Lompat ke isi utama

Menggagas Difabel sebagai Kreator of Knowledge dalam Upaya Penelitian

Solider.id - Peran peneliti memiliki andil besar dalam proses transformasi ilmu pengetahuan di dunia. Bergantung dari jenis penelitiannya, peneliti memiliki andil signifikan dalam memajukan umat manusia dari upaya mereka mengeksplor isu-isu di muka bumi ini dan menawarkan hipotesa atas kuriositas kita terhadap ilmu pengetahuan di sekitar kita. Penelitian yang baik dapat menstimulasi pengetahuan manusia terhadap isu-isu di sekitarnya, baik dalam membeda hubungan individu antar individu, menguji alat teori di lapangan, mengungkap yang belum terungkap maupun membantu peradaban manusia dalam melahirkan ribuan macam inovasi-inovasi baik dalam bentuk inovasi tekhnologi maupun inovasi pemikiran.

Selain itu, penelitian yang baik juga berperan sentral sebagai alat yang efektif guna memproduksi sebuah solusi dari sebuah permasalahan manusia mulai itu permasalahan menyangkut aspek sosio ekonomi seperti isu kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, hingga isu yang lebih kompleks sekalipun seperti isu perubahan iklim, diskriminasi rasial, ketimpangan gender hingga tak terkecuali juga isu yang dihadapi oleh kelompok-kelompok minoritas seperti halnya  kelompok difabel di masyarakat.

Pertanyaannya, Kenapa difabel?disamping telah banyak dikeluarkannya dan dicanangkannya produk hukum maupun aksi kongkret untuk menentang praktik diskriminasi, stigmatisasi maupun pengabaian   hak-hak fundamental difabel, kehidupan mereka sebagai para minoritas nyatanya cenderung masih rentan diwarnai oleh ketidakadilan. Sampai-sampai telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dinamika hidup seorang difabel. Diskriminasi telah tertanam cukup dalam pada sektor-sektor vital yang ada di masyarakat. Sektor ketenagakerjaan, sosial, kesehatan, pendidikan hingga politik masih menyimpan antipati terhadap upaya penegakan dan pemenuhan hak-hak mendasar dari kaum difabel secara utuh dan menyeluruh.

 Hasilnya, jalan panjang untuk mencapai kesetaraan hak diantara para difabel pun tambah menjadi jalan panjang nan terjal yang harus mereka lalui.  

Peranan dari sebuah penelitian sangatlah penting dalam hal ini. Penelitian yang baik akan dapat membukakan jalan kita pada solusi atas permasalahan yang telah mehinggapi masyarakat, maka penelitian yang baik juga akan membantu menuntun kita terhadap solusi atas berbagai permasalahan-permasalahan yang telah mengakar yang dihadapi oleh kelompok difabel.

 Sebuah program penelitian yang dilaksanakan secara profesional, terukur dan dengan tujuan yang jelas serta juga dengan latar belakang masalah yang relevan dengan situasi yang berlangsung akan mampu memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kelangsungan sebuah objek permasalahan di masyarakat. Tak terkecuali juga bagi upaya pembedahan dan penggalian lebih lanjut atas problem-problem yang kini tengah dihadapi oleh kelompok difabel di lapangan. Dimana jumlahnya sendiri sangatlah banyak. Mulai dari permasalahan difabel terkait kemiskinan yang semakin besar, pengangguran diantara mereka yang tak terbendung, akses pendidikan dan layanan kesehatan yang problematis hingga isu-isu yang lebih individualistik seperti isu rumah tangga difabel hingga topik kesehatan emosional dan mental dari para difabel, yang mana sendiri jarang mendapatkan perhatian dari kalangan akademisi diluar sana.

 Hal-hal inilah yang semestinya mampu menjadi segelintir isu-isu utama yang patut menjadi bahan penelitian dari para peneliti untuk diteliti dan dicarikan pemecahan masalahnya. Sehingga, output penelitian yang tercipta dapat digunakan sebagai kontribusi dalam meningkatkan lingkungan yang lebih inklusif ke difabel dan senjata advokasi yang lebih efektif bagi upaya pemenuhan hak-hak difabel di masyarakat. Sementara itu, outcome yang tercipta dari penelitian-penelitian ini juga mampu dimanfaatkan untuk membangun praktik advokasi dari kelompok difabel, baik itu dalam koridor pemerintahan maupun masyarakat agar lebih kuat, terkini dan berbasis pada data (evidence-based), yang tentunya akan memberikan nilai tambah gerakan tersebut di lapangan.

Oleh sebab itulah, peran kunci peneliti bersama penelitiannya memegang porsi penting dalam perjuangan ini. Alokasi sumber daya pemikiran dan tenaga dari kaum akademisi mampu mendobrak situasi yang selama ini diderita oleh kelompok difabel melalui produksi penelitian-penelitian yang berpedoman pada pengarusutamaan inklusif di masyarakat.

 Peneliti memiliki kewajiban moral untuk melaksanakan penelitiannya secara inklusif, dengan kemudian melibatkan kelompok difabel secara aktif sebagai subjek dan objek, target isu yang responsif difabel, produk akhir yang implementatif serta tidak lupa juga tata cara pelaksanaan penelitian yang selalu mengutamakan partisipasi dari kelompok difabel itu ssendiri.

Lalu pertanyaannya lagi, bagaimanakah kemudian cara untuk membangun penelitian tersebut agar inklusif dan berkelanjutan bagi kelompok difabel?

University of New South Wales (UNSW) di Sydney Australia, melalui salah satu lembaganya yaitu Disability Innovation Institute sendiri telah mengeluarkan panduan lengkap berkaitan dengan hal ini melalui publikasinya berjudul “doing research inclusively: guidelines for co-producing research with people with disability”. Untuk lebih lengkapnya, guidelines ini dapat dilihat pada

DIIU Doing Research Inclusively-Guidelines (17 pages).pdf

 Panduan yang dirilis tahun 2020 ini memberikan pemahaman bagi kita bahwa kelompok difabel tidak lagi hanya bisa dipandang sebagai partisipan dalam penelitian, tetapi juga berperan sebagai “co-creator of knowledge” dan “co-production of knowledge” dalam penelitian.

 Fungsi co-production disini sendiri dimaknai sebagai upaya kolaborasi dan kerjasama, yang mentransformasi metode penelitian tradisional yang masih memisahkan antara produsen (para peneliti) dengan user (subjek yang diteliti) kepada partisipasi kolektif antar kedua belah pihak dalam memproduksi pengetahuan di lapangan. Adapun aspek-aspek yang harus dipahami peneliti dalam menjalankan penelitian yang inklusif difabel adalah untuk memindai faktor-faktor instrumental guna mendukung berjalannya penelitian berbasis co-production research, meliputi aspek power-sharing, diversity, accessibility, reciprocity dan flexibility serta transparency.   

 

POWER-SHARING

Projek penelitian yang baik sudah sepatutnya dibangun atas dasar tanggung jawab bersama dan rasa kepemilikan kolektif untuk mendukung kesuksesaan dari penelitian. Thus, penting untuk menjamin wewenang yang dimiliki oleh difabel dalam proses penelitian dapat terdistribusikan secara adil dan merata. Difabel memiliki kapabilitas untuk terlibat dan berperan dalam proses decision-making yang melibatkan kepentingan mereka, dan kontribusi mereka dalam penelitian secara fair.  

DIVERSITY

Menjalankan penelitian yang inklusif bukan hanya berarti mengisinya dengan berbagai ragam individu dari latar belakang yang berbeda-beda, namun juga memberikan ruang bagi insan-insan di dalamnya untuk berkontribusi melalui perspektif, aspirasi dan keahlian mereka masing-masing. Menyadari keberagaman yang dimiliki oleh kelompok difabel yang bersifat multilayer, alias berlapis-lapis akan membantu peneliti untuk mampu menerima input yang beragam sebagai pertimbangan dalam menjalankan sebuah penelitian inklusif.   

ACCESSIBILITY

Penelitian yang inklusif tidak akan mampu tercapai tanpa adanya aksesibilitas yang memadai. Oleh karenanya, aksesibilitas yang mumpuni menjadi sebuah keharusan dalam menjalankan penelitian yang inklusif. Hal ini terkait penyediaan akomodasi fisik seperti instrumen penelitian, tempat penelitian hingga akomodasi penelitian yang aksesibel, hingga aksesibilitas nonfisik berupa penyediaan informasi yang diberikan dengan cara yang baik kepada subjek difabel.    

RECIPROCITY

Dalam sebuah penelitian, semua pihak yang terlibat wajib merasakan manfaat dari penelitian yang dijalankan. Kelompok difabel sebagai partisipan aktif dalam penelitian pun harus mendapatkan timbal balik yang setimpal atas tenaga, waktu hingga sumber daya yang telah mereka alokasikan selama durasi penelitian berlangsung. Manfaat ini dapat bersifat dua arah, bisa berupa relasi yang terbangun antara para peneliti dengan para difabel, platform networking, transfer nilai hingga komitmen bersama atas tujuan kolektif dari penelitian tersebut.

FLEXIBILITY

Setiap jenis penelitian yang berlandaskan pada sistem co-production research akan memiliki tuntutan dan konteks yang berbeda-beda di lapangan. Thus, program penelitian inklusif harus mampu mengatasi tuntutan dan perubahan konteks tersebut secara fleksibel dan adaktif di lapangan. Fleksibilitas ini diperlukan karena kemampuan dan kebutuhan dari ragam jenis difabel itu sendiri berbeda-beda. Kemampuan difabel pembelajaran, difabel mental ataupun difabel autis tentu tidaklah sama dalam partisipasi mereka pada proses penelitian yang berlangsung ketimbang kemudian difabel nonintelektual.

TRANSPARENCY

Transparansi dalam penelitian adalah hal yang sangat krusial. Kelompok difabel sebagai subjek dan objek dalam sebuah penelitian wajib mengetahui secara penuh konteks dan tujuan penelitian, scope penelitian, peran mereka dalam penelitian hingga outcome yang nantinya akan tercipta di masyarakat ketika penelitian tersebut telah selesai.

 Dengan membangun komunikasi baik sebelum, selama maupun setelah penelitian dilaksanakan, kelompok difabel bersama dengan para peneliti yang terlibat akan mampu membangun rasa kepercayaan antar satu sama lainnya, yang kemudian akan sangat penting untuk menentukan berhasil atau tidaknya proses penelitian tersebut di lapangan.[]

 

Penulis: Made Wikandana

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.