Lompat ke isi utama

Gimana Rasanya; Pengalaman Difabel Netra Lakukan Perjalanan Udara saat Pandemi

Solider.id - Bepergian adalah hak semua orang, termasuk difabel. Lalu apa jadinya ketika seorang difabel hendak bepergian keluar kota? Apakah mereka harus selalu didampingi? Dan apakah mereka tidak akan dipersulit ketika hendak bepergian, terlebih lagi bila menggunakan pesawat?

Saya sebagai difabel penglihatan akan berbagi pengalaman ketika hendak bepergian menggunakan pesawat dan tidak ada  keluarga atau teman yang mendampingi.

***Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Sabtu, 22 Agustus 2020, saya hendak kembali ke Malang untuk menyelesaikan urusan perkuliahan, maka dari itu saya harus melakukan rapid test terlebih dahulu (baca : Curhatan Seorang Difabel Ketika Melakukan Rapid Test di Kota Kendari https://www.solider.id/baca/6216-curhatan-seorang-difabel-melakukan-rapid-test-kendari). Kelengkapan dokumen-dokumen untuk perjalanan pun telah saya selesaikan dibantu keluarga, lalu yang mungkin jadi pertanyaan besar bagi orang-orang yang belum paham tentang difabel adalah, bagaimana sih seorang difabel dapat bepergian sendiri? Dan bagaimanakah sikap petugas maskapai dalam memberikan layanan yang inklusif tanpa harus merasa takut tertular virus COVID-19?  terlebih lagi bila yang akan bepergian adalah difabel pengelihatan. Namun melalui tulisan ini, saya ingin mencoba menghapus kekhawatiran keluarga yang memiliki anak  difabel  dan menepis kekhawatiran para petugas bandara ketika memberikan layanan terhadap difabel netra, serta melawan stigma  orang kebanyakan yang sering melihat difabel hanya dari kacamata ketidakberdayaannya. Difabel bepergian sendiri itu bukanlah hal yang mustahil, dan bukanlah hal yang berbahaya, karena pada hakikatnya semua orang butuh bergerak dan butuh untuk mengeskpresikan diri, serta butuh diapresiasi.

Sore itu, saya ditemani bapak, dan kedua adik saya menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Sesampainya di bandara, bapak segera menemui salah satu petugas maskapai yang kebetulan juga   masih memiliki hubungan keluarga dengan kami. Lalu bapak meminta yang bersangkutan  untuk mengurusi perjalanan saya menuju bandara Juanda Surabaya. Singkat cerita, dituntunlah saya ke jalur penumpang untuk memeriksakan barang yang akan dibawa sendiri dan  yang akan dibagasikan.

Lalu, petugas menanyakan hasil rapid test,  saya pun menyerahkan hasil rapid tersebut, kemudian  petugas menyatakan bahwa data yang saya miliki belum diverifikasi. Keluarga yang juga petugas maskapai itu pun meminta saya untuk menunggu, sembari ia membantu untuk  memverifikasi data-data saya. Sebenarnya, andai saja saya tadi telah mengisi data secara online melalui aplikasi eHAC Indonesia  (aplikasi dari Kementerian Kesehatan RI) yang dapat diunduh dari Play Store, maka hal ini tidak akan  membuat saya harus menunggu proses verifikasi data tersebut yang harus ditulis secara manual. Untunglah, saya tidak harus terus-terusan berdiri menunggu verifikasi data tersebut, sebab tidak lama kemudian petugas maskapai membawa saya ke sebuah ruangan yang sepertinya memang diperuntukkan bagi orang-orang yang berkebutuhan khusus, seperti difabel, anak-anak, dan lansia.

Petugas yang membantu saya mengisi data untuk diverfikasi, menanyakan beberapa hal, antara lain : nama lengkap, usia, dan nomor telepon.

 Tidak lama berselang, usai melengkapi verifikasi data untuk penerbangan, petugas maskapai pun memanggil saya untuk menuju ruang tunggu. Dari sini mungkin ada pertanyaan di benak para pembaca, “apakah petugas maskapai tidak takut tertular COVID bila menuntun difabel netra? Karena netra kan harus digandeng dan pastinya harus ada kontak antara petugas bandara dengan difabel netra itu.” 

Jawabannya adalah, tidak. Sebab saya sebagai difabel netra juga selalu mengindahkan protokol kesehatan yang digaungkan oleh  Pemerintah. Seperti memakai masker, mencuci tangan, dan utamanya melakukan rapid test sebelum melakukan perjalanan. Dari sinilah saya ingin para pembaca memahami bahwa, difabel netra yang sering bepergian pastilah akan menjaga dirinya dan orang-orang di sekitarnya agar tidak menjadi pembawa virus . Jadi, bagi siapapun, utamanya para petugas perjalanan, seperti pihak maskapai dan pihak travel, jangan pernah takut menggandeng difabel netra, sebab difabel netra dengan difabilitas yang disandangnya  juga mempunyai kesadaran penuh akan protokol kesehatan yang berlaku. So, jangan takut dan khawatir lagi ya.  

Sembari menunggu untuk diantarkan ke atas pesawat, saya membuka gawai dan membaca beberapa berita, paling tidak, dengan begitu, saya tidak merasa bosan untuk menunggu. Tak disangka, ada seorang perempuan yang menyapa saya, dan saya pun mencoba mengenali suaranya. Ternyata ia adalah teman sekolah saya sewaktu di SDLB dulu. Kamipun berbincang sebentar, dan tak lama kemudian  pesawat yang akan  saya tumpangi  segera berangkat. Sayapun berpamitan kepada teman tersebut, dan menuju pesawat.

Pada saat diantarkan menuju pesawat, saya tidak harus menggunakan bis atau berjalan kaki  seperti penumpang lainnya, karena ternyata telah disediakan mobil untuk mengantar orang-orang yang berkebutuhan khusus seperti  saya,  dan inilah salah satu hal yang harus  diapresiasi, karena terkadang petugas maskapai menyediakan mobil khusus untuk mengantarkan difabel atau orang-orang berkebutuhan khusus  menuju pesawat. Naiklah saya ke atas pesawat ditemani petugas maskapai, dan setelah di pesawat, ada crew pesawat yang membantu saya, dan menjelaskan bahwa bila membutuhkan bantuan, dapat menekan tombol yang berada di atas tempat duduk

Kurang lebih, perjalanan Makassar-Surabaya ditempuh dalam waktu  1 jam dan 30 menit. Sesampainya di Bandara Juanda, crew pesawat memberitahukan bahwa saya disarankan turun belakangan  setelah penumpang  lain turun.

Untuk tidak menghalangi orang yang duduk di sebelah saya, maka crew pesawat menyarankan saya pindah duduk di bagian depan. Sambil  mengamati keadaan penumpang yang semakin  sepi, saya beranggapan  mungkin mereka semua telah turun.

Melihat kondisi pesawat yang telah sepi,  Petugas maskapai  pun menjemput saya, lalu menuntun saya menaiki bis yang akan mengantarkan kami ke ruang Bandara. Setelah turun dari bis, ternyata bukan hanya saya yang dituntun oleh petugas maskapai tersebut, ada juga seorang ibu pengguna kursi roda. Jadi, saya memegangi pundak si petugas, sambil ia mendorong kursi roda. Saya berpikir, apakah tak ada petugas lain yang bisa membantu kami, sehingga hanya ada satu petugas yang membantu dua orang yang butuh pendampingan?

Karena hanya ada satu petugas yang membantu kami, sehingga petugas tersebut membantu ibu pengguna kursi roda terlebih dahulu untuk  mengambilkan bagasinya, setelah itu baru bisa membantu saya.

 Melalui cerita  ini, saya mengusulkan kepada seluruh maskapai, agar  lebih tanggap lagi akan kebutuhan seluruh penumpang, terutama penumpang berkebutuhan khusus, dan jangan pernah takut melakukan kontak dengan mereka yang difabel.

Regulasi Difabel dalam Penerebangan

Pelayanan difabel dalam penerbangan memang sudah ada. Regulasi tersebut mencakup regulasi secara Internasional dan Nasional. Dilansir dari difabel.tempo.co, dinyatakan bahwa  Peraturan International Air Transport Aviation atau IATA dan beberapa peraturan perundang-undangan Indonesia memiliki aturan berbeda untuk penumpang berkebutuhan khusus dengan penumpang sakit. Salah satu peraturan teknis dari Menteri Perhubungan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 185 Tahun 2015 membagi kategori penumpang berkebutuhan khusus dalam lima kelompok.

Pertama adalah kelompok anak usia di bawah 12 tahun; kedua, orang lanjut usia atau manula; ketiga, ibu hamil; keempat, orang sakit; dan kelima, dfiabel. "Jadi, difabel bukan orang sakit dan tidak boleh dianggap sama dengan orang sakit. Kebutuhan difabel berbeda dari kebutuhan orang sakit, sehingga pelayanan dan fasilitas yang disediakan juga berbeda," ujar pemerhati penerbangan Alvin Lie dalam bukunya yang berjudul 'Panduan Fasilitas dan Prosedur Pelayanan Angkutan Udara Bagi Penumpang Berkebutuhan Khusus' (https://difabel.tempo.co/read/1239863/difabel-naik-pesawat-beda-dengan-…).

Harapan saya adalah satu petugas mendampingi satu orang yang berkebutuhan khusus, sehingga orang-orang yang memiliki pendampingan khusus tersebut bisa merasa lebih nyaman dan kontak antar petugas dengan penumpang berkebutuhan khusus lebih bisa diminimalisir. Selain itu, petugas yang membantu    tidak begitu kerepotan. Semoga dari cerita saya ini, tak ada lagi orang tua yang khawatir bila anaknya yang difabel hendak bepergian sendiri dengan pesawat, dan petugas maskapai di seluruh Indonesia semakin memperbaiki pelayanannya, terutama bagi orang-orang yang berkebutuhan khusus, serta tidak ada lagi kekahwatiran akan tertular virus bila petugas maskapai membantu mereka yang difabel, sebab difabel juga memiliki kesadaran penuh akan protokol kesehatan yang berlaku.

Semoga apa yang saya bagikan ini dapat membuktikan bahwa, difabel juga bisa bergerak dan bepergian sendiri  tanpa batas untuk berjalan-jalan ke seluruh penjuru negeri. Keberanian dan pembuktian yang  tertoreh ini   adalah hasil wejangan bapak yang selalu saya coba ejawantahkan dalam hidup, ‘nak, kau harus berdiri di atas kakimu sendiri, tanpaa bergantung pada orang lain’.[]

 

Reporter: Andi Zulfajrin Syam

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.