Lompat ke isi utama

Tentang ABK, Difabel Anak-Anak dan Difabel Baru

Tentang ABK, Difabel Anak-Anak dan Difabel Baru (Hak Pendidikan, Politik dan Pendampingan)

 

Hak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), difabel anak-anak

“Telah berapa waktu aku selalu merinduimu. Cerita-cerita yang kudengar tentangmu, kadang lucu, menggelikan ,juga tak jarang membuatku mengalirkan air mata. Hhhmmm…andai tak ada jarak dan waktu, sudah pasti aku akan datang memeluk dan mengusap rambutmu. Telah kubayangkan, betapa tampan wajahmu yang orang bilang kau seperti orang suci. Sudah berbulan-bulan lamanya, dan aku tak lagi mendengar cerita tentangmu. Aku hanya bisa menitip salam dan doa. Pun kalau ada sesuatu di rumah yang ingin kuberi, pasti aku akan menitip untukmu. Seiris kue atau sepotong roti, tanda cinta untukmu. Selalu dengan ucapan 'dengan sepenuh cinta'.

Suatu ketika, ingin sekali aku menemuimu,”Suatu saat kau pasti bisa menemuinya dan bukan sekarang.”Begitu kata suami Bunda, sahabat ayahmu, yang suka bercerita tentang keistimewaanmu, keluarbiasaanmu.

Untuk menghilangkan rasa kerinduanku kepadamu, maka aku beli buku-buku yang membahas tentangmu, tentang apa yang saat ini terjadi denganmu. Setumpuk buku dengan antusias kubaca satu persatu, dari memoar seorang ayah sampai textbook yang berbahasa ilmiah. Tidak semua kutahu.
Dan sore ini engkau ada di hadapanku. Kukira kau dan aku sudah mengenal lama, karena aku selalu menitipkan cinta kepadamu. Namun aku tak berharap banyak. Sungguh, bisa menatap wajahmu adalah kebahagiaan.

"Ini, Bu, Ghoffin yang saya janjikan saya ajak ke mari," duuuuh…bahagianya kau punya ayah yang sangat baik.

Kau tak ada reaksi. Sudah kuduga. Tapi mata itu, ya Tuhan. Kau punya sepasang mata indah yang bening.

"eeee....eeee....eeee....", merdu kudengar suara zikirmu, Ghoffin. MasyaAllah, kau selalu berzikir. Aku lebih suka membahasakannya demikian. Dari pada sebuah kata yang bukan afirmatif seperti rintihan atau tangisan yang akan berkesan cengeng dan keputusasaan.

Bahkan dengan segenap getaran yang ada di seluruh tubuhmu. Aku rasakan itu saat memelukmu. Aku raba detak jantungmu yang berdebar sangat cepat. Oh, kiranya engkau baru mengenalku. Kita perlu adaptasi, Kawan. Jangan takut, mari sini Bunda memelukmu, kataku dalam hati.

Oh, rupanya kau juga mengerti apa yang aku inginkan .Lalu kau pegang aku kuat-kuat seperti tak hendak melepasku lagi.

"Kalau keadaan seperti itu, biasanya dia lagi 'sakaw', Bu"  demikian untuk kesekian kali ayahmu menjelaskan padaku."Nggak apa, biar dia mencengkeram saya, dia saat ini butuh perlindungan. Tak apa," kataku menenangkan hati ayahmu .Kau baru pertama kali ke rumah ini, Ghoffin. Kau butuh penyesuaian diri.

Berdiri hanya termangu dengan memegangi pagar lama-lama tak baik juga. Ayo ke mari, kugandeng lagi tanganmu,  kuajak kau masuk rumah. Tubuhmu  memberontak. Namun begitu, tanganmu tak juga mau melepaskan tanganku. Tak apa. Aku sudah akrab dengan anak-anak, dengan berbagai macam tipikal dan karakter.

Sesore, kau asyik dengan kesendirianmu, namun sesekali aku hampiri kau. Bukankah hati dan cintaku sudah lama jatuh tertanam di hatimu, sebelum kau datang bertemu denganku. Aku selalu menitip rindu padamu, Ghoffin meski kita baru kali ini bertemu. Sepertinya cerita tentang kau tak habis kuceritakan di sini, namun kuyakin, kita masih ada waktu untuk bertemu. Kau dan Bundamu ini akan sering bertemu.

Sebentuk kisah tentang kau, Ghoffin. Maaf, kau lebih istimewa dari apa yang mereka bilang, anak Autis.” (Sumber cerita dari sebuah catatan yang berjudul “Ini Tentang Aku dan Kau” oleh Astuti J. Syahban)

Cerita di atas betapa menyentuh saat seseorang mempunyai empati terhadap anak yang berkebutuhan khusus. Empati sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pada istilah psikologi berarti ; Keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan atau kelompok lain (KBBI Edisi Ketiga, Balai Pustaka, 2005)

Ghoffin terlahir autis nonverbal. Dia tumbuh di lingkungan yang sangat mendukungnya untuk banjir kasih sayang dan cinta. Ibunya yang sabar dan ayahnya yang telaten, serta kawan-kawan ayah dan ibunya yang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Ghoffin menjadikannya tumbuh lebih baik, seperti layaknya anak bukan penyandang autis.

Ghoffin sering diajak untuk bersosialisasi, dengan pergi ke public space seperti acara-acara keluarga maupun ke acara sekolah dan beberapa kegiatan di luar ruangan seperti pentas seni dan lain-lainnya.

Dia diperlakukan laiknya seorang anak yang membutuhkan ‘ruang’ dan waktu untuk berekspresi dan berkarya. Andai saja semua Anak Berkebutuhan Khusus sangat diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya yang menemaninya berkembang dan bertumbuh, alangkah indahnya dunia di mata mereka.

Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah haknya sebagai warga negara. Negara telah mengaturnya dalam bentuk UUD 1945. Ini bukan saja sebagai aturan akan tetapi amanat kenegaraan. Amanat mempunyai arti sebagai pesan atau perintah. Perintah yang harus dijalankan oleh negara dan elemen keseluruhan pada satu negara.

Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pasal 31 ayat (1) dan (2) mengamanatkan bahwa setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Selain itu, UU No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, 5, 32 dan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 48 dan 49, yang pada intinya Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan. Jadi semua orang berhak sekolah.

Masalah ekonomi keluarga yang rata-rata adalah menengah ke bawah, kerap menyertai anak-anak berkebutuhan khusus. Inilah kendala yang selama ini sangat berat dirasakan oleh keluarga mereka. Oleh sebab itu, makin dibutuhkan uluran tangan dari orang-orang yang mempunyai rejeki dan kemampuan berlebih untuk turut serta meringankan beban hidup mereka.

Perhatian dari negara untuk ABK agaknya telah mulai ada semenjak digulirkannya rencana pemerintah untuk memberikan beasiswa kepada seluruh anak berkebutuhan khusus. Ini berita baik.

“Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menggelontorkan dana sekitar Rp 84,3 miliar sebagai beasiswa bagi seluruh anak berkebutuhan khusus. Diharapkan semua anak berkebutuhan khusus bisa melanjutkan pendidikan.

Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Kemdikbud, Mudjito mengatakan, anggaran sebesar itu akan dibagikan kepada seluruh anak berkebutuhan khusus dengan unit cost Rp 750 ribu per anak per tahun.” (kompas.com, 7 Mei 2012)

Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ke depan, bukanlah hal yang mahal dan mewah lagi. Masa depan yang cerah, sebagai warga negara yang mempunyai hak yang sama, telah terbentang dengan adanya rencana beasiswa tersebut. Jika pemerintah demikian serius, maka uluran tangan dari lingkungan yakni keluarga, orang-orang terdekat lainnya akan sangat dibutuhkan oleh mereka.

Sehingga kita akan menemukan Ghoffin-Ghoffin lain, yang pasti bukan hanya penyandang autis saja, namun Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) lainnya mendapat perlakuan yang sama dan kasih sayang yang merata, berkeadilan dan berperikemanusiaan dari lingkungan di sekitarnya dan negara yang menaunginya
Semoga rencana pemerintah ini bukan hanya isapan jempol saja. Namun langkah yang nyata dan terus-menerus dilakukan sampai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bisa melakukan jenjang pendidikan sampai setinggi-tingginya.

ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) masuk dalam kategori difabel atau yang berbeda. Kiranya asas keadilan yang harus disandangkan kepada masyarakat difabel menjadi teramat mudah, sesuatu hal nyata yang bisa dilakukan oleh pemerintah.

Hak Politik Kaum Difabel

Negara memberikan peluang dengan adanya undang-undang. Dalam UU no.4/1997 terkait hak-hak difabel ditegaskan bahwa mereka juga mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Aspek kehidupan di sini tentunya kehidupan dalam berpolitik sehingga mencapai asas berkeadilan bagi setiap individu difabel.

=Kaum difabel mempunyai hak untuk dipilih dalam pemilu legislatif. Sama halnya ketika  dia mempunyai hak untuk memilih. Bukankah negara kita pernah mempunyai seorang presiden difabel (Gus Dur)? Kaum difabel tidak semestinya dianaktirikan karena secara otomatis, mereka juga terdaftar sebagai warga negara.

Jika kaum difabel diberi hak untuk mengakomodir aspirasi yang berada di tengah masyarakat, tentu ini sangat menarik. Begitu juga ketika kaum difabel bisa ditunjuk sebagai wakil masyarakat. Perlakuan kebanyakan masyarakat kita yang memandang sebelah mata kepada kemampuan politik para penyandang disabilitas tentu akan dibuktikan jika ke depan nanti benar-benar terwujud.

Tentu dibutuhkan payung hukum untuk merealisasikan gagasan tersebut. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah kota Solo. Sebagai salah satu contoh nyata yaitu kota Solo yang mencanangkan diri sebagai Kota Ramah Difabel.  terbitnya Perda nomor 2 Tahun 2008 Tentang Kesetaraan Warga Difable sebenarnya memberi harapan yang nyata serta perlakuan yang manusiawi. Beberapa fasilitas publik harus memiliki aksesibilitas bagi seluruh masyarakat tidak hanya masyarakat biasa namun familiar bagi difable.

Undang-undang Pemilu pada Bab ke VII yang memaparkan Persyaratan Bakal Calon Anggota  Persyaratan Bakal Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Pada poin ke-6 disebutkan bahwa sehat jasmani dan rohani. Kaum difabel bukanlah pesakitan atau penderita penyakit, tentu ini dengan disertai pernyataan sehat fisik dan psikis dari dokter.  Mereka hanya berbeda saja. Persamaan visi, pemikiran. Idealisme dengan bukan kaum difabel menunjukkan bahwa peluang untuk menjadikan seorang difabel menjadi wakil rakyat sangatlah terbuka.

Hak Pendampingan Bagi Difabel Baru adalah Berkeadilan

Katakanlah,”Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung, dan penolong selain Allah.” (QS Al-Ahzab (33):17)

Sebuah bencana, terkadang kita tak dapat menghindarinya. Seseorang yang semula sehat wal-afiat, kemudian oleh karena kejadian yang teramat besar menimpanya dirinya, yakni sebuah kecelakaan yang membuatnya menjadi berbeda dengan keadaan sebelumnya.

Dengan keadaan yang berbeda sehingga mempunyai sebutan baru yakni difabel, tentu tidaklah ringan. Sangat dibutuhkan pendampingan secara psikologis untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Hak bagi difabel baru itu biasanya telah difasilitasi oleh pihak rumah sakit.

Bagi difabel baru, sangat dibutuhkan kekayaan spiritual dan dorongan semangat yang datang dari orang-orang di sekitarnya. Keluarga difabel baru terutama, akan sangat penting apabila dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan secara sederhana tentang hal-hal yang berkaitan tentang keadaan psikologis pasien.

Semakin bagusnya apresiasi masyarakat, yang tidak hanya berasal dari masyarakat kedokteran saja berhasil membuktikan bagaimana anggota difabel baru, bisa diterima di masyarakat.

Motivasi  yang sederhana untuk berbuat dan mewujudkan kepedulian secara nyata sekecil apa pun. Harapan yang  sederhana, yaitu mengisi celah dalam kehidupan para difabel baru, sehingga mereka dapat melalui hari-hari berat mereka dengan sedikit lebih ringan, karena terus di dampingi oleh keluarga dan atau relawan pendamping.

Meyakinkan kepada difabel baru bahwa dia tidak hidup sendiri. Lalu juga menekankan bahwa pengobatan dokter yang telah dijalani dengan teratur dan terekomendasi, seterusnya akan menjadikan hidup menjadi normal kembali, tentu akan membuat kepercayaan diri dan semangat difabel mampu bangkit kembali. Memberikan pengertian berupa pengetahuan agama, tentu akan menambah spiritualitas diri. Siapa pun tidak ingin menyandang sebagai difabel baru Namun, bukankah Tuhan telah berjanji kepada kita, bahwa dibalik kesusahan, pasti ada kemudahan. Maka, perkenankanlah penulis untuk mengutip beberapa kalimat bijak berikut ini.

`“Kepedihan adalah obat pahit yang dipergunakan dokter untuk menyembuhkan dirimu yang sakit. Oleh karena itu percayalah kepada dokter itu, minumlah obat itu dalam keheningan dan ketenangan. Sebab tangannya, meskipun berat dan kasar, dibimbing  oleh tangan lembut dari yang Tak tampak. Dan cawan yang dibawanya, meskipun membakar bibirmu, dibuat dari lempung yang dibasahi oleh Pembuat Tembikar dengan air mata-Nya sendiri yang suci.” ( Almustafa,Kahlil Gibran terjemahan Sapardi Djoko Damono, Bentang, Februari 2008). []

BIODATA PENULIS

 

Puji Astuti (Astuti J. Syahban),  lahir 12 Agustus 1971. Selain sibuk sebagai ibu rumah tangga juga bergiat di kepenulisan. Sebuah novel memoar telah lahir dari tangannya. Beberapa novel anak pengayaan  menghiasi perpustakaan-perpustakaan sekolah.Beberapa cerpen, esai, puisi dan resensinya dimuat di media cetak lokal/nasional. Ibu tiga anak yang aktif di sebuah lembaga parenting(KPPA Benih, Solo) ini sangat concern di bidang pendidikan dan dikenal sebagai mahasiswi S1 FKIP Psikologi Pendidikan&Bimbingan Konseling, juga tercatat sebagai relawan pendampingan pasien anak berpenyakit kelainan darah di RS. Sardjito. Beberapa kali meraih juara nasional menulis, salah satunya juara harapan 1 lomba jurnalistik PAUD tahun 2009. Dia tinggal di Semanggi Jl. Bengawan Solo 4, SOLO. Cp : 085642037129, e-mail: [email protected]@yahoo.com. 

The subscriber's email address.