Lompat ke isi utama
Anggara sedang mengibarkan merah putih di puncak Lawu

Lepaskan Stigma dan Belenggu, Anggara Kibarkan Merah Putih di Puncak Gunung Lawu

Solider.id, - Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 di tahun 2020 ini memang sangat istimewa. Selain peringatannya masih dalam kondisi new normal pandemi covid-19, setiap peserta dan pengibar bendera di Istana Negara pun menggunakan wajib masker dan tetap berjaga jarak. Banyak masyarakat di tempat lain melakukan upacara bendera secara virtual, hingga seorang difabel Daksa juga berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung Lawu Magetan Jawa Tengah.

Anggara (35) asal Karawang, menjadi sosok difabel baru setelah mengalami amputasi tangan kanan hingga di atas sikut, sebab kecelakaan kerja efek terkena setrum listrik. Hingga kini pemuda kelahiran 7 Oktober 1985 itu aktif bergabung di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI)  kabupaten Karawang.

Peringatan HUT RI ke-75 menjadi satu momen bersejarah untuk Anggara, tim PPDI kabupaten Karawang dan Jawa Barat serta untuk masyarakat difabel secara khusus dan seluruh rakyat Indonesia secara umum. Satu prestasi mampu diukir difabel Daksa tanpa tangan kanan, yang berhasil mengibarkan bendera merah putih serta bendera PPDI Karawang dan Jawa Barat di ketinggian 3.265m dpl.

Ide awal terlontar dari Anggara, perjalanan rehabilitas mental di kecamatannya ke sebuah loji Curug Cigentis namun tidak berhasil hingga lokasi yang dituju, sebab hambatan aksesibilitas yang dialami difabel mengguna kruk. Pengalamannya sebelum menjadi difabel yang menyukai lintas alam pun diutarakan pada ketua PPDI kabupaten Karawang Nanang Kosim.

“Setelah melaporkan perjalanan ke Curug yang belum mampu sampai ke lokasi, saya ceritakan pengalaman daki gunung dan lintas alam lainnya sebelum jadi difabel. dan Pak Nanang menawarkan untuk mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung pada HUT RI 17 Agustus 2020. Target utama gunung Ceremai dan masih ditutup, alternatif ke gunung Lawu yang telah dibuka untuk para pendaki,” papar Anggara.

Ia juga menyampaikan tujuan dari idenya itu untuk memacu mental dan pikiran para difabel agar berani memiliki impian tinggi seperti nondifabel. Selain itu. masyarakat difabel juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang memiliki hak sama untuk mencintai negrinya. Misi lain yang ingin disampaikan Anggara adalah, proses perjalanan yang membutuhkan perjuangan kuat dalam mewujudkan impian untuk dapat mengibarkan bendera di puncak gunung.

“Jangan takut untuk bermimpi. Pasti ada hambatan, caril saja kalo ditimbang sekitar 10 kilo, untuk medan yang terjal ceril itu akan tersangkut-sangkut sebab saya hanya memiliki tangan sebelah kiri untuk menahannya, faktor cuaca alam yang dingin juga salah satu kendala yang harus mampu ditangani,” terangnya.

Anggara juga berpesan pada masyarakat difabel lainnya untuk terus bermimpi, jangan tersekat oleh kondisi kedifabelan yang dimiliki. Lakukan dulu, jalani dulu hasil akhir biar Allah Tuhan yang menentukannya. Selain itu pemuda 35 tahun ini juga menyelipkan pesan pada setiap peserta upaca bendara agar betul-betul hikmat dan meresapi arti pengibaran bendera merah putih yang sedang berlangsung. Butuh perjuangan agar bendera dapat berkibar di tanah air Indonesia, butuh perjuangan untuk dapat mengibarkan bendera dan melakukan upacara kemerdekaan di puncak gunung.

“Kami dari ratusan pendaki hanya saya yang difabel. Saat upacara dan bendera merah putih berkibar tidak ada seorang pun yang tidak meneteskan air mata. Sangat disayangan, bila di bawah sana yang sedang mengikuti upacara pengibaran bendera masih datang terlambat, dan tidak hikmat, apalagi sambil bergurau,” pungkasnya.

Nanang Kosim, ketua PPDI kabupaten Karawang menuturkan, melakukan pengibaran bendera merah putih di puncak gunung Lawu pada tanggal 17 Agustus, sebagai sebuah kado kemerdekaan untuk negara Republik Indonesia.

Selain itu menurut Nanang, agenda ini juga sebagai pembuktian difabel juga punya kemampuan untuk melakukan sesuatu yang sama dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Keterbatasan akan menjadi sebuah kekuatan bila itu dilengkapi dengan kemampuan untuk menggali potensi diri.

“Harapan kami dengan keberhasilan kegiatan ini, bisa memotivasi bagi para difabel untuk terus berjuang menggali potensi diri, agar kedepan bisa menjadi orang-orang yang kuat, tangguh dan mandiri,” ucapnya.

Pada perjalanan tersebut, Anggara menggunakan titik start pendakian via baschamp Candi Cetto pukul 8.00 WIB, bermalam atau nge-champ di pos 5 (Bulak Peperangan)  jam 20.00 WIB, perjalanan Summit atau naik puncak dilanjutkan jam 4.30 WIB sampai di puncak Lawu Argo Dumileh jam 9.10 WIB. Turun dari puncak jam 12.00 WIB dan sampai kembali k baschamp jam 19.00 WIB.

“Tepat pukul 10.00 WIB, Bendera merah putih berkibar di puncak Gunung Lawu, seiring peringatan detik-detik proklamasi,” tegas Nanang.

Ketua PPDI Jawa Barat Norman, turut bangga atas keberhasilan yang diraih Anggara. Selain turut memeriahkan hari ulang tahun Republik Indonesia ke-75, ada nilai juang yang sudah diperlihatkan Anggara yang tentu dalam proses pendakiannya berbeda dengan pendaki lainnya. Sesuai rencana, keberangkatan di lepas pada Sabtu (15/8) dan dihadiri langsung oleh Norman sebagai ketua PPDI di tingkat provinsi.  

“Ini menunjukan, difabel mampu dan mau memotivasi, menyemangati para difabel lain,” kata Norman.

Sangat berkesan luar biasa pada peringatan HUT RI ke-75 kali ini. Pihak pemerintah meluncurkan pecahan mata uang dengan nominal tuju puluh lima ribu, momen upacara di masa pandemi dan terukirnya sebuah prestasi dari sosok difabel Daksa. Rangkaian keunikan yang semoga dapat memberikan nilai lebih tentang semangat, tekad dan perjuangan, serta optimis dan terus berinovasi dalam karya nyata untuk Indonesia. Semua berawal dari sebuah impian dan cita-cita.[]  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

 Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.