Lompat ke isi utama

Mengubah Stigma dengan Karya, Mengubah Belaskasih dengan Berdaya

Solider.id, Surakarta- Di Indonesia, hanya ada 18% saja anak difabel yang mendapatkan kecakapan hidup dengan bersekolah baik di SLB dan sekolah reguler (Inklusi). Dan baru 1,2% saja dari total tenaga kerja difabel yang bisa diterima. Sebenarnya kita telah memiliki payung hukum yakni di Undang-Undang nomor 8 tahun 2016, dan masih punya peluang besar mengubah paradigma dari charity kepada profesional base. Demikian dikatakan oleh Nanang Chanan dari UNICEF pada Webinar yang diselenggarakan oleh Setara, DP3AP2KB, Berjarak, Unicef dan Rumah D yang bertema tentang kecakapan hidup mengubah pengalaman hidup menjadi kemampuan daya juang dan keuletan untuk difabel netra ala Adi Gunawan Institut, akhir bulan silam.

Seperti yang disampaikan oleh Ahmad Shihab, difabel netra siswa SMP Al Azhar Kota Batu. Ia sejak duduk di SD Muhammadiyah belajar menghafal alqur’an. Saat di SMP ia juga belajar hafalan di Pondok Radhatul Qur’an dan menambah hafalan dengan ayahnya. Ahmad pernah mengaji di pembukaan pengajian di Trans TV dan TV One dan pernah menjadi peserta MTQ termuda. Ia merasa, ketika kemudian berkenalan dengan Adi Gunawan Institut, wawasannya lebih luas karena diajari membaca huruf braille. Ahmad juga bisa belajar lebih fokus, sesuatu yang sebelumnya sangat sulit ia lakukan. Ia memiliki guru lain, Try Febri Khoirun yang mengajaknya keluar rumah, menjajal aksesibilitas layanan publik sehingga bisa mandiri. Ahmad memgaku sebelum mengenal laki-laki yang biasa ia sapa dengan Mas Irul, ia tidak bisa apa-apa, dan semua harus dilayani oleh orangtua.

Try Febri Khoirun adalah alumi Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Malang dan alumni English Language Training Asistance (ELTA) Bali. Pertama kali ia belajar berorganisasi saat duduk di bangku kelas 3 SMA lewat Pertuni. Saat kuliah, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebab menurutnya advokasi harus dilakukan dengan berkesinambungan. Di semester 6 dulu ia terjun menjadi fasilitator pengurangan risiko bencana. Termasuk juga memfasilitasi di USAID di isu ketenagakerjaan difabel dan di Adi Gunawan Institut sebagai pengajar senior. Akhir-akhir ini ia bergiat di pengurangan risiko bencana. Ia biasa membuat jadwal atau catatan pada malam hari untuk hari berikutnya. Dan harapannya kawan-kawan netra harus bangkit untuk mewujudkan cita-cita.

 

Apa yang Dilakukan Adi Gunawan Institut?

Adi Gunawan, founder Adi Gunawan Institut dalam webinar menyatakan bahwa institusinya memberikan pelatihan komputer bicara bagi difabel netra yang sebagian besar tidak memiliki laptop sendiri. Mereka memiliki kursus dan pendampingan pada netra, karena ada permintaan dari teman netra dan keluarga karena mereka menginginkan pendampingan secara intensif. “Akhirnya kita mengetahui kebutuhan masing-masing karena mereka bicara, kemudian ada program konsen bicara dan aplikasi bicara,”terang Adi Gunawan. Informasi yang tadinya kawan-kawan netra tidak ketahui sebelumnya akhirnya mereka ketahui.

Selain itu ada kursus braille khusus anak-anak netra pasca lahir atau setelah dewasa. Kursus orientasi dan mobilitas, kursus pengembangan diri dan karakter. Salah satunya adalah Ahmad Shihab yang kemudian bisa belajar huruf braille. Institut ini juga menangani difabel setelah dewasa contoh : Irfan Bagus, yang diajarkan braille dengan metode khusus. Mereka juga melatih mapping, kelas mengajarkan mandiri dan karakter yang memiliki sopan santun dan etika, juga kualitas, serta profesionalisme.

Di Adi Gunawan Institut juga ada yang mengalami kondisi kenetraan setelah dewasa (netra baru). Mereka memberikan pendampingan secara khusus agar lebih cepat beradaptasi, kemudian bagi netra yang masih sekolah agar mereka diperisapkan mengikuti pendidikan reguler (inklusif). Hal ini juga meningkatkan kepercayaan diri mereka agar bertumbuh sehat dan kuat. Institut ini juga mendorong agar mereka bersekolah di sekolah inklusif, termasuk menyiapkan teknologi bantu. Terkait pendampingan dan layanan konseling bagi keluarga yang memiliki anak-anak netra, mereka  memberikan layanan bagaimana mereka bisa mendampingi anak-anak mereka. Program karya berupa pelatihan bagi instruktur bagi  difabel yang lain, juga instruktur bagi pelajaran braile. Dan bagi yang bertalenta musik, dengan memfasilitasi bagi teman netra di Malang untuk mewadahi aspirasi yang selama ini mengalami hambatan dengan membentuk AGI Band, karena tidak semua tempat memberi kesempatan bagi teman netra untuk mewadahi mereka.

Ada sebuah penandasan yang disampaikan oleh Noviana Dibyantari dalam menutup webinar yang dimoderatori oleh Irfan Bagus tersebut. Ia menyatakan bahwa istilah “penerima manfaat’ sebaiknya sudah tidak digunakan sebab saat ini dalam pergerakan difabilitas, difabel bukan lagi ditempatkan sebagai objek namun subjek. Noviana juga menggarisbawahi webinar dengan sebuah kalimat motivasi untuk mengajak difabel untuk melawan stigma dengan karya, melawan rasa rendah diri dengan dolan (bermain di luar) dan tuntutan peran difabel dalam memberi masukan, baik dari orangtua, guru dan difabelnya sendiri agar arah kebijakan pemerintah sinkron dan setara.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.