Lompat ke isi utama

Kerentanan Difabel dan Upaya Advokasi

Solider.id - Difabel adalah salah satu kelompok yang termasuk ke dalam kategori kelompok rentan. Hal ini disampaikan oleh Slamet Thohari (ketua Aidran Indonesia) dan Santi Kusumaningrum (direktur Puskapa UI.

Dalam diskusi yang diselenggarakan  1 Agustus 2020, Santi Kusumaningrum menjelaskan bahwa salah satu kerentanan difabel disebabkan karena pasca kelahiran, difabel tidak terdaftar dengan akta kelahiran. Ini biasanya, diakibatkan keterbatasan akses, baik pengetahuan, sosial ekonomi, atau transportasi.

Misalnya saja, ketika keluarga difabel tinggal di desa, maka ia akan kesulitan membuat akta kelahiran. Hal itu karena, ketika membuat akta kelahiran, seseorang harus ke pusat kabupaten/kota. Tentu saja, bagi kabupaten/kota yang di luar Jawa, dimana mengakses ke pusat kabupaten/kota harus menggunakan perahu, maka itu akan menyulitkan.

Bahkan bukan hanya difabel yang hanya memiliki kesulitan membuat akta kelahiran. Bahkan, anak yang terlahir dari orangtua difabel juga akan menjadi rentan.

Hal ini dikonfirmasi oleh Slamet Thohari  yang merupakan difabel juga terlambat mendapatkan akta kelahiran. Ia baru mendapatkan akta kelahiran ketika bersekolah di jenjang SMP. Padahal, ketika seseorang tidak memiliki akta kelahiran, maka itu akan membuatnya kehilangan akses terhadap layanan publik lainnya.

Upaya Menumbuhkan Empati

Hal lain yang dibahas dalam diskusi yang bertemakan “Mendengar yang Tak 'Terdengar'”, yakni upaya menumbuhkan empati terhadap difabel. Slamet Thohari, menceritakan pengalamannya dalam melakukan upaya menumbuhkan empati terhadap isu difabel. Ia bercerita mengenai pengalamannya selama bekerja di Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya.

Ia memulainya dengan melakukan pembukaan pendaftaran relawan untuk mahasiswa difabel di Universitas Brawijaya. Saat memulainya, ia sempat terkejut. Sebabnya, karena pada pembukaan pendaftaran pertama saja, sudah ada ratusan mahasiswa nondifabel yang bersedia untuk menjadi relawan bagi mahasiswa difabel.

Fakta ini menunjukkan bahwa empati terhadap difabel masih cukup tinggi dikalangan anak muda. Meskipun, pada awalnya mereka mendaftar sebagai relawan, itu sebagian besar didasari oleh rasa kasihan. Namun, bagi Slamet Thohari, itu bukan masalah. Perspektif para relawan tersebut, kemudian dapat diubah melalui upaya pemahaman yang bertahap.

“awalnya, ketika ditanya mengapa mereka mendaftar sebagai relawan, ada yang menjawab karena perintah gereja, perintah kiyai, dan ingin bermanfaat bagi orang lain”. Ungkap laki-laki yang akrab dipanggil Amex ini.

Berbagai relawan itu, bahkan terdiri dari latar belakang yang beragam. Ada yang berasal dari aktivis partai islam, ada yang berasal dari kelompok minoritas orientasi seksual, dan lain sebagainya. Lewat semangat perjuangan atas isu difabel, perbedaan latar belakang itu dapat dipersatukan.

Bahkan, bermula dari pengorganisasian relawan, Slamet Thohari bersama institusinya berhasil menciptakan kader-kader aktivis difabel dan juru Bahasa isyarat. Beberapa juru Bahasa isyarat, sekarang malah telah membantu berbagai forum seminar dan televisi.

Apa yang dikerjakan Slamet Thohari bukan berarti tanpa tantangan. Salah satu tantangan yang muncul, yakni konsistensi relawan. Ada beberapa relawan yang setelah mendaftar, kemudian memilih untuk melanjutkan kontribusinya di dunia kerelawanan.

Santi Kusumaningrum, mengapresiasi upaya yang dikerjakan oleh Slamet Thohari. Menurutnya, memang investasi kesadaran berempati, seharusnya lebih banyak ditanamkan kepada anak muda. Porsi kampanye kesadaran berempati bagi anak muda ini, harus lebih besar dari pada generasi yang lebih tua.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.