Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar animasi resesi ekonomi saat pandemi

Difabel, Survival dan Prospek Resesi

Solider.id - Baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengeluarkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2020. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka minus 5,32 persen. Terburuk sejak krisis moneter yang menimpa Indonesia pada tahun 1998. Penurunan tajam ini sendiri tak bisa dilepaskan dari Pandemi Virus Corona (Covid-19) yang memaksa sebagian besar wilayah di Indonesia harus membatasi kegiatan perekonomiannya dan bahkan memberlakukan lockdown, atau disini disebutnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Apabila pada triwulan selanjutnya, yaitu pada triwulan ketiga pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada rentang minus, alias dua kali berturut-turut dibawah angka positif maka secara teknis bisa dipastikan bahwa Indonesia akan memasuki masa resesi ekonomi. Salah satu indikator suatu negara memasuki resesi ekonomi ialah terjadinya pertumbuhan ekonomi minus selama dua kuartal berturut-turut, disamping kemudian faktor-faktor lainnya seperti terjadinya PHK besar-besaran, daya beli masyarakat yang menurun dan overall perlambatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Lalu apakah Indonesia akan masuk masa resesi?

Well, jika pada triwulan selanjutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada titik negatif, yang mana sangatlah mungkin terjadi mengingat pandemi Corona (Covid-19) sendiri masih jauh dari kata selesai, bahkan lonjakan kasus nasional terus mengalami peningkatan setiap harinya, maka bisa dipastikan pada kuartal selanjutnya kita akan resmi memasuki jurang resesi. Atau bagi yang tidak sabaran mungkin dampaknya sudah mulai bisa kita rasakan dari sekarang.

Lalu jika memang prospek resesi begitu besar, bagaimana hal ini kemudian berdampak bagi kelompok difabel?

Pertama-tama yang perlu diketahui adalah, fenomena resesi ekonomi itu pasti akan dirasakan oleh siapa saja tak terkecuali bagi kelompok difabel. Proses resesi ekonomi adalah hal yang sangat alamiah dilalui oleh suatu negara. Bahkan beberapa mempercayai bahwa fase resesi itu seperti sebuah siklus yang kita hadapi setiap 10 tahun sekali.

Perlambatan ekonomi akibat terjadinya resesi akan terrefleksi baik pada level makro ataupun mikro suatu negara, baik dalam hal kenaikan tingkat inflasi, tingkat pengangguran, gelombang PHK masal maupun menurunnya tingkat daya beli masyarakat hingga meroketnya harga bahan pokok di pasaran. Thus, sebagai bagian dari lapisan masyarakat yang selalu berupaya untuk mencukupi kebutuhannya, kelompok difabel pun juga tak bisa lepas dari kegiatan yang namanya ekonomi. Oleh karena itu ketika resesi menghantam, tidak ada jaminan kelompok difabel pun akan aman-aman saja.

 Saat harga bahan pokok di pasaran meroket, difabel pun akan turut terkena imbasnya, saat daya beli masyarakat melemah akibat pelemahan ekonomi, difabel juga akan merasakannya, dan saat perusahaan berbondong-bondong melakukan PHK masal maka pekerja difabel pun akan ikut menjadi korbannya. Bahkan nasib para pekerja difabel sendiri pada masa resesi akan bisa dua kali lipat lebih buruk ketimbang rekannya yang nondifabel.

 Stephen Kaye dalam penelitiannya yang berjudul “The Disproportionate Impact of the Great Recession among Workers with Disabilities”, mengungkapkan bahwa pekerja difabel adalah kelompok pekerja yang akan paling pertama diputus kerja pada situasi resesi dan yang paling belakangan dipekerjakan lagi ketika situasi telah kembali pulih.

 Hal ini sendiri tak lepas karena sebagian besar pekerja difabel lebih seringnya dipekerjakan secara jangka pendek/kontrak, mendapatkan pekerjaan yang kurang stabil, mudah tergantikan, biasanya pada jenis pekerjaan kasar dan berstatus rendah sehingga ketika terjadi peristiwa krisis, mereka menjadi korban yang paling rentan terdepak. Studi kasus yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2007, ketika terjadinya resesi ekonomi memperlihatkan bahwa difabel pada usia dewasa yang bekerja mengalami penurunan sejumlah 13.3 persen. Jauh lebih tinggi ketimbang pekeerja nondifabel pada usia sama yang hanya mengalami penurunan pada angka 4.2 persen.

Di negara-negara berkembang, yang  umumnya memiliki populasi penduduk difabel yang jauh lebih besar ketimbang negara maju, dimana dari estimasi jumlah difabel global pada kisaran 650 juta orang 80 persen dari mereka hidup di negara berkembang menyebabkan segala jenis event krisis yang melanda negara mereka dapat sangat destruktif dampaknya ke difabel.  

Raymond Lang dan Nora Groce dalam paper mereka yang berjudul “The Potential Impact of the Global Economic Downturn on Persons with Disabilities”, menyebutkan bahwa kelompok difabel  merupakan segmen masyarakat yang akan paling terpukul apabila terjadi situasi krisis ekonomi, lebih-lebih ketika difabel tersebut tinggal di negara-negara yang dikategorikan sebagai negara berkembang maupun negara miskin. Di banyak  negara berkembang tingkat pengangguran difabel saja sampai bisa tembus angka 85 persen. Itupun dalam kondisi ekonomi yang relatif stabil. Dan dengan banyaknya negara-negara berkembang yang acapkali memiliki kondisi perekonomian lemah, sistem politik yang tidak stabil dan faktor kemiskinan yang sedari sananya memang sudah akut menyababkan prospek resesi ekonomi pun tak bisa dihindari.

 Apalagi ketika seluruh negara di dunia sendiri kini telah terhubung satu sama lainnya baik melalui aktivitas impor/ekspor, transportasi global maupun aspek wisata dan budaya, menyebabkan guncangan yang terjadi pada ekonomi suatu negara dapat berdampak signifikan pada ekonomi negara lainnya.  

 Ketika satu ekonomi jatuh, maka ekonomi-ekonomi lainnya pun akan ikut bertumbangan. Seperti apa yang terjadi waktu resesi moneter tahun 1998 dan krisis pada tahun 2007 silam.

Thus, semua orang pasti akan terdampak resesi. Namun resesi akan jauh lebih merugikan bagi mereka-mereka yang secara sosial digolongkan sebagai kalangan minoritas dan kaum yang kerap terpinggirkan di masyarakat.

Kelompok difabel pun tak ubahnya seperti itu. Mereka memiliki kebutuhan yang sama untuk terpenuhi kebutuhan ekonominya, namun pada masa-masa krisis merekalah yang malah paling rentan terpinggirkan hak-haknya. Hak-hak serta kebutuhan inilah, yang ada kalanya ketika situasi tak terduga seperti krisis ekonomi, dimana orang-orang secara spontanitas berupaya menyelematkan diri, bertahan hidup dan para pengusaha berbondong-bondong mengencangkan sabuk dan mengurangi porsi tenaga kerjanya, akan menciptakan euforia masal yang malah menenggelamkan kepentingan-kepentingan yang juga dibutuhkan oleh kelompok difabel. Plus, adanya produk kebijakan yang minim, kurang inklusif dan sering tidak tepat sasaran ke kelompok difabel di waktu krisis juga tambah bikin runyam kehidupan ekonomi mereka.

Padahal dengan berbagai stigma yang kerap disematkan masyarakat ke difabel serta praktik diskriminasi yang masih langgeng menimpa mereka, serta juga tak lupa permasalahan sosial seperti pengangguran yang sudah tinggi diantara difabel, apalagi kini ketika prospek resesi ekonomi semakin nyata dan problem terkait banyaknya difabel yang masih hidup di bawah garis kemiskinan menyebabkan mereka menjadi target yang paling rentan akan resesi. Tak peduli seberapa banyak produk undang-undang yang melarang terjadinya praktik diskriminasi bagi difabel, ketika dihadapkan pada situasi resesi, difabel lah  yang pertama dipecat dan yang terakhir dipekerjakan, ketika inflasi menyebabkan bahan-bahan pokok naik dan daya beli masyarakat melemah, kelompok difabel pun juga ikut merasakan kesulitan ini. In fact, banyak dari mereka yang hidup dalam garis kemiskinan, yang jelas akan tambah membuat sulit keadaan ekonomi difabel tersebut ketika inflasi tidak mampu dikontrol di masyarakat.

Intinya adalah, kelompok difabel bukanlah merupakan golongan masyarakat yang kebal resesi. Mereka sama terdampaknya atau bahkan bisa lebih merugikan ketimbang orang-orang lainnya yang nondifabel. Jangan sampai kemudian, kebutuhan serta suara mereka sebagai bagian dari warga negara hilang di tengah riuh-pikuk pergolakan ekonomi yang tengah berlangsung saat ini. Pemerintah harus mampu memberikan proteksi dan menjamin ketahanan ekonomi dari warga difabel untuk siap menghadapi situasi-situasi sulit semacam ini. Masalah resesi tersebut benar-benar terjadi atau tidak, semoga saja tidak, namun jikalaupun terjadi setidaknya pemerintah telah mengetahui permasalahan dan kebutuhan dari difabel dan difabel sendiri pun telah siap menghadapi tantangan tersebut.

Oleh karena itu, mari wahai para difabel, kita mulai mempersiapkan diri, mengencangkan sabuk pengaman, termasuk juga mengencangkan budget harian untuk siap menghadapi resesi 2020 yang akan datang.[]

 

Pehulis : Made Wikandana

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.