Lompat ke isi utama
difbel pengguna tongkat berkaos putih sedang berdiri di samping peron stasiun kereta api

Aksesibilitas Difabel di Commuterline, Antara Ada dan Tiada

Solider.id, Jakarta – Difabel di Indonesia masih harus terus berjuang demi mendapatkan kesetaraan hak asasi sebagai manusia. Bagaimana tidak, di Jakarta yang merupakan ibu kota dan pusat peradaban warga Indonesia, aksesibilitas bagi difabel belum begitu banyak ditemui, masih banyak alat transportasi umum yang belum ramah untuk difabel, sepeti halnya commuterline. Pembangunan infrastruktur yang massif dan beberapa tahun terakhir dilakukan pemerintah, nyatanya memang belum optimal dapat dinikmati oleh masyarakat difabel. Progress sudah ada, lebih-lebih jelang perhelatan akbar pesta olahraga difabel yang beberapa tahun lalu diselenggarakan di Jakarta, serta adanya beberapa pembangunan moda transportasi baru, memang memberikan warna dan progress yang cukup membanggakan bagi pembangunan fasilitas publik dan pemenuhan aksesibilits bagi difabel. Namun bagaimana dengan fasilitas dan aksesibilitas transportasi publik yang sudah berpuluh tahun beroperasi dan berjasa bagi warga urban ibukota yang setiap hari beraktivitas di sekitar DKI Jakarta.  

 Kelayakan bepergian dengan commuterline di ibu kota menjadi sorotan bagi difabel karena masih belum aksesibel. Bepergian dengan kereta rel listrik yang saben hari melayani masyarakat urban di Jakarta dan sekitarnya ini belum sepenuhnya mudah untuk dinikmati masyarakat difabel. Bagi pengguna kursi roda misalnya, beberapa fasilitas umum penunjang kereta ini masih belum dilengkapi dengan ramp atau bidang miring yang harusnya jadi standart pelayanan minimal bagi angkutan umum sekelas commuterline.  Tak hanya itu, bagi kawan Tuli,  moda transportasi ini belum menyadiakan teks berisi informasi yang sesuai dan dibutuhkan dalam perjalanan Commuterline.  Sementara itu, bagi  difabel pengguna tongkat  tanjakan yang curam dan saat melangkahkan kaki menuju peron pun sangat membahayakan mereka. Keadaan ini diperparah ketika jam pergi dan pulang kerja. Seperti umumnya masyarakat  Indonesia yang susah dan bengal banget kalau diminta untuk bersabar, mengantre, dan sedikit berempati untuk saling mengalah dan menghormati orang lain. Saat di tempat publik. Saling dorong, saling himpit, dan bahkan saling berdesakan menjadi pemandangan “wajar” yang hampir setiap pagi dan sore ada di kendaraan panjang bagaikan ulara besi ini. Hal ini semakin mempersulit kawan difabel yang menggunakan tongkat. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang hampir terhimpit dan terjatuh ke peron saat hendak naik ke gerbong kereta.  

Sarana transportasi commuterline merupakan salah satu alat transportasi darat yang diminati masyarakat di ibu kota karena dengan biaya yang murah, masyarakat sudah dapat menikmati transportasi publik yang  cepat. Namun, untuk dapat merasakan perjalanan dengan commuterline itu masih harus dibayar mahal oleh masyarakat difabel.  

Aksesibilitas menuju stasiun dan gerbong belum bisa dikatakan ramah bagi difabel. Masih banyak petugas maupun masyarakat yang belum mengerti cara berinteraksi dengan difabel . Padahal hal ini sudah dijelaskan pada Undang-Undang No. 8 tahun 2016 Pasal 106 yang berbunyi “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan dan mensosialisasikan Pelayanan Publik yang mudah diakses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 kepada Penyandang Disabilitas dan masyarakat.” Pada pasal 105 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan salah satu fasilitas publik adalah jasa transportasi. Tetapi, realitanya, sensitivitas sebagian besar masyarakat dalam menangani difabel khususnya  pengguna kursi roda, pengguna tongkat dan netra masih sangat kurang.

Fasilitaas dan layanan yang mudah diakses oleh difabel dan kelompok rentan lain sudah seharusnya jadi prioritas dan jadi perhatian pengelola kereta Commuterline.  Paling tidak, Badan Penyelenggara Kereta Api Commuterline Jabodetabek wajib menyediakan fasilitas yang diperlukan dan memberikan pelayanan khusus bagi difabel di stasiun commuterline.

Fasilitas dan pelayanan khusus seperti:

  • Kondisi keluar masuk harus landai atau terdapat ramp
  • Kondisi toilet yang dapat dimanfaatkan difabel tanpa bantuan pihak lain
  • Kondisi peron yang memudahkan difabel untuk naik turun dari dan ke sarana angkutan kereta api
  • Penyediaan personil yang dapat membantu difabel
  • Papan informasi perjalanan kereta api yang ditulis dengan huruf braille atau tanda melalui bunyi, tulisan juga dilengkapi teks bagi difabel
  • Tempat duduk bagi penempatan kursi roda pada sisi aman dekat pintu keluar/masuk
  • Papan informasi dengan tanda huruf yang besar disertai warna
  • Aksesibilitas pada pelayanan tiket

 Berdasarkan beberapa acuan tersebut, agak dini dan agak sulit mengatakan bahwa fasilitas umum baik fasilitas utama maupun fasilitas penunjang kereta api Commuterline sudah aksesibel. Beberapa kawan difabel yang tinggal di Jakarta punya sejumlah pengalaman saat mengakses kereta api Commuterline. Banyak kawan difabel yang terbiasa bepergian secara mandiri menggunakan Commuterline menyatakan bahwa mereka masih memiliki hambatan saat mengakses Commuterline. Kondisi bangunan area stasiun yang belum memiliki guiding block dan kurangnya bidang miring (ramp) di area stasiun menyulitkan difabel netra dan pengguna kursi roda untuk akses masuk ke stasiun. Belum lagi untuk difabel tongkat untuk memasuki gerbong yang harus berjibaku dengan para penumpang lainnya, kalau salah-salah langkah bisa terjerembap kebawah peron,. Selain itu, beberapa kawan Tuli menyatakan bahwa mereka masih sulit mencari informasi yang mereka butuhkan saat mereka berada didalam gerbong kereta.

Selain persoalan aksesibilitas sarana yang ada di fasilitas publik Commuterline. Isu aksesibilitas nonfisik juga masih jadi pekerjaan rumah besar bagi layanan Commuterline yang aman dan nyaman bagi difabel. Awareness petugas belum sepenuhnya terbangun untuk membantu memudahkan kawan difabel untuk dapat mengggunakan kereta api dengan nyaman.

Dani, salah satu difabel fisik pengguna tongkat ini pernah mengalami pengalaman kurang mengenakkan saat menggunakan Commuterline. Saat itu, ia hendak pulang dari stasiun Tangerang menuju stasiun Universitas Indonesia. Sebelumnya Dani diantar oleh temannya sampai Stasiun Duri, karena sulit ingin melangkahkan kaki ketika ingin masuk peron. Namun, karena waktu sudah kemalaman akhirnya Dani pun dititipkan oleh petugas yang berada di dalam commuterline..

“saya merasa sedikit lega, meski tidak aksesibel, paling tidak nanti setelah tiba di stasiun tujuan, ada petugas yang membantu saya turun dari gerbong menuju peron yang memiliki celah dan tinggi. Sesampainya di stasiun UI, saya tidak menemukan petugas yang tadi dititipkan oleh teman saya untuk membantu. Saya sempat panik, kondidsi saat itu penuh sesak dan saya harus turun sendiri ke peron yang tidak aksesibel. Dengan waktu yang mendesak, akhirnya saya berusaha untuk turun sendiri dari kereta menuju peron. Keadaan cukup ramai dan waktu itu tak ada satupun orang yang membantu saya turun dari peron” cerita Dani mengenang pengalamannya.

Fasilitas transportasi umum di negara ini terus berkembang ke arah modern. Beberapa daerah telah berkomitment membangung sistem transportasi massal modern yang digandang-gadang akan memberikan soluse atas pembengkakan penggunaan kendaraan pribadi. Pembangunan yang massif dilakukan hendaknya diikuti dengan pengetahuan dan kemamuan untuk menghadirkan sarana transportasi yang layak, nyaman, dan ramah untuk semua jenis difabel. Advokasi harus tersu dilakukan, mengawal kebijakan dan implementasinya harus terus menerus digaungkan untuk menuju Indonesia inklusif dengan adanya sistem dan sarana transportasi yang inklusif pula.

 

Reporter: Irfan Ramadhani

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.