Lompat ke isi utama
suasana rapat pembentukan sekolah lapang desa inklusi

SEHATI Sukoharjo Inisiasi Sekolah Lapang Desa Inklusi

Solider.id, Sukoharjo - Paguyuban SEHATI Sukoharjo menginisiasi adanya Sekolah Lapang Desa Inklusi. Inisiatif tersebut didkunung oleh Program Peduli. Program tersebut tengah membentuk Tim Penyusun yang saat ini sedang melakukan penyusunan materi modul. Dalam program Sekolah Lapang Desa Inklusi dibutuhkan tempat yang akan digunakan sebagai lokasi sekolah. Maka hal yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan assessment atau penilaian kinerja Desa Inklusi sesuai panduan fasilitasi desa inklusi Kemendesa, dan 12 orang asesor melakukan pembekalan pada Senin (27/7) di Loka Bina Karya (LBK) Sukoharjo.

Ke-12 orang tersebut terdiri dari para pendamping desa dan ketua Self Help Group (SHG). Keterlibatan difabel tidak hanya sebagai asesor saja namun juga masuk dalam tim penyusunan materi modul.

Menurut Ketua SEHATI, Edy Supriyanto, program Sekolah Lapang Desa Inklusi ini adalah yang pertama diselenggarakan di Indonesia sehingga belum ada tiruan atau padanan modul, namun secara garis besar ada acuannya yakni panduan fasilitasi desa inklusi. Menurutnya, program ini juga dilakukan dengan progres belajar bersama dengan para asesor. Beberapa hal menjadi komponen kerja para asesor, yakni terkait akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat. Ke empat komponen tersebut memuat instrumen sumber verifikasi berupa dokumen foto dan hasil wawancara dengan masing-masing memuat penilaian.

Terkait akses beberapa pertanyaan menyasar bagaimana kelompok marjinal dan rentan terdata dalam dokumen desa, bagaimana pelibatan kelompok marjinal dan rentan dalam penyusunan RPJMDesa, juga keterlibatan mereka dalam tim RKPDes, hingga bagaimana dalam pengadaan barang dan jasa, serta apakah mereka memiliki hak pelayanan yang sama dan adil yang dilakukan oleh desa. 

Pelatihan dan pembekalan tim asesor, juga membuka peluang diskusi secara terbuka terkait formulir yang sebelumnya disusun, karena ke-12 orang tersebutlah yang akan bekerja di lapangan untuk melakukan asesmen. Beberapa masukan diterima, karena disesuaikan dengan local wisdom atau yang terkait dengan kearifan desa yang didampingi. 

Sulistri, ketua SHG Desa Jatisobo Kecamatan Polokarto salah seorang asesor kepada solider.id menyatakan kesiapannya untuk melakukan asesmen. Namun dia belum mengetahui secara pasti di mana dan berapa lokasi desa yang akan dijadikan objek asesmennya, karena menurutnya masih akan ada pertemuan lagi untuk melakukan bimtek. Ia memiliki tekad bulat bahwa dalam asesmen nanti akan melibatkan aparat desa dan teman-temannya di komunitas.

Menurut Edy, saat ini formulir tersebut juga sedang dia bagikan kepada pilar program peduli yang lain untuk menerima masukan. Ia menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam asesmen masih bersifat kuantitatif, belum mengarah kualitatif seperti yang ada saat ini belum tergambar bagaimana peningkatan kapasitas masyarakat terkait inklusi sosial, “apakah tetangga saya sudah paham tentang difabilitas” dan beberapa pertanyaan lainnya. Menurutnya formulir tersebut trial and error-nya masih tinggi, sehingga bisa dikembangkan lagi.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.