Lompat ke isi utama
gambar Amar, salah satu anak Tuli yang peeroleh perhatiani orang tuanya

Cerita Orang Tua Mendidik Anak Tuli, Paham cara Komunikasi adalah Kunci

Solider.id,Yogyakarta  - Seorang anak terlihat berlari-lari kesana kemari di salah satu sudut perumahan Ndalem Kalegan Kaliurang. Raut wajahnya tampak riang gembira ketika ia bermain bersama kakak dan adiknya. Namun, tak jarang raut wajah sedih hadir ketika dirinya jatuh akibat terpeleset. Raut wajahnya menjadi media berkomunikasi satu-satunya. Usut punya usut, anak tersebut tak lain adalah Amar Dzulhilmi Abdurahman, putra kedua dari pasangan Adi Puja Kesuma dan Ummi Kholifah yang kini tinggal di Nganglik Sleman.

Ummi Kholifah yang sehari-hari berprofesi sebagai psikolog, menceritakan kisahnya memiliki anak tuli kepada Solider. Ia mengungkapkan bahwa Amar terlahir premature, yang waktu itu lahir di usia kandungan masih tujuh bulan. Berat badannyapun di bawah rata-rata yaitu hanya 1,5 kg dibarengi dengan kondisi paru-parunya yang kurang stabil sehingga harus dipicu dengan sebuah alat sekitar 1,5 bulan.

Kemudian saat umur Amar berusia delapan bulan, dibawalah oleh kedua orang tuanya dari Palembang ke Yogyakarta dalam rangka menyelesaikan pendidikan S2 kedua orang tuanya. Hal janggal mulai muncul ketika usia Amar menginjak satu setengah tahun, yang mana waktu itu belum dapat berbicara sebagaimana anak pada umumnya. Kala itu juga Amar sering mengalami batuk pilek yang mengakibatkan dirinya harus berobat ke dokter THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Berdasarkan hasil diagnosa doker, Amar hanya mengalami speech delay atau keterlambatan bicara yang sebenarnya lazim dialami oleh anak seusianya.

Singkat cerita, saat usia Amar memasuki 20 bulan, kedua orang tuanya berinisiatif untuk mengecek kondisi pendengaran. Saat diperiksa, ternyata Amar sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala merespon. Lalu dokter mendiagnosa bahwa Amar mengalami gangguan pendengaran berat, yang menyebabkan dirinya hanya mampu mendengar suara dengan volume 10 desibel saja. Kemudian dokter menyarankan kepada kedua orang tua Amar untuk menggunakan ABD (alat bantu dengar) untuk menunjang kemampuan pendengarannya agar setara dengan anak pada umumnya. Amar juga harus melakukan sejumlah terapi rutin di rumah sakit.

Mengetahui kondisi Amar saat itu, tentu menjadi kendala baginya ketika akan melanjutkan jenjang kehidupan berikutnya seperti pendidikan dan bersosialisasi. Orang tua Amar tak lantas berkecil hati melihat kondisinya saat itu. Ummi bersama sang suami justru berusaha mencarikan metode pembelajaran yang terbaik sambil rutin bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan terapi pendengaran. Atas kesepakatan dari keduanya, Amar tidak perlu menggunakan ABD. Dengan pertimbangan karena hal itu tidak mengembalikan fungsi pendengaran serta membuat tidak nyaman si anak.

Kesadaran orang tua Amar mulai bertambah saat ibunya mengetahui artis kondang Dewi Yull juga memliki anak tuli bernama Surya Sahetapy. Mengetahui hal tersebut, ibunya mulai tergerak dan mengenal apa itu bahasa isyarat dan budaya tuli. Selain itu, kerabat ibunya yang memiliki anak tuli juga mengaku bahasa isyarat sangat menunjang bagi perkembangan si anak.

Akhirnya, ketika memasuki usia tiga tahun lebih, Amar disekolahkan di salah satu SLB-B khusus tuli di Kabupaten Sleman. Berdasarkan paparan dari ibunya, sekolah sangat membantu bagi Amar untuk dapat melatih fokus dan belajar bahasa verbal. Sayangnya, memang pihak sekolah belum mengajarkan bahasa isyarat yang tanpa disadari merupakan bahasa alami tuli dalam berkomunikasi.

“Selain menyekolahkan, kami juga mulai sering mengikuti berbagai macam seminar ataupun kegiatan-kegiatan yang bertemakan anak tuli. Hal terpenting yang harus dimiliki oleh orang tua anak tuli adalah rasa penerimaan terlebih dahulu terkait keadaan si anak. Orang tua juga harus percaya bahwa setiap anak memiliki bakat dan potensi mereka masing-masing, terlepas dari mereka difabel ataupun tidak. Serta menyadari tugas utama orang tua adalah untuk memfasilitasi dan mengembangkan bakat sesuai dengan kebutuhan si anak.” ungkap wanita dengan sapaan Ummi itu.

Selain itu, Ummi bersama sang suami juga turut tergabung dalam keluarga bisindo yang  merupakan organisasi tuli. Menurutnya, suatu hal yang penting bagi orang tua anak tuli untuk bergabung dalam organisasi atau komunitas tuli agar dapat saling menguatkan, bertukar informasi seputar parenting, serta bersinergi bersama tuli lainnya. Hal itu demi menunjang perkembangan dan masa depan si anak.

Hal-hal itulah yang kemudian mendorong Ummi untuk mendatangkan seorang guru tuli dari muntilan bernama Ruqi Al Hazmi, guna mengajarkan bahasa isyarat selama dua kali dalam seminggu. Tak hanya Amar saja, ia bersama suami juga turut belajar bahasa isyarat yang kini telah selesai menempuh level 1 dasar.

“Harapannya agar tidak hanya Amar saja yang terlatih menggunakan bahasa isyarat. Namun kami sebagai orang tua juga mampu untuk berbahasa isyarat sehingga akan memudahkan dalam komunikasi antara kami dengan Amar. Hal itu juga harus diimbangi dengan mengajarkan bahasa oral juga untuk menunjang kemampuan isyaratnya,” urainya.

Terakhir, Ummi mengingatkan kepada seluruh orang tua anak tuli untuk memberi kebebasan dan mengajak si anak untuk bersosialisasi dengan dunia luar, dalam hal ini adalah teman-teman sebaya si anak. Hal itu agar nantinya mereka lebih siap untuk bersosialisasi dengan sesama dan menumbuhkan kepercayaan dalam diri si anak.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.