Lompat ke isi utama
beberapa banner dan tulisan yang ada di salah satu bank

Terjadi lagi! Kasus difabel netra yang dipersulit dalam membuat Rekening Tabungan

Solider.id - Akses terhadap layanan perbankan merupakan salah satu hak asasi yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Kebutuhan orang-orang dalam mengakses layanan perbankan dewasa ini tidak lagi hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu saja, tapi sudah menjadi kebutuhan primer setiap orang yang melakukan kegiatan ekonomi di masyarakat. Maka dari itu, segala jenis produk yang ditawarkan pihak perbankan kepada customer pun seharusnya dapat dinikmati oleh tiap individu tanpa terkecuali, terlebih karena hal tersebut merupakan hak mendasar mereka sebagai manusia.

How ever, masih saja kita temui dewasa ini adanya praktik diskriminasi yang dilakukan oleh pihak perbankan terhadap beberapa golongan masyarakat tertentu ketika ingin mengakses layanan perbankan mereka. Salah satu kelompok masyarakat yang kerap mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan ini adalah kelompok difabel.  

Hal ini sendiri sempat dirasakan langsung oleh Marelyn Lievani, seorang difabel netra low-vision yang hendak membuat rekening tabungan di salah satu bank di daerahnya di Medan Sumatera Utara.

 Marelyn, panggilan akrabnya menceritakan bahwa pada hari tersebut, tanggal 20 Juli 2020 ia bersama dengan temannya, yang juga merupakan seorang difabel netra berencana membuat rekening tebungan di salah satu bank, yaitu Bank Permata yang terletak di Jl. Iskandar Muda Medan Sumatera Utara.

 Namun sesampainya di teller Bank Permata tersebut, bukannya malah dibantu dalam pembuatan akun tabungan, Marelyn malah dipersulit oleh staf bank yang mempermasalahkan kondisinya yang seorang difabel netra dalam membuat rekening tabungan.

“waktu sampai ke teller banknya, bukannya ditawari produk-produk banknya dengan ramah, kita malah disuruh bawa penjamin untuk jadi saksi kalo kita mau buat rekening.” Ungkap Marelyn ketika dihubungi lewat aplikasi WA.

“Katanya kita musti ada penjamin yang jadi saksi kalo kita datang ke banknya, dan juga tanda tangan kalo kita beneran datang ke bank.” Lanjutnya lagi.

Tentu saja bagi Merilyn sendiri, perlakuan Bank Permata terhadap difabel netra seperti dirinya yang tengah ingin membuka rekening baru ini merupakan sebuah bentuk tindak diskriminasi, apalagi ketika membacakan prosedur pembuatan rekening, pihak internal bank juga nampak tidak mengetahui sama sekali perihal hak difabel sebagai seorang nasabah.

“Waktu seperti manager banknya datang membacakan prosedur, kita dibuat supaya ga bisa buat ATM, katanya untuk menjaga keamanan.” Pungkas perempuan yang juga menjadi aktivis kaum difabel tersebut.

Tidak hanya itu, lucunya lagi menurut Marelyn, pihak bank pun waktu itu mengakui bahwa mereka sempat mengikuti pelatihan difabel yang diadakan pada bulan Januari tahun ini, akan tetapi ketika kita lihat cara mereka dalam menangani customer difabel netra, bisa ditebak kemudian bahwa acara tersebut pun hanya dihadiri karena alasan formalitas semata.  

 Oleh karenanya, karena tidak ada jalan keluar lain lagi, dirinya pun mengiyakan kebijakan bank untuk menjadi saksi bagi dirinya dalam proses pembuatan rekening, dengan syarat kemudian mereka harus di foto, baik ketika menandatangani suratnya dan juga surat yang telah ditandatangani tersebut. Ini menurut Merilyn ia lakukan untuk menjadi bukti atas perlakuan kurang ramah yang ia terima dari staf bank, dan juga untuk menjadi laporan ke pihak Bank Permata pusat terkait perlakuan diskriminatif yang ia terima.

“Jadi statusnya sekarang ya aku punya rekeningnya, dapet buku tabungannya, tapi kartu ATM ga diberikan.” Tambahnya lagi.

Mengacu pada UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pada pasal 9 E sendiri menyatakan dengan jelas hak kelompok difabel untuk memperoleh akses terhadap pelayanan jasa perbankan maupun non perbankan. Sedangkan pada tatanan yang lebih luas, yaitu Convention on the Rights of Persons with Disability, yang juga telah diratifikasi melalui UU No. 19 tahun 2011 juga menyatakan hak difabel dalam mengelola urusan keuangan meliputi segala jenis kegiatan perbankan secara mandiri.

 Thus, pihak perbankan sebagai yang berkewajiban mematuhi peraturan tersebut di lapangan pun sepatutnya tidak mempersulit difabel netra dalam mengakses layanan perbankan secara inklusif dan bermartabat.

Merilyn yang juga memahami betul mengenai haknya ini pun bergerak cepat. Berkat upaya advokasi bersama teman-teman PERTUNI dan PETKI ke pihak Bank Permata Pusat, Direktur Bank Permata Pusat yang ada di Jakarta pun akhirnya merespon permasalahan ini secara lisan ke Merilyn dan segera menindaklanjuti hal tersebut.

“Bank Permata di Medan untungnya sudah menelpon kita kalo permintaan untuk kartu ATM sudah dikabulkan.” Ungkap Merilyn lega.

Dirinya berharap peristiwa yang ia alami dapat menjadi pembelajaran bagi institusi perbankan lainnya di Indonesia untuk lebih sensitif terkait isu difabel, dan mulai menaruh perhatian khusus terhadap layanan mereka kepada customer yang difabel, khususnya difabel netra. Merilyn tidak ingin bahwa persepsi kadaluarsa terkait ketidakcakapan difabel netra dalam mengelola urusan perbankan menjadi persepsi umum dari institusi perbankan nasional, atau menjadikan difabel netra yang lain untuk enggan dalam mengakses layanan perbankan di tempat mereka.

“Menurut ku perlakuan bank waktu itu sangat unacceptable, dan kita perlu tindak supaya mereka tidak melakukan hal yang sama pada orang lain!” Jelas Marilyn lagi.[]

 

Reporter: Made Wikandana

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.