Lompat ke isi utama
ilustrasi beberapa kepala orang dengan berbagai isi yang sedang mereka pikirkan

Pandemi Berkepanjangan Waspada Krisis Mental

Solider.id, - Efek pandemi covid-19 yang masih jarang disadari masyarakat adalah berujung pada timbulnya krisis secara mental. Kondisi seperti ini memang tidak mudah untuk dilihat secara kasat mata, namun dapat dirasakan oleh setiap individu yang mengalami bahkan lingkungan internal disekitarnya. Seperti lingkup keluarga inti ataupun keluarga besar. Lingkungan luar yang memiliki kepekaan tertentu akan turut merasakan seiring gejala yang diperlihatkan.

Yang menjadi pusat perhatian sepanjang pandemi adalah krisis terhadap bidang ekonomi, kesehatan secara fisik, dan sosialisasi masyarakat di ruang publik yang terbatasi. Kesehatan jiwa cenderung minim dari pengawasan. Padahal, krisis mental dapat dialami oleh siapa pun, dari mulai usia anak hingga usia lanjut, pria dan wanita, masyarakat difabel maupun nondifabel. Krisis mental berbeda dengan koridor difabel mental atau intelektual. Namun, mereka yang mengalami krisis mental memiliki potensi menjadi calon difabel baru, bila tanpa penanganan yang tepat dan cepat.

Difabel mental atau intelektual ada yang disebabkan faktor usia, bawaan sejak lahir, ataupun akibat kecelakaan yang teralami dalam jangka waktu panjang dan ada pengecekan secara medis. Sementara krisis mental, dapat disebabkan oleh suatu kondisi dan situasi tertentu yang sulit diterima individu tertentu sehingga mengalami sebuah tekanan dalam jiwanya.

Teddy Hidayat.,dr.,Sp KJ (K) koordinator Emphatic Online Short Course and Psychiatric Emergency (ESCAPE) yang juga bertugas di salah satu rumah sakit swasta di Bandung menuturkan, salah satu bentuk pertolongan pertama kesehatan jiwa adalah Mental Health First Aid (MHFA) termasuk Suicide First Aid (SFA) di dalamnya.

Membantu seseorang agar dapat berperan menjadi yang lebih baik dan lebih siap dalam menghadapi kehidupannya, bukan berarti menjadikan dirinya untuk siap sebagai terapis. Melainkan, untuk mempelajari agar mampu mengenali tanda-tanda dan pemberian pertolongan pada seseorang yang memerlukan karena tengah mengalami krisis mental dan membantunya membawa ke tenaga profesional.

 

Sebuah Studi metaanalisis yang dilakukan oleh Hadlaczky et al melaporkan, pertolongan pertama kesehatan jiwa dapat meningkatkan literasi kesehatan jiwa, dan menangkal stigma terkait gangguan jiwa di masyarakat.

“Melalui edukasi ini diharapkan masyarakat menjadi lebih aktif dan peduli melakukan pertolongan dalam upaya mendukung orang-orang dengan gangguan jiwa, dan memiliki pikiran atau tendensi bunuh diri,” tuturnya.

 

Tidak dapat dipungkiri, yang terjadi di masyarakat saat mengetahui adanya tindakan atau tendensi buhun diri, sebagian besar hanya menjadi penonton, sebagian lain beranggapan pelaku merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang diidentikkan dengan difabel mental atau intelektual.

 

Secara singkat Teddy menyampaikan, pertolongan pertama pada kesehatan jiwa terdiri atas: Kondisi kesehatan jiwa. Penapisan gangguan jiwa. Mental Health First Aid (MHFA). Pencegahan bunuh diri. Mengatasi serangan panik. Stres pascatruma atau intervensi krisis. Mengatasi pasien psikotik yang agresif. Hingga  konseling krisis perkawinan.

 

Sedangkan untuk membangun ketahanan mental atau Building Mental Resilience terdiri dari: Personality atau kepribadian. Increasing Empathy atau meningkatkan empati. Leadership Assessment Test atau tes penilaian kepemimpinan. Increasing Motivation atau meningkatkan motivasi. Assertive Training atau pelatihan asertif. Communication Skill atau kemampuan berkomunikasi. Management Stress atau pengelolaan stres. Conflict Resolution atau penyelesaian konflik.

 

Berbagai pola adaptasi yang terjadi akibat pandemi Covid-19, seperti keharusan mematuhi tatanan baru, perubahan di pekerjaan dan sekolah, serta pola relasi dengan orang lain, menyebabkan meningkatnya masalah gangguan mental emosional di masyarakat. Tanpa disadari, semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan pertolongan pertama kesehatan jiwa. Selain kesehatan secara fisik.

Melalui edukasi pertolongan pertama kesehatan jiwa, masyarakat diharapkan mampu membedakan antara koridor defabel mental atau intelektual, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dan individu yang terdeteksi krisis mental.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.