Lompat ke isi utama
simbol guide dog

Tiga Cara Unik Difabel Netra Bernavigasi

Solider.id - White cane atau tongkat putih, atau di Indonesia lebih sering dikenal dengan sebutan “tongkat” saja, merupakan alat navigasi yang paling umum dipergunakan oleh difabel netra di seluruh dunia ketika ingin bermobilisasi secara mandiri. Selain sebagai alat navigasi yang paling efisien, tidak terlalu ribet dan sangat terjangkau bagi kantong difabel netra, penggunaan tongkat juga menjadi simbol serta identitas dari para penggunanya. Difabel netra yang menggunakan tongkat dalam aktivitas sehari-harinya tak lagi menggunakan alat navigasi tersebut untuk tujuan fungsionalitas saja, tapi juga turut membantu mereka dalam menciptakan sebuah identitas sebagai seorang individu netra di dalam sistem sosial masyarakat.

 Thus, tak mengherankan kemudian jika tongkat telah menjadi sejenis ciri khas dan identitas klasik bagi kalangan difabel netra di tengah-tengah masyarakat. Banyak orang bilang, kalau tanpa tongkat, katanya bukan difabel netra.

Namun disamping penggunaan tongkat, tahukah kita bahwa sebenarnya juga ada banyak cara difabel netra dalam bernavigasi?

 Bahkan asal tahu saja, menurut Perkins School for the Blind sendiri, kebanyakan difabel netra malah cenderung tidak menggunakan tongkat. Estimasi difabel netra yang menggunakan tongkat hanya berkisar pada angka 2 persen sampai dengan 8 persen saja. Dengan kata lain, banyak difabel netra yang kemudian lebih memilih alternatif lain selain tongkat dalam melakukan proses navigasi.

Nah, apa sajakah metode alternatif tersebut? Berikut solider akan coba  mengulasnya.

  1. Guide Dog

Orang bilang, anjing adalah teman terbaik manusia. Tak mengherankan kemudian jika penggunaan anjing penuntun atau guide dog/dog guide di kalangan difabel netra pun menjadi alternatif yang cukup populer selain penggunaan tongkat. Di negara-negara barat macam  Amerika Serikat, Inggris dan Australia penggunaan guide dog bahkan relatif lebih disukai ketimbang penggunaan tongkat, Meski kemudian penggunaan guide dog dan tongkat sendiri pun seringnya juga dipadukan secara bersama-sama.

Guide dog sendiri, bagi yang belum tahu, merupakan seekor atau bisa juga lebih anjing penuntun yang telah dilatih secara khusus untuk membantu individu difabel netra dalam bernavigasi baik di dalam maupun luar ruangan.

Anjing-anjing yang bertugas sebagai guide dog ini tidaklah bisa sembarang anjing. Mereka harus terlebih dahulu mendapatkan sesi pelatihan terkait keahlian menjadi seekor guide dog, untuk kemudian mampu membantu proses orientasi dan mobilitas dari pemilik mereka yang difabel netra. Menurut situs Guide Dogs for the Blind, masa training ini dapat berlangsung sampai dengan 2 atau 3 bulan, dimana instruktur yang telah berpengalaman di bidangnya akan memberikan keahlian dasar bagi calon anjing-anjing penuntun ini untuk mampu menuntun manusia secara aman dan meyakinkan. Adapun keahlian tersebut seperti mampu menuntun difabel netra secara lurus dari point A ke point B, mampu mengetahui kapan untuk berhenti atau menghindari rintangan di depannya, mampu berprilaku jinak ketika berada di keramaian dan juga mampu tahan akan gangguan eksternal, seperti tidak tergoda untuk mengejar kucing, tikus ataupun hewan atau benda-benda lain di sekitarnya.

 Maklum, kebiasaan anjing yang suka mengejar kucing ataupun objek bergerak lainnya tentu akan sangat merepotkan pemiliknya. Terlebih ketika pemiliknya tersebut seorang difabel netra.

How ever, disamping kemampuannya sebagai asisten navigasi yang cukup handal, memiliki guide dog juga mengharuskan kita untuk memberikan perhatian ekstra ke mereka. Karena tidak seperti tongkat yang setelah kita pakai langsung kita lupakan saja, guide dog harus juga diberi makan dan minum, dijaga kebersihannya, dipantau kesehatannya, termasuk rutin melakukan vaksinasi hingga menyediakan waktu bermain khusus untuk menghindari mereka dari stres.

Apabila hal-hal tadi kemudian tidak menjadi masalah, maka difabel netra yang sedang mencari alternatif alat navigasi selain tongkat pun patut melirik guide dog. Hanya sayang. Di Indonesia penggunaan guide dog sebagai alat navigasi bagi difabel netra sendiri masih belum merupakan hal yang lazim dilakukan.

  1. Echo-location

Echo-location mungkin menjadi cara navigasi paling unik sekaligus paling sulit yang mampu dipelajari oleh difabel netra. Selain itu bagi difabel netra yang menguasainya, echo-location juga sering diklaim sebagai kunci difabel netra dalam melihat dunia. Lalu apakah sebenarnya echo-location itu?

 Menurut Encyclopaedia Britannica, echo-location sendiri didefinisikan sebagai, sebuah proses dalam memetakan lokasi dan jarak ataupun objek yang tak terlihat menggunakan gelombang suara yang dipantulkan oleh suatu subjek ke objek-objek di sekitarnya.

 Cara ini lazim digunakan oleh kelelawar, lumba-lumba dan beberapa jenis ikan paus dalam bernavigasi, mencari mangsa dan juga berinteraksi antar satu sama lainnya. Echo-location juga menginspirasi terciptanya tekhnologi sonar yang membantu kapal selam dalam menentukan arah di bawah laut.

Nah, teknik echo-location inilah yang coba diterapkan difabel netra dalam bernavigasi. Tujuannya adalah untuk mampu meniru metode yang dimiliki oleh kelelawar, lumba-lumba bahkan tekhnologi sonar di kapal selam lalu mengadopsinya sebagai cara difabel netra dalam menentukan bentuk, jarak maupun ukuran suatu objek.

 Salah satu sosok yang terkenal menguasai teknik echo-location ini adalah Ban Underwood, seorang remaja difabel netra asal California Amerika Serikat. Meskipun telah tiada pada usianya yang sangat muda di tahun 2009 silam akibat penyakit kanker yang dideritanya, Ban Underwood sampai kini masih melegenda sebagai manusia dengan kemampuan echo-location paling menakjubkan di dunia. Ia mampu menentukan jarak, ukuran sampai bentuk suatu objek hanya dengan mendecakkan lidahnya untuk menciptakan pantulan gelombang suara ke lingkungan disekitarnya. Lebih gilanya lagi, ia mampu melakukan kegiatan seperti bersepeda, bermain skateboard, melempar bola ke ring basket serta bernavigasi kemanapun tanpa menggunakan indra penglihatannya ataupun tongkat sebagai alat pembantu.

 Tak heran kemudian Ban Underwood sendiri dijuluki sebagai

The Sonar Boy

Oleh media pada waktu itu karena kemampuannya terssebut.

Meski kemampuan echo-location milik Ban Underwood ini bisa dibilang merupakan fenomena yang cukup langka di dunia, keahlian echo-location sendiri sejatinya mampu dipelajari oleh siapapun. Lebih-lebih bagi kalangan difabel netra yang dari sananya memang memiliki sensitivitas pendengaran yang relatif lebih kuat.

 Namun memang, untuk menguasai kemampuan echo-location ini bukan perkara yang gampang. Dibutuhkan setidaknya sebuah dedikasi dan latihan terus-menerus untuk benar-benar menguasai kemampuan echo-location ini hingga yakin dapat menggunakannya secara aman dan nyaman di luar maupun dalam ruangan.  

 Beberapa organisasi non-profit bahkan telah memiliki program khusus yang mengajarkan teknik echo-location ini kepada para difabel netra .

 Salah satunya adalah non-profit bernama Visioneers, yang mengajarkan difabel netra untuk mampu memproduksi gelombang suara yang mereka namakan “flashsonar”, melalui decakkan lidah, tepukan tangan, jentikkan jari ataupun metode-metode lainnya dan mengkolaborasikannya dengan penggunaan tongkat untuk menciptakan kemampuan navigasi bak sebuah sonar bagi para difabel netra.

Jadi bagaimana, berminat mencoba?

  1. Tekhnologi Aplikasi

Last but not least, ada tekhnologi aplikasi.

Dewasa ini, berkat semakin pesatnya perkembangan tekhnologi smartphone menyebabkan mulai banyak juga developer aplikasi yang merancang aplikasi khusus bagi para difabel netra untuk bernavigasi secara mandiri. Beberapa contoh aplikasi tersebut diantaranya adalah aplikasi Nearby Explorer di perangkat Android, Seeing Eye GPS serta juga BlindSquare di perangkat IOS. Dengan memanfaatkan program screen reader yang telah tersedia di perangkat IOS dan Android, para difabel netra kini juga mampu mengakses layanan GPS yang telah didesain khusus bagi kebutuhan mereka selayaknya orang nodifabel, menggunakan Google Maps atau Apple Maps dalam menentukan arah dan lokasi.

 Ketiga aplikasi ini, Nearby Explorer, Seeing Eye GPS dan BlindSquare ketiga-tiganya sama-sama memberikan fitur dasar dalam bernavigasi, seperti fitur untuk mengetahui lokasi terkini, melakukan pencarian

point of interest

 di lokasi sekitar, membuat rute perjalanan ke destinasi tertentu serta juga kemampuan menjalajah via bantuan pemandu arah. Plus, aplikasi-aplikasi GPS ini juga menyediakan fungsi yang dirancang khusus untuk lebih meningkatkan tingkat mobilitas dan orientasi dari para penggunanya yang difabel netra ketika sedang bernavigasi.

How ever, perlu dicatat, meski memberikan segudang fitur canggih, bukan berarti kemudian aplikasi GPS ini mampu menjadi alat navigasi tunggal bagi difabel netra.

 Idealnya adalah, penggunaan aplikasi GPS tersebut juga harus dibarengi dengan penggunaan alat navigasi lainnya seperti tongkat ataupun guide dog guna mengidentifikasi hambatan dan rintangan yang sekiranya masih belum mampu dijangkau oleh GPS, dan juga untuk membantu dalam memberikan pengalaman navigasi yang lebih optimal bagi difabel netra.

Namun apabila itu masih dirasa kurang memuaskan, ada juga alternatif yang tak kalah canggihnya. Yaitu dengan memanfaatkan tekhnologi kacamata pintar buatan Aira. Untuk penjelasan lebih detail terkait kacamata Aira, penulis sendiri telah mengulasnya pada artikel di

https://www.solider.id/baca/5550-smart-glasses-aira-bikin-difabel-netra-serasa-melihat-dunia

Singkatnya, tekhnologi kacamata pintar (smart glass) Aira adalah tekhnologi yang menghubungkan antara asisten awas (sighted assistant) dengan difabel netra via smart glass yang mereka kenakan secara nirkabel. Ketika para asisten awas ini terkoneksi dengan smart glass Aira, maka mereka akan mampu memberikan informasi yang difabel netra butuhkan dan kemudian mentransmisikan informasi tersebut via audio melalui perangkat headset yang telah terpasang pada gagang kacamata Aira.

Sehingga, para difabel netra yang menggunakan smart glass Aira ini pun dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya nampak sulit untuk dilakukan, seperti berbelanja di supermarket, membaca menu restoran, melihat pemandangan dan tak terkecuali juga, berjalan-jalan ke taman dekat rumah tanpa harus repot-repot menggunakan tongkat.

 Plus, tak ada salahnya juga sedikit tampil gaya dengan kacamata kan?

Jadi bagaimana, tertarik mencoba?

Kecanggihan teknologi dan kecerdasan manusia mampu memudahkan kawan netra untuk bernavigasi dan berkaktivitas dengan lebih mandiri. Berbagai kemudahan tersebut kemudian diharapkan dapat mudah dijangkau oleh semua kalangan difabel netra. teknologi mestinya bukan barang mahal. Tanggungjawab negara untuk memenuhi kebutuhan kawan netra menjadi mutlak diperlukan.[]

 

Reporter: Made Wikandana

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.