Lompat ke isi utama
salah satu aksesibilitas bidang miring yang terdapat di salah satu sudut kampus UGM

UGM Berproses jadi Kampus Inklusi, Begini Kata Mahasiswa Difabel

Solider.id,Yogyakarta - Berdasarkan Pidato Rektor  UGM (Universitas Gadjah Mada) saat acara puncak Dies Natalis-70 kemarin di gedung Grha Sabha Pramana, menyatakan komitmen UGM menjadi kampus inklusif. Kemudian direalisasikan dengan membentuk Pokja Difabel yang nantinya akan bertransformasi menjadi sebuah Unit Layanan Difabel (ULD). Selain itu, UGM juga telah memiliki UKM Peduli Difabel sejak tahun 2013 sebagai wadah mahasiswa melakukan kegiatan yang befokus pada isu difabel. Hal-hal tersebut merupakan wujud konkret kepedulian serta komitmen UGM untuk lebih memantaskan diri menjadi kampus inklusif. Lantas bagaimanakah tanggapan mahasiswa difabel UGM terkait hal itu?

Nathania Tifara Sjarief, Mahasiswa Tuli Magister Manajemen angkatan 2019, menceritakan bahwa tantangan mulai dirasakannya ketika mendaftar di UGM. Tepatnya ketika tes listening bahasa inggris yang merupakan salah satu tahapan dalam seleksi pascasarjana. Padahal, sebelumnya dirinya telah memohon keringanan berupa penyediaan headset serta opsi untuk diganti tes tulis lainnya dengan tidak mengurangi standar yang ada. Kemudian permohonan itu ditolak UGM dengan alasan belum memiliki SOP khusus untuk tuli. Walaupun demikian, Nia merasa bersyukur karena pada akhirnya diterima di Program Magister Managemen.

Ketika sudah dinyatakan diterima di UGM, Nia merasa semakin tertantang karena metode pembelajaran di jurusannya yang menuntut setiap mahasiswa harus aktif berdiskusi baik dengan dosen maupun sesama mahasiswa lain. Percakapan cepat di dalam kelas juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Kondisi pun kian berat ketika UGM secara serentak mengeluarkan kebijakan kuliah daring. Hal itu karena suara dari media elektronik seperti gawai, laptop, dan lainnya, cukup membuatnya sedikit kebingungan dalam memahami informasi.

“Ketika pertama kali mengikuti kuliah daring, saya sangat kesulitan dalam memahami arah pembicaraan baik dosen atau teman-teman. Jadi setelah perkuliahan daring pertama itu, saya merasa blank dan tidak mendapatkan informasi apapun,” keluhnya.

Kemudian, hal itu melatarbelakangi Nia untuk menceritakan hambatannya selama mengikuti perkuliahan daring kepada Wuri Handayani (Ketua Pokja Difabel UGM). Singkatnya, Wuri kemudian berkoordinasi dengan UKM Peduli Difabel dan setelah itu menyediakan note taker (juru ketik) pada setiap sesi perkuliahan.

“Saya pribadi merasa sangat bersyukur kepada UGM, dalam hal ini Pokja dan UKM, karena sudah sangat responsif dalam menyediakan juru ketik sehingga sangat membantu dalam menyerap setiap informasi dan memahami kosa kata ketika kelas. Walaupun, sebenarnya Sekolah Pascasarja atau Magister Manajemen belum memiliki fasilitas atau kebijakan khusus terkait difabel, mungkin hal ini bisa menjadi pelajaran tersendiri untuk kita kedepan,” tuturnya.

Kendati demikian, Nia sangat mengapresiasi dengan segala bentuk perhatian dan layanan yang optimal dari UGM melalui Pokja Difabel dan UKM Peduli Difabel. Selain itu, Ia juga mengamati ada semangat gotong royong yang begitu tinggi dan mau membuka ruang-ruang komunikasi kepada mahasiswa untuk menyampaikan hambatan selama proses perkuliahan.

Nia berharap nantinya akan ada sebuah sistem atau SOP di UGM yang akan mengakomodasi berbagai macam kebutuhan masing-masing mahasiswa, termasuk difabel. Ia juga berpesan bagi adik-adik yang akan mendaftar UGM agar selalu terbuka dengan segala kondisi masing-masing baik kepada akademik maupun teman-teman perkuliahan dan harus selalu percaya diri dengan kemampuan untuk menghapus stigma yang ada.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Tio Tegar Wicaksono, Mahasiswa Difabel Netra Fakultas Hukum angkatan 2016, yang turut menceritakan pengalamannya saat mengikuti ujian tulis di tahun 2016.  Ketika mengisi formulir pendaftaran, dirinya menulis terkait akomodasi khusus yaitu memerlukan pendamping yang bertugas untuk membacakan soal dan menuliskan jawaban.

   “Beruntungnya saat hari H kebutuhan saya dapat dipenuhi dengan baik oleh UGM. Walaupun masih ada beberapa cacatan yang perlu diperbaiki, seperti tidak ada waktu tambahan. Padahal kecepatan orang dalam membaca dan mendengarkan tentu saja berbeda. Tetapi hal ini setidaknya bisa menjadi evaluasi untuk meyiapkan ujian tulis supaya lebih akomodatif kepada kawan-kawan difabel,” keluhnya.

Setelah dinyatakan lolos dan telah menjalani perkuliahan selama 4 tahun, dirinya mengaku nyaris tidak menemui hambatan sama sekali. Hanya saja, diawal perkuliahan dirinya mengaku meminta kepada fakultas agar dirinya dapat mengerjakan ujian dengan menggunakan laptop yang dilengkapi dengan software pembaca layar. Singkatnya permohonannya tersebut disetujui pihak fakultas dan sekaligus membuktikan bahwa Fakultas Hukum sudah cukup terbuka dan responsif dengan isu difabel.

“Kendala lain, ketika melakukan editing formil mengalami beberapa kesulitan, namun disini mendapat bantuan dari teman-teman kuliah. Saya kira dukungan fakultas dan teman kuliah mengambil peran penting dalam menciptakan aksesibilitas pembelajaran bagi difabel,” urainya.

Hal lain yang cukup disayangkan Tio adalah aksesibilitas fisik di kampus UGM. Pasalnya, ia menyebut masih banyak bangunan dan tempat publik seperti pedestrian yang belum akses dan ramah kepada difabel. Sebagai contoh masih ada pedestrian yang masih terdapat penghalang berupa pohon. “Banyak bangunan dan tempat publik seperti pedestrian belum akses dan ramah kepada difabel. Saya kira ini menjadi tugas bersama,” urainya.

Meskipun demikian, Tio menyoroti terkait adanya pembentukan UKM Peduli Difabel dan Pokja Difabel, merupakan bentuk keberpihakan universitas kepada isu difabel. Ia turut menggarisbawahi poin kesadaran sosial di UGM juga sudah cukup mampu menerima keberadaan difabel.

“Siapapun nantinya, yang lolos menjadi mahasiswa difabel UGM harus terbuka dalam menyampaikan kebutuhannya. Tidak perlu merasa malu karena disini Pokja dan UKM siap membantu dengan memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan sehingga hak-hak kawan-kawan bisa terpenuhi. Perlu diketahui juga bahwa tidak ada pengkhususan seleksi masuk untuk difabel di UGM sehingga harapannya kawan-kawan agar lebih menyiapkan diri,” ungkapnya kembali.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.