Lompat ke isi utama
gambar diskusi online atmajaya

Ketercukupan Difabel dalam Mengakses Informasi Covid

Solider.id – Ketercukupan dalam mengakses informasi Covid-19 akan memberikan info terbaru tentang pandemi ini, namun tak semua orang dapat mengakses informasi terbaru tentang covid-19. Difabel yang termasuk dalam kelompok paling beresiko terkena imbasnya, selain karena pandemi juga akses informasi.

Tidak semua difabel bisa mengakses informasi yang disajikan oleh media, seperti halnya dikatakan oleh Ajiwan Arief Hendradi, pimpinan redaksi media solider.id yang menjelaskan bahwa beberapa informasi yang media sajikan hanya dapat dinikmati oleh para difabel yang tidak mempunyai hambatan komunikasi.

“Seperti difabel netra yang terhambat dalam mengakses informasi tarkait Covid-19, dan teman-teman Tuli. Selama ini media yang gencar memberitakan covid belum sepenuhnya bisa diakses difabel, misalnya difabel di daerah yang tidak semuanya mempunyai gawai dalam mengakses internet atau beberapa difabel yang mengakses televisi namun tidak sesuai konteks di daerahnya,” ucap Ajiwan

Menurut WHO, difabel merupakan kelompok yang sangat rentan terpapar oleh Covid-19. Dalam hal ini, banyak media arus utama belum membahas atau menginformasikan tentang rentannya difabel terhadap pandemi ini.

“Kami dari solider.id sejak bulan Maret berusaha menyajikan konten tentang Covid dan difabel, beragam konten tersebut meliputi edukasi dan informasi, tips dan trik terhindar dari Covid bagi difabel, dampak pandemi bagi difabel yang bersumber cerita dari berbagai daerah, dan kreativitas difabel hadapi pandemi,” ujarnya

Dalam melawan Covid-19, solider.id juga berjejaring dengan komunitas media lainnya. Karena fakta di lapangan banyak teman-teman difabel yang tinggal di pedesaan dan tidak terjangkau oleh informasi tentang Covid, maka Sigab mencoba memproduksi media edukasi untuk jangkau yang tidak terjangkau.

“Sigab dan solider.id mencoba jangkau mereka dengan berbagai media dan informasi Covid, untuk itu kami melakukan strategi yang berbeda yaitu membuat media dengan benttuk dan bahasa yang sederhana. Agar bissa tercukupi informasinya, kami mermbuat Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang mudah dipahami dan mudah dijangkau dengan membuat kalender dinding karena dengan membuat ini cukup fleksibel yang setiap saat digunakan oleh semua orang, yang menggunakan huruf Braille, high  kontras yang mudah dijangkau oleh teman-teman low vision, dari segi bahasa menggunakan bahasa yang sederhana agar teman-teman Tuli dan intelektual dapat memahaminya, dan juga menggunakan bahasa jawa agar teman-teman di pedesaan lebih mengerti,” kata Ajiwan

Ketercukupan informasi tidak hanya melalui media online atau cetak, seperti yang dilakukan oleh ketua Lingkar Sosial (Linksos), Ken Kertaningtyas yang bergerak mengadakan workshop untuk membuat Alat Pelindung Diri (APD).

“Selain itu kami juga membuka kesempatan kerja bagi teman-teman difabel, meskipun tidak semua teman yang mau karena masih merasa takut saat kami membawa bahan untuk dikerjakan dalam membuat masker dan APD, dan takut untuk keluar rumah, karena kebutuhan ekonomi akhirnya mereka mau keluar rumah,” tukas Ken

Ken juga melakukan sosialisasi tentang Covid, terutama pada difabel intelektual yang belum bisa memahami secara cepat apa yang diinformasikan di media.

“Agar difabel intelektual memahami apa yang disampaikan, kita harus menyampaikan secara berulang. Kami juga meyakinkan pada anak-anak muda difabel bahwa berdiam diri di rumah atau terus menerus mengamati perkembangan di media itu juga bukan hal yang bagus, jadi kita menggencarkan kegiatan longmarch ke bukit, sungai, air terjun, gunung, untuk meningkatkan imunitas mereka,” tandasnya

Menurut dewan pers, ketercukupan informasi difabilitas masih rendah. Shinta maharani ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta menjelaskan difabel perlu mendapatkan perhatian yang lebih di media massa, untuk mendorong Pemerintah punya perhatian pada difabilitas.

“Realita di lapangan bahwa difabilitas yang masih belajar terutama siswi masih mengalami kesulitan, seperti saat saya liputan di Desa Wukirsari, Bantul, siswi difabilitas masih kesulitan dengan sistem pembelajaran jarak jauh dan wajib menggunakan perangkat ponsel atau laptop, sinyal yang tidak mendukung karena rumahnya terletak di perbukitan, karena siswi ini tidak mempunyai ponsel jadi ia harus menunggu ayahnya yang bekerja sebagai loper daging untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah,” tutur Shinta

Difabilitas intelektual paling rentan dalam pembelajaran selama pandemi. Menurut guru sekolah luar biasa Marsudi Putra I Bantul, dari 91 siswa mengeluh kesulitan belajar jarak jauh dan perlu tatap muka dengan guru pendamping agar guru mengetahui perkembangan dan kebutuhan siswa.

“Dari riset suara difabilitas, dari 128 anak difabilitas sebanyak 67,9 % kesulitan mengikuti pembelajaran metode online sehingga dampaknya mereka belajar mandiri dan ada juga yang tidak belajar sama sekali,” ujarnya

AJI sebagai organisasi profesi jurnalis mempunyai visi misi memperjuangkan hak publik untuk mendapatkan informasi, mengembangkan demokrasi dan keberagaman, jadi teman-teman difabilitas juga penting untuk mendapatkan informasi di masa pandemi ini. ketika teman-teman minoritas atau marginal tidak bisa mengakses informasi, berarti masih ada persoalan ketika pers tidak menjalankan fungsinya dengan baik, dan media tidak memberi ruang yang cukup untuk difabilitas berarti menghalangi segala informasi yang berkaitan dengan covid.

“Peran AJI Yogya mendorong para jurnalis di media massa baik dari arus utama, jurnalis warga, dan media advokasi difabel, hak atas penyediaan aksesibilitas yang tercantum dalam UU nomor 8 tahun 2016, mendorong kawan-kawan jurnalis banyak memberitakan tentang persoalan struktural bagaimana Pemerintah apaakah sudah memenuhi hak-hak mendasar teman-teman difabel untuk Covid ini jadi tidak hanya memberitakan tentang kisah inspiratif, dan juga mendorong berita difabel ke dalam media arus utama dengan memberikan porsi yang lebih dalam pemberitaannya agar Pemerintah sebagai pengambil kebijakan memperhatikan teman-teman difabel, lalu membangun jaringan dengan kelompok masyarakat sipil yang fokus pada difabilitas,” jelasnya.[]

 

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.