Lompat ke isi utama

Workshop Perguruan Tinggi Inklusif di Brawijaya

Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Ditjen Dikti Kemendikbud dan Macquire University, Sidney, Australia menyelenggarakan seminar bertajuk International Workshop Toward Inclusive Education for Universities in Indonesia (Menuju Pendidikan yang Inklusif di Universitas-universitas Indonesia), di Malang, pertengahan November 2012 lalu.

Sesuai dengan judulnya, workshop bertujuan menyamakan persepsi sekaligus menggerakkan semangat pendidikan inklusif di perguruan tinggi di Indonesia, sekaligus memperkenalkan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Unbraw yang secara resmi didirikan 19 Maret 2012.

Workshop dihadiri wakil dari Dirjen Dikti, 37 organisasi yang bergerak di dunia disabilitas dan 50 universitas seluruh Indonesia, serta utusan dari Macquire University. Selain organisasi penyandang disabilitas, juga diundang wakil-wakil dari SLB tingkat SLTA yang menjadi salah satu sasaran utama seminar ini. “Kita perlu mendengar masukan tentang bagaimana pendidikan inklusif seharusnya. Biar mengerti mestinya pendidikan tinggi untuk penyandang disabilitas itu seperti apa dan bagaimana,” ujar Slamet Thohari, MA, Sekretaris PSLD Unbraw sekaligus satu satu motor seminar ini.

Materi workshop diberikan berbagai ahli yang memahami dunia disabilitas. Bahkan sebagian ahli memang penyandang disabilitas, seperti Didi Tarsidi, PhD., Ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) yang dosen UPI Bandung, atau DR. Saharuddin Daming, doctor hukum penyandang tunanetra yang mantan komisioner Komnas HAM. Juga pembicara tamu adalah Sharon Kerr, dari Macquarie University, Sidney, Australia.

Workshop dua hari ini melahirkan kesadaran dan sejarah baru. Wakil-wakil dari perguruan tinggi kemudian sepakat membuat dan menandadatangani “Deklarasi Malang”, yang berisi kesepakatan tekad untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif di perguruan tinggi.

Deklarasi tersebut berisi: 1) Mendorong diimplementasikannya Convention of Rigths of People with Disabilities yang telah diratifikasi tahun 2011 dalam masyarakat Indonesia. 2) Mendorong diimplementasikannya hak pendidikan yang sama bagi penyandang disabilitas. 3) Berusaha menerapkan pendidikan Inklusif dan memberikan akses yang sama bagi penyandang disabilitas dalam perguruan tinggi.

Deklarasi ini diharapkan mengikat 20 universitas yang ikut menandatangani. Arah dan spirit baru dalam pelayanan hak penyandang disabilitas di Indonesia.

Sumber: http://majalahdiffa.com/index.php/ragam-disabilitas/225-workshop-pergur…. Diakses tanggal 18 January 2013

The subscriber's email address.