak sia-sia. Banyak Konten mereka yang menjadi trending topik. Diantaranya cover lagu Bali United, kemudian cover lagu Pengkhianat Cinta, lalu bagaimana cara difabel netra menikmati jalan-jalan ke tempat umum atau objek wisata, serta yang tidak kalah seru dan banyak viewer nya ketika difabel netra bermain bola dengan mengandalkan telinga. Selain itu, kita juga dapat menikmati cover lagu lainnya yang disuguhkan dengan kreatifitas seni yang dapat menghibur. Meski baru menjadi youtuber pemula, Blind Project sudah memiliki 250 subscribers ketika tulisan ini dibuat.

Menjadi youtuber dengan hambatan penglihatan tentu banyak suka duka yang mereka alami. Misalnya saja, saat pengambilan video terkadang posisi kamera yang kurang tepat. Kemudian saat editing, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan editor nondifabel. namun, semua proses tersebut mereka nikmati dengan kondisi yang ada. Hal tersebut tidak membuat mereka menyerah, tapi terus memacu untuk berkarya dan berkreatifitas lagi.

Lalu, mengapa youtube menjadi pilihan mereka dalam berkarya dan berkreativitas? Yakni menurut Mahesa salah satu kru Blind Project mengatakan bahwasanya di zaman melenial sekarang ini, media sosial menjadi salah satu sarana informasi yang cepat untuk diketahui orang banyak. “kami juga punya jiwa melenial! Dengan perkembangan teknologi saat ini, mempermudah kami dalam mengekspresikan diri di tengah keterbatasan kami menjadi tunanetra!” ujar pria yang baru duduk di bangku SMA itu.

Dalam proses pembuatan video, tim Blind Project ini masih menggunakan peralatan yang sangat sederhana yakni smartphone dengan aplikasi pembaca layar dan speaker.

Ke depannya, Rivan dan timnya memiliki harapan channel youtube yang mereka rintis bisa terus berkembang dan bisa mendapat penghargaan dari youtube. Mereka berharap bisa terus membuat karya-karya yang menghibur dan inspiratif. Mereka juga mengajak para difabel yang ada dimana pun untuk tetap semangat dan terus berkreatifitas di tengah pandemi. “jangan ragu untuk memulai, yang penting berbuat dulu dan bekerjalah terus. Saya percaya hasil tidak akan menghianati proses!” tandas Rivan mengakhiri wawancara.[]

 

Reporter: Ayu Wandari

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.