Lompat ke isi utama

Diskusi Pendidikan Inklusi, Mengenal Prinsip dan Tantangannya

Solider.id - Relawan Pendidikan NTB menggelar diskusi mengenai pendidikan inklusi. Acara yang bernama Redi Talk ini diselenggarakan melalui platform Instagram. Jaka Ahmad, seorang pegiat pendidikan inklusi, dihadirkan pada kegiatan yang diselenggarakan  9 Agustus 2020.

Jaka Ahmad terlebih dahulu menyampaikan prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan inklusi. Salah satu prinsip utama dari penyelenggaraan pendidikan inklusi adalah pembelajaran berbasis individual. Artinya, pembelajaran yang disediakan oleh guru, harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Hal itu karena setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Misalnya saja peserta didik difabel netra, mereka adalah tipe pembelajar yang auditory. Hal ini berarti, guru harus menyajikan pembelajaran dalam bentuk audio. Biasanya, peserta didik difabel netra, lebih mengoptimalkan indra pendengaran dalam menyerap pembelajaran.

Sementara, peserta didik Tuli, lebih mudah menyerap pembelajaran dalam bentuk visual. Sebabnya, Tuli memiliki hambatan pendengaran. Konsekuensinya, guru harus menyediakan materi pembelajaran berbentuk visual kepada Tuli.

Adanya perbedaan kemampuan diantara para peserta didik tersebut, menuntut kemampuan guru untuk menganalisis keadaan. Artinya, dalam hal ini seorang guru harus mampu menyajikan materi pembelajaran yang dapat mengakomodasi peserta didik dengan kemampuan yang beragam.

Ini harus dipandang sebagai keuntungan menerapkan pendidikan inklusif. Dengan mengaplikasikan pendidikan inklusif, maka kemampuan guru untuk menganalisis keadaan dalam kelas akan meningkat.

Jaka Ahmad melanjutkan, kutipan dari Albert Einstein merupakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan pentingnya prinsip pembelajaran berbasis individual. “jika menilai kemampuan ikan untuk memanjat pohon, maka ikan itu tidak akan bernilai”. Dalam hal ini, artinya setiap peserta didik, dalam konsep pendidikan inklusi harus dinilai sesuai dengan potensi masing-masing.

Tantangan Penerapan Pendidikan Inklusi

Jaka mengungkapkan ada dua hal yang kerap kali menjadi tantangan pengaplikasian pendidikan inklusi. Pertama, adanya pandangan dari para guru SLB, bahwa ketika pendidikan inklusi di aplikasikan, maka SLB akan dihapuskan. Menurut Jaka, ini merupakan pandangan yang salah. Justru, ketika pendidikan inklusi diaplikasikan, guru SLB akan menjadi Support System.

Guru SLB, yang seringkali juga difungsikan sebagai Guru Pembimbing Khusus, idealnya membantu pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah reguler. Namun, Guru Pembimbing Khusus, terkadang malah disalah fungsikan.

Guru Pembimbing Khusus justru seringkali diminta untuk mengajar siswa difabel di sekolah inklusi. Padahal, menurut Jaka, seharusnya Guru Pembimbing Khusus menjadi rekan diskusi guru kelas dan guru mata pelajaran. Ini bertujuan agar guru kelas dan guru mata pelajaran mampu mengajar peserta didik difabel.

Alasan kedua yang sering menjadi penghambat pendidikan inklusi adalah soal sarana dan prasarana. Jaka berpendapat, itu tidak seharusnya menjadi hambatan.

Sekolah seringkali menolak keikut sertaan siswa difabel disebabkan karena belum tersedia infrastruktur bagi difabel. Padahal itu dapat diselesaikan dengan pemikiran yang sederhana. Seandainya sebuah sekolah memiliki bangunan bertingkat, siswa pengguna kursi roda tak perlu ditempatkan di kelas lantai dua. Siswa pengguna kursi roda cukup ditempatkan di kelas yang ada di lantai dasar apabila sekolah belum memiliki fasilitas seperti elevator atau bidang miring.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.