Lompat ke isi utama
tangkapan layara streaming sosialisasi perspeiktif media disabilits

Dewan Pers Bahas hak Informasi Difabel di Media

Solider.id – Mengakses informasi adalah hak seluruh manusia termasuk difabel. Dalam regulasi sudah tercantum pada Undang-Undang No.  8 tahun 2016 dimana Pemerintah telah menjamin difabel dalam mengakses informasi. Dewan pers selaku lembaga independent di Indonesia  untuk mengembangkan dan melindungi kehidupan pers Indonesia mengadakan seminar tentang edukasi hak difabel di media, Senin (31/8).

Ketua dewan pers, Mohammad Nuh memaparkan bahwa media mempunyai tugas mulia untuk memenuhi janji kemerdekaan, khususnya bagi masyarakat berkebutuhan khusus yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah artinya siapapun orang yang berada di Indonesia harus diberikan perlindungan, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia.

“Tugas kita mencarikan dan menyiapkan policy yang complied yang sesuai dengan siapa rakyat bangsa Indonesia itu, jadi tidak boleh memakai status standar semuanya namun harus ada policy yang spesifik,” ucapnya

Informasi adalah bagian dari hak asasi hidup manusia, dari itu kita bisa memberikan edukasi dan kesadaran pada publik untuk terus bersama-sama dengan saudara-saudara yang memerlukan layanan khusus dan policy secara khusus yang berkaitan dengan media

“Selama ini kita memakai bahasa isyarat, saya kira itu sudah baik namun belum cukup, karena bahasa isyarat sangat bergantung pada dia menonton televisi atau tidak, tapi ketika melihat media cetak pasti dia akan ada hambatan disitu karena tidak ada fasilitas membaca yang terkait di media cetak. Saya sering mengingatkan, tugas media yaitu how to educate to people, how to empowering to people, how to enlightening to people, dan how to entertained to people, yang akhirnya kita bisa membangun kekuatan nasionalis kita,” ujarnya

Cheta Nilawaty wartawati media tempo seorang difabel netra memaparkan bahwa media massa sebagai sumber pembelajaran dalam menuju dunia inklusi, jadi difabel dan nondifabel bersama-sama belajar tentang dunia difabilitas sehingga dunia inklusi dan segregasi berjalan seiringan.

“difabel sensorik mempunyai cara mengakses yang berbeda atas informasi yang disampaikan oleh pers, karena difabel sensorik misalkan netra hanya bisa mengakses informasi melalui suara sementara untuk teman-teman Tuli mengakses informasi hanya melalui visual, nah coba bayangkan bagaimana merasakan mengakses informasi seperti itu, dalam realita bisa kita rasakan ketika kita mendengarkan radio atau melihat televisi tanpa suara,” kata Cheta

Di pasal 5 Dalam UU No. 8 tahun 2016 telah menjamin hak-hak difabel dalam mengakses informasi yang berbunyi hak untuk aksesibilitas, pelayanan publik, hak untuk berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Di pasal 9 UNCRPD juga mengatur tentang hak difabel untuk mendapatkan informasi.

“Misalkan teman-teman pers sudah menyajikan informasi dengan lengkap, namun secara aksesibilitas tidak dapat diakses teman-teman difabel maka informasi yang disampaikan tidak akan sampai. Jadi saya berharap dunia pers dan difabilitas dapat saling bersinergi untuk menerapkan desain universal di berbagai aspek kehidupan, tidak hanya fasilitas bangunan tetapi juga cara atau alat-alat untuk mengakses informasi, karena dengan menerapkan akses desain universal akan memudahkan difabel menerima informasi serta menerapkan inklusifitas,” tuturnya

Ia menerangkan beberapa kebutuhan dalam penyajian informasi untuk difabel netra dan Tuli saat mengakses informasi.

“Untuk difabel netra, adanya pembaca layar untuk membaca situs-situs web atau hal-hal yang berkaitan dengan narator atau audio descriptor, tidak semua media menyajikan hal ini dan itu yang pertama harus disediakan. Dan ini membatasi difabel netra untuk membaca situs-situs berita tertentu yang hanya akses saja, dan otomatis tingkat keteraksesan menjadi rendah,” tukasnya

Pop-up iklan juga harus diperhatikan  media online, karena pop-up iklan yang keluar secara tiba-tiba suaranya akan bercampur pada konten yang disajikan, dan bahkan menutupi isi konten berita tersebut, dan ini harus diperhatikan letak aksesibilitas dari pop-up tersebut.

“Untuk difabel Tuli yang menggunakan visualnya dalam menangkap berita, sekarang ini bahasa isyarat yang digumakan untuk acara formal atau kenegaraan adalah SIBI. Beberapa waktu lalu teman-teman difabel menyampaikan aspirasi pada saya bahwa sebaiknya yang digunakan BISINDO, karena mereka sudah meminta aspirasi itu dari tahun 1975, namun masih SIBI yang digunakan, karena BISINDO lahir dari bahasa ibu mereka dan akar katanya dari bahasa Indonesia serta lebih umum dan lebih universal untuk diekspresikan bahkan lebih mudah dimengerti. Sementara SIBI lebih digunakan di acara formal atau sekolahan tetapi tidak semua teman-teman Tuli terakses di dunia pendidikan. Saya juga sudah menyampaikan ke situs-situs difabel bahwa ini juga penting untuk difabel Tuli untuk penggunanaan bahasa isyarat yang berakar pada bahasa ibu mereka bukan pada SIBI yang berakar katanya dari American Sign Languange,” jelasnya.[]

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.