Lompat ke isi utama
Poster kegiatan DPO Respon Covid-19

Memetakan Penanganan Difabel Pasca Pandemi Covid-19

Solider.id, Boyolali- Asesmen dampak Covid-19, sudah dipaparkan ke publik. Dari asesmen, dihasilkan 8 rekomendasi yang memerlukan tindak lanjut agar bisa diimplementasikan sebagai bahan referensial bagi pemerintah dalam merespon kebutuhan masyarakat difabel yang terdampak pandemi Covid-19.

Namun, dampak pandemi masih membayangi kehidupan masyarakat di Indonesia, termasuk difabel. Perlu kiranya hasil asesmen dilanjutkan dengan bagaimana memetakan dan melakukan rencana tindak lanjut yang relevan dengan kondisi hari ini. Oleh karena itu DPO Respon Covid-19, mengadakan diskusi daring tentang tindak lanjut dari asesmen tersebut, yang berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2020. Dari diskusi tersebut, penulis mencatat ada beberapa poin krusial yang perlu diketengahkan.

Seperti apa yang disampaikan Ishak Salim, mewakili Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Makassar yang memaparkan beberapa peluang yang menurutnya relevan dilakukan pasca pandemi. Pertama, pentingnya pendataan. Kedua, upaya jaringan dalam melakukan pemantauan terhadap kerja-kerja pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah lokal terkait penanganan Covid-19. Ketiga, penyusunan policy brief, kebijakan penanganan yang ramah dan mengakomodir kebutuhan difabel. Keempat, pemetaan aktor, isu dan strategi advokasi.

"Dan terakhir, perlunya kerjasama dalam memberikan pelatihan kapasitas bagi sumberdaya manusianya, terutama bagi DPO di daerah-daerah," paparnya.

Jonna Damanik juga berbagi pengalaman bagaimana hasil asesmen cepat berpengaruh dan sangat dibutuhkan publik. Dia dan rekan-rekan di Institut Inklusif Indonesia (I3) menerjemahkan hasil asesmen cepat kedalam diskusi-diskusi spesifik. Seperti mendiskusikan permasalahan Difabel dalam kaitannya dengan pendidikan.

"Kami, bersama rekan-rekan di Jakarta sedang melakukan advokasi terkait proses pendataan yang digagas oleh Kemensos," imbuhnya. Selain itu saat ini I3 juga sedang fokus mengawal rekomendasi ketersediaan dan dukungan teknologi alat bantu bagi Difabel.

Sementara Yuktiasi Proborini memaparkan Sejiwa Foundation sudah melakukan pertemuan dengan Pemerintah kota Semarang dan memberikan masukan, utamanya terkait kesulitan Difabel dalam mengakses perbankan. Kedepan dia dan rekan-rekan berencana bertemu dengan anggota DPR untuk mendiskusikan mengenai PJJ dengan menggunakan asesmen sebagai rujukan.

Yuktiasih juga mengutarakan mengenai pentingnya buku panduan dalam melakukan advokasi. Sehingga DPO memiliki keseragaman dalam melaksanakan pendekatan advokasi. Namun hal ini perlu memililah pendekatan yang akan digunakan dalam advokasi tersebut.

Edy Supriyanto memaparkan bahwa saat ini Sehati Sukoharjo sedang melakukan pendalaman mengenai survey dampak Covid-19 terhadap anak Difabel. Untuk ke depannya dia berencana menggandeng sejumlah DPO di Jawa Tengah untuk membuat laporan hasil asesmen di tingkat provinsi yang kemudian akan diserahkan ke Gubernur.

Stella Rosita mepaparkan bahwa pihaknya di Jombang berencana untuk membuat diskusi online di tingkat wilayah. Dia meminta dukungan terkait resource dari jaringan ini. Untuk tema yang dipersiapkan adalah mengenai aktivisme dan pengetahuan Difabilitas, dan secara dia sudah meminta Joni Yulianto sebagai resource person.

Reni Indrawati menuliskan bahwa saat ini WKCP sedang membuat video edukasi bagi para orangtua dalam melakukan terapi di rumah bagi anak dengan cerebral palsy.

Selain beberapa segmen yang sudah direspon, perempuan difabel juga menjadi bahasan yang perlu muncul di dalam proses penanganan yang ada. Kondisi perempuan Difabel di Indonesia dalam jaringan tingkat global dan hasil asesmen bisa digunakan. Pembebasan biaya rapid test, transparansi data di Gugus Tugas, kebutuhan peningkatan kapasitas terkait jurnalisme inklusi, pemilukada inklusi di masa pandemi.

Hasil dari asesmen cepat dampak Covid-19 bagi masyarakat Difabel sudah dipublikasikan dan digunakan sebagai acuan program, kebijakan maupun kegiatan sebagai pijakan tanggap Covid-19 yang berperspektif Difabel. Meskipun begitu, kerja bersama jaringan DPO tanggap Covid-19 tidak serta merta selesai. Dari pemetaan dan diskusi yang dilakukan masih ada amanat jaringan yang perlu dilaksanakan selama masa pandemi ini, maupun dalam mempersiapkan masyarakat menuju adaptasi normal baru yang setara dan mengakomodasi masyarakat Difabel.[]

 

Penulis: Ida Putri

Editor: Robandi

The subscriber's email address.