Lompat ke isi utama

Silang: Memperkenalkan Budaya Tuli Melalui Diskusi

Solider.id - Minggu 23 Agustus 2020, Silang menyelenggarakan diskusi yang berjudul “Merdeka dari Keterbatasan”. Silang adalah Startup yang memiliki focus untuk menyediakan pembelajaran Bahasa isyarat.

 Bagja Prawira, co-founder sekaligus Chief Operating Officer Silang, hadir sebagai pembicara pada diskusi yang digelar melalui platform Zoom. Bagja menjelaskan mengenai perbedaan Tuli dan tuna rungu.

  Menurut Bagja, Tuli adalah istilah yang lahir dari kajian social budaya. Sementara, tuna rungu merupakan istilah yang berasal dari perspektif medis.

 Bagja menjelaskan lebih lanjut, penyebutan istilah Tuli ini, berdasarkan literature telah memenuhi unsur-unsur yang diperlukan dalam membentuk suatu budaya. Unsur-unsur yang membentuk budaya, yaitu norma, tradisi, perilaku, Bahasa, dan nilai. Sebagai contoh, tradisi kelompok Tuli sejak dulu berkomunikasi dengan Bahasa isyarat. Bahasa isyarat yang digunakan pun adalah Bisindo, karena Bisindo merupakan Bahasa yang menjadi tradisi kelompok Tuli.

Kelompok Tuli pun telah sejak lama menggunakan istilah Tuli untuk menyebut dirinya sendiri. Sedangkan, tuna rungu merupakan istilah yang diciptakan oleh orang dengar. Ditambah lagi, istilah ini ditolak karena mengandung perspektif medis yang cukup kuat.

“istilah tuna rungu sebenarnya berasal dari Bahasa Sansekerta. Tuna berarti rusak, sementara rungu artinya pendengaran.” “artinya tuna rungu adalah orang yang memiliki kerusakan pendengaran”. Ungkap aktivis Tuli alumnus Kalbis Institute ini.

Berdasarkan hal-hal tersebut-lah kelompok Tuli menolak penggunaan istilah tuna rungu. Selain itu, Bagja pada kesempatan malam itu juga menjelaskan budaya-budaya yang harus diketahui oleh orang dengar.

Budaya yang dimaksud misalnya, ketika berkomunikasi dengan Tuli, orang dengar harus memfokuskan pandangannya kepada Tuli. Hal ini karena itu merupakan sikap untuk menghargai Tuli sebagai lawan bicara. Kemudian, yang harus diketahui, Tuli juga identic dengan duduk melingkar, karena Tuli memerlukan focus visual ketika berkomunikasi.

Hal lain yang identik dengan Tuli adalah alarm. Alarm yang dimaksud disini tentu bukanlah alarm yang berupa suara. Namun, alarm yang berupa getaran.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.