Lompat ke isi utama

Pola Asuh Positif untuk Membangun Kemandirian bagi Anak Difabel

Solider.id - Minggu 23 Agustus 2020, Cerlang Sekolahku, sebuah institusi pendidikan di Pontianak menggelar diskusi virtual mengenai “Pola Asuh Positif untuk Membangun Kemandirian bagi Anak Disabilitas”. Salah satu pembicara yang hadir adalah Sholih Mudlor, Koordinator Program Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (Sapda).

Sholih mula-mula menjelaskan mengenai hambatan yang dihadapi ketika mengasuh anak difabel. setidaknya, ada empat hambatan yang dapat di identifikasi.

Pertama, hambatan personal. Ini berkaitan dengan kemampuan anak untuk mengeksplorasi diri dan kepercayaan diri yang dimilikinya.

Kedua, hambatan keluarga. Seringkali, sikap yang kurang tepat ditunjukan keluarga yang memiliki anak difabel, karena kurangnya pemahaman.

Ketiga, hambatan lingkungan. Ini biasanya berkaitan dengan penerimaan masyarakat sekitar mengenai keberadaan anak difabel.

Keempat, hambatan regulasi. Ini berhubungan dengan kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh negara mengenai anak.

Namun, perihal pola asuh positif terhadap anak difabel, ini lebih berhubungan dengan hambatan personal dan hambatan keluarga. Sebabnya, kedua hambatan tersebut adalah hambatan yang terdekat dengan pengasuhan difabel di rumah.

Menurut Sholih, ada beberapa cara untuk mengatasi hambatan personal dan hambatan keluarga. Cara utama untuk mengatasi hambatan personal adalah membiarkan anak difabel mengeksplorasi dirinya sendiri. Orangtua memiliki kewajiban untuk mendampingi, bukan membatasi. Terkadang, orangtua anak difabel bukan mendampingi, tapi justru membatasi karena terlalu khawatir.

Hal lain yang harus dilakukan adalah orangtua wajib membuat anak difabel berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain. Tidak terkecuali kakak dan adiknya. Hal ini penting agar anak difabel memahami bahwa dirinya memiliki perbedaan dengan anggota keluarga yang lain. Di sisi lain, hal ini juga akan membuat anggota keluarga yang lain memahami perbedaan yang dimiliki anak difabel.

Menurut penjelasan Sholih, efeknya anak difabel akan mampu mengkomunikasikan kebutuhannya kepada orang lain. Anggota keluarga yang lain pun akan dapat memberikan bantuan kepada anak difabel ketika dibutuhkan.

Kemudian, yang harus dipahami oleh orangtua difabel yaitu tidak boleh membandingkan anak difabel dengan anak lainnya. Biarkan anak difabel berproses dengan kemampuannya masing-masing, karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

“pembagian pengasuhan yang berimbang juga harus dilakukan, agar anggota keluarga yang lain memiliki pemahaman terhadap anak difabel. biasanya, pengasuhan lebih banyak dibebankan kepada Ibu”. Pungkas Sholih, yang juga menjadi konsultan Cerlang Sekolahku.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.