Lompat ke isi utama
sebuah tulisan "10,65% penyandang disabilitas di Indonesia"

Literasi Inklusif untuk Semua

Solider.id – Inklusi merupakan sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang terbuka. Artinya mengajak dan mengikutsertakan semua lapisan masyarakat dengan berbagai perbedaan latar belakang, kondisi, etnik, budaya, dan juga kompetensinya. Hal ini diangkat dalam webinar dengan tema literasi inklusi yang merupakan bagian dari festival literasi Indonesia 2020, Jumat (4/9).

Marthella Sirait founder dari konekin menjelaskan tidak semua difabilitas terekspose, hanya difabel tertentu yang sering terekspose yaitu difabel memakai kursi roda, Tuli, dan netra, padahal spektrum difabilitas sangat luas. Ia menunjukkan data dari Badan Pengamat Statistik (BPS) Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) bahwa ada 10,65 % didfabel di Indonesia, dan itu bukan jumlah yang kecil, peduli terhadap difabel berarti peduli terhadap 10,65% populasi di Indonesia.

“Berbicara tentang inklusif, yaitu harus melibatkan semuanya, atau dalam tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu tidak ada satupun yang tertinggal artinya semua kelompok tidak ada yang tertinggal dalam proses pembangunan,” ucap Marthela

Prinsip pembangunan inklusif ada 3, yang pertama aksesibilitas dengan menerapkan universal design dimana bisa di aksees oleh semua kalangan masyarakat, yang kedua partisipasi yang memberikan semua orang bisa bersuara, menyampaikan pendapatnya, dan punya tempat di ruang publik, kemudian yang ketiga nondiskriminasi yaitu tidak membeda-bedakan difabel hanya dengan kondisinya yang terbatas.

“Isu difabilitas bukan hanya milik difabelnya atau organisasinya, tetapi persoalan kita bersama sebagai manusia. Harusnya tidak ada pemisah anatara difabilitas dan nondifabilitas, mulailah berinteraksi,” ungkapnya

Berbicara tentang literasi inklusif, ia mengatakan tidak hanya bersifat textbook atau buku, namun juga bisa membaca dan mendengarkan melalui media sosial.

“Jadi sebenarnya ini hanya permasalahan alat advokasinya saja, substansinya sama, konekin membuat dengan cara berbeda. Sebenarnya isu difabilitas bukan isu yang berat atau pemerintahan banget, tapi isu difabilitas bisa menjadi obrolan keseharian, ini konekin sedang membuat formulanya, agar semua orang ketika membahas difabilitas tidak canggung,” jelasnya

Debby Lukito founder yayasan Kanaditya menjelaskan litersi inklusi bersifat universal tanpa melihat adanya perbedaan dan semua orang mempunyai hak yang sama untuk menuju kualitas hidup yang ideal pada khusunya, serta menjadi Negara yang bermartabat pada umumnya.

“Kami fokus pada literasi kuliner dan literasi ekologi, dan semua itu saling berkaitan, misalnya kami mengadakan kegiatan rutin di pasar, dan di pusat layanan autis. Kelas literasi kuliner dan ekologi ini, kami juga adakan di lapas untuk warga binaan pemasyarakatan di lapas perempuan di Bali,” kata Debby

Ia memaparkan dalam menerapkan literasi inklusi, Kanaditya melakukan beberapa hal yaitu melakukan riset sederhana dengan memahami apa yang dibutuhkan mereka dan memahami karakter individu serta tempat yang menjadi binaan, kemudian merancang program sesuai dengan kebutuhannya, juga membuat program jangka panjang dan pendek serta memiliki output yang nyata, lalu mencari pengajar yang mumpuni, mengatur jadwal sesuai lokasi, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.[]

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.