Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar cita cinta difabel

Cita Cinta Difabel, Kami bukan Ingin membangun Rumah Bertangga, tapi Rumah Tangga

Solider.id - Apa jadinya bila suatu saat tiba-tiba pandanganmu gelap? Hanya bisa menatap dengan satu warna yang pekat, yakni hitam. Alunan nada-nada sekitarmu seketika hening? Membuat seisi tatanan semesta mendadak sepi, sunyi yang membuat hening hati. Atau bahkan kau tidak lagi bisa mengeluarkan isi hatimu dengan pita suara? Hanya hayalan dan buaian dalam hati tanpa bisa mengeluarkan suara dari rongga dada, jemarimu akan berdendang mengikuti ekspresi agar teman bicaramu paham tentang komunikasimu. Yakinkah kau mampu menjalaninya tanpa rutukan? Dan tangis setiap detiknya.

Jika hanya perbedaan fisik membuat sudut pandang seseorang menjadi memojokkan dan merasa paling benar, hingga diskriminasi serta makian dan cacian yang meradang, merebus isi kepala seseorang untuk mengatai atau membenci sosok difabel sehingga membuat mental para difabel pun ikut menjadi saksi, bahwa;

Tidak ada manusia yang cacat

Yang ada pemikiran yang cacat

Ketika semua cemoohan itu terhampar indah dihadapan kami. Kami tak tinggal diam dalam semua kata-kata generalisir tersebut. Kami tak tahu apa yang membuat banyak orang tak mudah menerima kami, itulah sedikit gambaran dari berbagai berlimpahnya penghinaan yang tersurat maupun yang tersurat yang seolah tak henti-hentinya mendera hati dan dan perasaan kami.

Terlebih yang menyayat hati dan nurani ketika para Difabel dianggap tidak berhak untuk mencinta sesama lawan jenis, banyak yang berkata

“Bisa apa dia? Hidupnya pincang. Nanti masa depanmu juga pincang.”

Bisa apa dia? Untuk melihat saja tidak bisa, untuk bersuara pun tidak bisa. Masa depanmu mau jadi apa hidup dengan orang seperti itu? Masa depanmu juga akan gelap nantinya.”

Lontaran cacian, makian apapun bentuknya. Membuat kami merasa seperti manusia kerdil di hadapan mereka, tetapi tidak di mata Sang Maha Pemberi Cinta, yang memberikan nikmat kepada hambanya untuk mencinta, jelas saja berlandaskan cinta Tuhan pun menciptakan seisi semesta melalui cintanya kepada hamba-hambaNYA yang bernyawa. Sedangkan kalian hanya bisa menyudutkan kami agar tidak layak untuk membangun rumah tangga, kami bukan ingin membangun rumah makan yang bertangga, tetapi rumah tangga dengan segala petualangan di dalamnya.

Semenjak kejadian pada Maret 2010 yang membuatku menjadi punya hambatan dalam  bergerak. Namun, tidak membatasiku untuk bergerak menuntun dimana arah mata hati bergerak menuju keseteraan pada sesama manusia, yang terpenting nurani kita tidak ditembak mati oleh sisi kelamnya pemikiran yang cacat, menyudutkan segala hak dan batil bahwa difabel tidak berhak untuk menjalani kehidupan sesungguhnya untuk menyempurnakan agama.

Sehina itu kah kami di mata kalian yang masih ingin terlihat “Normal” pada sesama hamba? Sehina itu kah kami, sehingga banyak teman-temanku yang mengalami nasib yang sama ketika banyak pesan yang masuk bahwa teman-temanku banyak memutuskan hidupnya agar tidak menikah? Karena selalu di hadapkan dengan permasalahan yang sama yakni “Kondisi” yang katanya kami berketerbatasan? Bukannya semua manusia pun punya keterbatasan juga? Mengapa masih banyak orang yang menganggap kami hina? Sampai-sampai yang paling pedih ialah ketika mendapat kabar juga dari seorang kawan bahwa ada seorang Difabel netra yang bermimpi ingin menikah. Namun, lingkungan sekitar tidak mendukungnya dan pada akhirnya ia harus merelakan nyawanya dengan tenggelam atas pikirannya yang membuat ia bertemu Sang Maha Pemberi Cinta terlebih dahulu.

Kami, difabelpun berhak untuk menikah. Berhak untuk mencintai dan dicintai, jangan pernah membatasi kami dengan segala hal yang menurut kami diluar nalar rasio otak manusia dengan diskriminasi, sampai-sampai rekan kami pun harus meregang nyawa akibat penolakan demi penolakan yang terus ditempa, coba kalian bayangkan betapa nestapanya kami yang terus-menerus dihadapkan dengan menyudutkan kondisi kami yang tidak layak untuk menikah, dengan alasan tidak bisa memberikan kehidupan yang layak atau sekadar memberikan nafkah kepada istri misalkan, bukankah rezeki sudah ada yang mengatur dari Dia Sang Pemilik Semesta? Kalau kalian masih menganggap kami tidak bisa memberikann nafkah, berarti kalian sama saja tidak percaya dengan rezeki yang diciptakan oleh Tuhan.

Sudah cukup miris bukan? Apa masih belum cukup? Kami terus menerus di dera prahara yang itu-itu saja, ingin melangkahkan kaki lagi dalam petualangan berumah tangga, kelak membuat separuh agama di sempurnakan. Bukannya itu semua adalah hak sebagai manusia, untuk bisa merasakan apa arti cinta yang sesungguhnya. Karena sebagian besar difabel bahwa menikah adalah sebuah cita-cinta yang kami idam-idamkan, kelak bisa beribadah bersama pasangan, hingga nanti hingga mati. Bahwa sesungguhnya, duniapun sebatas taman di akhirat kelak dan kita semua yang sedang hidup di dunia ini sedang merayakan kematian, dengan cara mendekatkan diri dan lebih mesra lagi kepada Sang Maha Pemberi Cinta.[]

 

Penulis: Irfan Ramadhan

Editor   : Ajiwan Arief  

 

The subscriber's email address.