Lompat ke isi utama
ilustrasi informasi webinar pengasuhan anak difabel

Mengasuh Anak Difabel, Penerimaan Orang Tua adalah Kunci Utama

Solider.id – Pengasuhan anak difabel menjadikan tantangan tersendiri bagi orang tua. Namun orang tua yang menerima keadaan anak difabel akan mampu memahami dan memberikan kebutuhan yang layak pada anaknya. Seperti Sarah Kumala Dewi yang mempunyai anak difabel ganda, cerebral palsy dan netra, terus berjuang agar anaknya mendapatkan pendidikan walaupun mendapatkan penolakan banyak sekolah.

Kini ia masih berjuang untuk pendidikan anaknya, karena yang ia tahu dalam pasal 31 UUD 1945 menyebutkan setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan atau pengajaran. Saat pandemi seperti ini, ia juga mengalami beberapa tantangan lainnya.

“Dulu terapi seminggu dua kali sekarang jadi susah, karena tidak terapi otak dan badan anak menjadi kaku atau spastic. Secara psikis, anak sering marah-marah karena bosan di rumah dan mengajak keluar, serta susah untuk memasang masker ke anak,” ucap lala nama sapaannya, saat menjadi narasumber webinar, (8/9).

Sarah tidak merasa malu mempunyai anak difabel, ia selalu mengajak komunikasi pada anaknya meskipun hanya berjalan satu arah saja, dan sering mengajak keluar rumah.

“Selain cerebral palsy, anakku juga netra, jadi saya sering kelitikin kakinya, ajak becanda lewat suara. Anak saya tidak bisa ditinggal lama, walaupun ditinggal ke dapur sebentar pasti akan nangis dan marah-marah, lalu saya mengajak keluar naik motor dan anak saya pun diam dan senang,” tuturnya

Tata Sudrajat, deputi chief of program dari save the children menjelaskan bahwa keluarga adalah faktor yang penting dalam pengasuhan anak.

“Menurut saya adanya keterikatan dan kelekatan adalah basis dari orang tua dan anak, ini akan menjadi pengingat anak pada orang tua hingga dewasa, yang terpenting keluarga mau dan mampu untuk melakukan itu,” ujar Tata

Masalah pengasuhan anak difabel sebenarnya penerimaan dari orang tua, ketika orang tua tidak menerima hal itu maka akan ada pengabaian, penelantaran, dan isolasi. Tetapi ketika orang tua mau menerima, maka anak dapat bertumbuh kembang sesuai dengan perkembangannya.

“Dalam penerimaan ada motivasi untuk mendorong orang tua dalam mencurahkan waktunya untuk anak. Keterlibatan seorang ayah juga bisa mempercepat tumbuh kembang anak, paling tidak anak-anak dalam batas tertentu bisa melakukan sendiri dan tidak bergantung pada orang tuanya,” tukasnya

Sunarman Sukamto, tenaga ahli hukum dan HAM dari kantor staf kepresidenan membagikan pengalamannya pada 5 tahun yang lalu saat mengurus Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) yaitu 20% orang tua dengan anak difabilitas menunjukkan upaya agar anaknya mendapatkan situasi yang lebih baik, lalu 80% tidak bisa berbuat apa-apa.

“Yang 20% disebabkan oleh dua faktor yakni sudah memiliki modal pemahaman yang baik bahwa anak difabel mempunyai hak yang sama dengan anak yang lainnya untuk tumbuh dan berkembang, dan faktor kedua digerakkan oleh menolak keadaan anaknya sehingga berupaya untuk terapi atau pengobatan. Kemudian yang 80% terkesan mengabaikan karena tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana,” kata Sunarman

Menurut pengalamannya, orang di desa-desa itu hanya mendiamkan saja yang penting diberi makan dan baju, bahkan ada yang disembunyikan. Untuk di kota, anak anak yang berterapi rata-rata anak usia 4-5 tahun dan bahkan ada yang 9 tahun.

“Deteksi dini untuk lambat kembang anak yang mengarah ke difabilitas dapat di deteksi dari umur 3 bulan, tetapi lembaga tingkat kelurahan dan tingkat desa yang dekat dengan keluarga itu belum banyak mempromosikan tentang deteksi dini anak, tentang pentingnya gizi tumbuh kembang anak,” tandasnya

Intinya keluarga membutuhkan penyadaran, pendampingan, dan butuh proses untuk menerima anaknya, lalu mendukung tumbuh kembang anaknya yaitu pendidikan, kesehatan, penyediaan alat bantu, karena orang tua sebelum masa menerima ada masa penolakan.

“Jadi kalau kita ingin intervensi di tingkat keluarga, sebelumnya tanya dulu apa yang orang tuanya pikirkan, lakukan, dan doakan pada anaknya, disitu akan tergambar psikologis orang tua apakah sudah tahap penerimaan atau masih penolakan pada situasi anaknya,” jelasnya.[]

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor     ; Ajiwn Arief

The subscriber's email address.