Lompat ke isi utama
ilustrasi foto Surya Sahetapy

Surya Sahetapy, Ayo Bangun Indonesia Lebih Baik

Solider.id – Surya Sahetapy, aktifis difabel yang cukup popular mengungkapkan harapannya untuk Indonesia agar semakin baik dalam pemenuhan dan perlindungan hak bagi dfiabel. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa kawan-kawan difabel juga harus terus-menerus meningkatkan kapasitas yang dapat mengembangkan diri lebih baik. Melalui sebuah diskusi online, ia banyak bercerita pengalamannya.

Menurut Surya, dengan capaiannya saat ini, kesetaraan difabel  masih belum membanggakan. Hal ini karena Indonesia sekarang masih belum seutuhnya ramah bagi difabel.

“Jika Indonesia sudah ramah difabilitas baru bisa bangga, tapi butuh waktu yang lama untuk mencapai tujuan itu, jadi harus mengembangkan diri dulu. Banyak masyarakat di Indonesia belum paham betul bagaimana cara menghadapi orang difabel”.

Ia menceritakan kisah perjalanannya saat bersekolah dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar sering khawatir, cemas, dan ragu-ragu ketika berhadapan dengan orang-orang.

“Tapi dengan rasa cemas itu saya bisa mengembangkan diri, missal kalau saya merasa cemas saya harus bagaimana, apakah saya harus melawan atau bagaimana, itulah yang saya pikirkan saat itu. Itu hal yang tidak mudah dan butuh waktu yang panjang karena terlibat dalam dunia Tuli dan dengar, misal di sekolah, dulu saya waktu di Indonesia mencicipi 4 sistem pendidikan yaitu TK umum ke TKLB, SDLB, SMP umum, lalu SMA saya masuk home schooling dan di kampus saya masuk universitas swasta, akhirnya berlanjut ke Amerika.” Ujarnya

Pelbagai tantangan pun ia hadapi, ketika ia merasa hambatan berasal dari dirinya sendiri sebagai orang Tuli.

“Alhamdulilah guru dan keluarga tetap mendukung saya, karena saaya berpikir karena saya Tuli, hambatannya dari saya sendiri, dan ketika saya masuk ke komunitas Tuli ternyata hambatan bukan dari saya sendiri karena saya Tuli, hambatan lebih pada orang-orang yang belum memahami kami, nah itulah.   Artinya terlahir sebagai orang Tuli tidak masalah, tetapi hambatannya orang-orang yang masih belum memahami.” Katanya

Di kalangan masyarakat dan di sekolah ada istilah Tuli dan tunarungu, menurut Surya hal tersebut bukan hanya istilah saja namun ada identitas tersendiri.

“Dulu saya hidup sebagai tuna rungu sampai sekira umur 18 tahun dan itu baik-baik saja, tapi ketika saya bergabung dengan teman-teman Tuli, dan belajar kajian-kajian Tuli, disitu saya mengenal bahwa Tuli adalah istilah yang menggambarkan bahwa komunitas mempunyai identitasnya sendiri dan sebagai sebuah kelompok budaya sendiri. Sedangkan tuna rungu merupakan istilah yang digunakan perspektif medis artinya ketunarunguan adalah sebuah penyakit yang harus diperbaiki. Jadi disaat saya hidup jadi tuna rungu artinya saya berpura-pura menjadi orang dengar seperti yang lainnya. Ketika saya bergabung di komunitas Tuli, saya mendapat identitas saya sendiri. Mungkin orang-orang sudah terbiasa dengan tunarungu, tetapi kata Tuli selain mengerti katanya juga harus tahu maknanya yaitu sebuah identitas kelompok. Jadi bukan Tuhan mengambil pendengaran kita lalu kita meminta kembali, tetapi kita menjalankan hidup sebagai orang Tuli. Jadi Tuli itu enak, kita tidak mendengar tapi visual kita tajam kita bisa bahasa isyarat.” Tuturnya

Dengan bahasa isyarat teman-teman Tuli bisa menemukan kebebasannya, karena bahasa isyarat mempunyai variasi, dan teman-teman Tuli serta dengar mengembangkan bahasa isyarat.

“Jadi saya harap anak Tuli bisa mendapatkan akses bahasa isyarat sebagai bahasa pertamanya. Seperti saya yang menjadikan bahasa isyarat sebagai bahasa pertama saya lalu yang kedua bahasa Indonesia khususnya untuk yang tulis, ketiga bahasa inggris, bahasa keempat bahasa isyarat amerika, kelima bahasa isyarat inggris. Saya juga pernah belajar bahasa isyarat Hongkong, Korea, dan Argentina, saya suka belajar bahasa yang beraneka ragam. Coba dibayangkan jika anak Tuli yang tidak mempunyai akses bahasa isyarat. Jadi saya sangat beruntung bisa mengakses bahasa isyarat dari almarhum kakak saya yang Tuli dan paman saya yang Tuli. Kalau ada anak Tuli yang satu-satunya di dalam keluarga, ini bisa dengan cara orang tuanya memperkenalkan dengan orang dewasa Tuli untuk mengakses bahasa isyarat, ini sangat penting karena untuk masa depannya agar lebih cerah.” Jelasnya

 

Ingin Ke Luar Negeri dan Belajar Bahasa Inggris

Ia juga menceritakan lika-liku kehidupannya yang sering berganti mimpi, yang berawal dari mimpinya untuk tinggal di luar negeri terhambat karena di sekolahnya tidak ada pelajaran bahasa inggris.

“Dulu saya pernah bermimpi untuk tinggal di luar negeri, dan saya pernah protes di sekolah untuk di ajari bahasa inggris, dan saya berhenti sekolah karena sekolah tidak mengajari saya bahasa inggris, tetapi orang tua terus membujuk untuk tetap di sekolah. Saya juga mempunyai cita-cita menjadi pemain sepak bola, dan terhenti waktu SMP karena mata saya minus. Lalu SMA, saya tertarik di IT atau komputer dan ketika lulus SMA saya ingin meneruskan kuliah dengan jurusan IT tapi terbentur dengan persyaratan yang tidak memperbolehkan Tuli mendaftar di jurusan tersebut. Kemudian saya beralih lagi dan tertarik ke psikologi, namun guru dan teman-teman bilang kalau saya tidak cocok di psikologi, dan itu membuat ku ragu, lalu batal lagi. Nah, saya kembali ke mimpi pertama untuk tinggal dan belajar di luar negeri, jadi saya masuk ke jurusan bahasa inggris, keluarga dan teman-teman kaget karena menurutnya saya tidak bisa speaking dan listeningnya, tetapi saya tetap percaya diri dan tetap mengambil jurusan inggris, walaupun saya beranggapan akan ada hambatan yang banyak namun saya tetap mengambil jurusan tersebut, khususnya ke pendidikan bahasa inggris, supaya saya bisa menunjukkan bahwa bahasa inggris juga bisa dipelajari oleh teman-teman Tuli, karena saya lihat banyak teman-teman Tuli yang takut belajar bahasa inggris karena sudah merasa kesulitan dan ketakutan terlebih dahulu.” Tukasnya

Ketika ia sudah menempuh pendidikan bahasa inggris, ia pun menjalani magang di kantor gubernur pada tahun 2016, disana ia belajar tentang anggaran, kebijakan, dan sebagainya.

“Disitu saya tertarik untuk belajar di dunia itu, jadi beralihlah saya dari bahasa inggris ke public policy, tujuan sebenarnya adalah dengan kebijakan kita itu bisa mengusahakan kehidupan yang lebih baik, sejahtera, untuk teman-teman Tuli. Akhirnya saya berhenti kuliah dari pendidikan bahasa inggris, dan mulai mendaftar ke beasiswa di universitas Australia dan Inggris, tetapi disana saya harus mengulang dari awal, sementara di Amerika saya bisa transfer SKS, kemudian saya mendaftar universitas di Amerika dan berusaha untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah, tetapi syaratnya untuk mendapatkan beasiswa itu setelah selesai kuliah harus pulang ke Indonesia dan mengabdi, dan juga beasiswa dari pemerintah rata-rata untuk S2 dan S3, lalu saya cari lagi dan mendapatkan sponsor dari jepang.” Ujarnya

Dari sini ia mempelajari bahwa bahasa inggris penting untuk teman-teman Tuli, dan tidak ada masalah ketika teman-teman Tuli belajar bahasa inggris. Dan ini juga pentingnya bahasa isyarat karena sebagai bijakan awal, bahasa isyarat menjadi alat perkembangan kognitis mereka, kalau perkembangan kognitis anak-anak Tuli baik, maka mereka bisa belajar bahasa yang lain. Jadi bahasa isyarat ini merupakan kunci kesetaraan bagi orang dengar dan orang Tuli.

“Saya mendapatkan 3 beasiswa, yang pertama beasiswa dari Universitas Sampoerna, juga mendapatkan short courses atau kursus pendek dari Australia, 4 bulan kemudian saya diterima di Rochester Institute of Technology, New York untuk menempuh S1, jadi caranya adalah kita harus mendaftar dulu dan diterima dulu dan harus memenuhi syarat. Jadi cobalah untuk mendaftar beasiswa sebanyak-banyaknya jangan hanya satu beasiswa saja, jika kita gagal kita harus mengulang terus dan melihat apa yang membuat kita gagal.” Ucapnya

Dalam pernyataan penutup acara ini, ia mengajak teman-teman untuk saling bekerjasama membangun Indonesia agar lebih ramah untuk semua orang.

“Saya tahu bahwa di Indonesia masih banyak hambatan, tapi bagaimana cara kita menyamakan pikiran, bekerjasama, dan mengusahakan agar Indonesia menjadi ramah untuk semua orang, membuat Indonesia semakin maju. Kita harus siap bekerjasama dan mengedukasi masyarkat dan kita buktikan Indonesia lebih ramah dari negara lainnya, dan untuk teman-teman Indonesia yang di luar negeri ayo balik kita bangun Indonesia bersama-sama.” Harapnya.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.