Lompat ke isi utama
beberapa tulisan terkait informasi kegiatan ugm update dalam bentuk poster

UGM Update; Kuatkan diri Sebagai Kampus Inklusi

Solider.id,Yogyakarta - UGM Update kembali terselenggara pada Selasa (28/7) pagi dengan tema “Menguatkan UGM sebagai Kampus Inklusif” dan disiarkan secara langsung melalui beberapa platform. Diskusi kali ini  menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D. (Ketua Pokja Difabel UGM), Nathania Tifara Sjarief (Mahasiswa Tuli Magister Manajemen), Tio Tegar Wicaksono (Mahasiswa Difabel Netra Fakultas Hukum).

Singkatnya, UGM Update merupakan diskusi yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan mengangkat berbagai macam tema dan dilaksanakan secara rutin setiap hari selasa dan kamis. Sedangkan, tema kali ini diangkat dalam rangka memetakan sejauhmana hal-hal yang telah dilakukan UGM sebagai upaya menguatkan citra kampus inklusif bagi semua kalangan.

Diskusi diawali oleh paparan Wuri yang menyatakan bahwa UGM sebagai kampus inklusif didasari atas prinsip education for all. Hal itu yakni semua orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Selain itu, hal ini untuk merespon berbagai macam keberagaman dalam kehidupan, meliputi karakteristik manusia baik secara fisik maupun non fisik. Maka dari itu, lahirlah sebuah konsep inklusif yang mana konsep tersebut akan menerima segala bentuk keragaman dan perbedaan, termasuk difabel menjadi satu bagian utuh.

“Sebenarnya secara alami, UGM sudah menjadi kampus inklusif dengan mengakomodasi semua anak-anak terbaik bangsa dari seluruh Indonesia, sehingga secara mendasar sebenarnya sudah memiliki modal kesadaran sosial yang tinggi. Hal itu juga diperkuat dari pidato Rektor UGM saat acara Dies Natalis tahun 2019 kemarin yang menyatakan komitmen UGM untuk menjadi kampus inklusif dan terbuka bagi seluruh macam bentuk keragaman,” urainya.

Lebih lanjut, Wuri menyampaikan keseriusan UGM dalam menguatkan diri sebagai kampus inklusif melalui pembentukan Pokja Difabel yang berdasar amanah dari Sekretraris Rektor UGM. Ia juga menyebut bahwa sebenarnya sudah ada renstra di UGM yang mengatur terkait layanan kepada seluruh sivitas akademika difabel mulai dari mahasiswa, dosen, hingga tendik.

“Pokja Difabel ini ditujukan untuk mempersiapkan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pembentukkan Unit Layanan Difabel (ULD). ULD sendiri dimaksudkan sebagai sebuah entitas yang mengawasai implementasi renstra tadi dengan memberikan layanan prima kepada seluruh sivitas akademika difabel UGM, serta turut memberikan rekomendasi terhadap kebijakan kampus supaya lebih inklusif,” tuturnya.

Wuri menyatakan dalam pembentukan ULD, UGM berkaca pada regulasi yang ada, yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Selain itu, dasar lainnya yakni Permen Ristekdikti Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus dan PP Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas, yang mana merupakan peraturan panduan pelaksanaan UU No. 8 Tahun 2016 tadi.

“Aturan-aturan tersebut menginstruksikan kepada seluruh entitas penyelenggara pendidikan termasuk universitas untuk membentuk unit atau pusat layanan difabel dalam rangka menyediakan layanan serta menjamin pemenuhan hak difabel dalam bidang pendidikan. Terlebih, yang dinamakan pendidikan inklusif tentunya akan memerlukan beberapa modifikasi dalam metode pengajarannya. Modifikasi tersebut ditujukan untuk mengakomodasi segala macam kebutuhan mahasiswa sehingga dapat mengikuti perkuliahan secara optimal,” paparnya.

Selain itu, Wuri turut menjelaskan apa saja hal-hal yang telah Pokja Difabel lakukan selama kurun waktu hampir setahun ini. Hal itu seperti mengadakan forum group discussion dengan para mahasiswa, dosen, dan pemangkukebijakan terkait isu difabel. Kemudian, mereka juga melakukan sejumlah audiensi kepada beberapa entitas seperti direktorat dan fakultas, melakukan survei aksesibilitas fisik dan layanan akademik, serta beberapa kegiatan lainnya.

Wuri berharap kegiatan-kegiatan tersebut akan lebih mengarusutamakan dan memperkenalkan isu difabel kepada seluruh kalangan UGM sehingga secara perlahan-lahan dapat menghapuskan segala bentuk stigma yang sering dikaitkan kepada difabel.  Hal itu karena, menurutnya, stigma merupakan persoalan yang paling fundamental dan tantangan terbesar bagi terwujudnya sebuah kampus menjadi inklusif.

“Untuk struktur dari ULD, rencananya nanti akan ada ketua, sekretaris dan dukungan sistem dari UKM Peduli Difabel yang sebelumnya telah terbentuk ditahun 2013. Terkait pembagian tupoksinya sendiri akan berbeda, dimana ULD akan berfokus pada aspek regulasi dan layanan, sedangkan UKM Peduli Difabel akan lebih berfokus pada berbagai macam kegiatan kemahasiswaan seperti halnya kelas bahasa isyarat, diskusi isu difabel, maupun agenda lainnya. Namun yang jelas dua entitas ini, nantinya saling bersinergi bersama dalam menciptakan kampus UGM yang lebih inklusif,” jabarnya.

Diskusi diakhiri oleh penyampaian pesan dari Wuri kepada seluruh calon mahasiswa difabel yang ingin mendaftar di UGM. “Kami tunggu di UGM dan kami siap untuk menerima adik-adik dari segala ragam difabel. Saya pribadi juga sangat berharap kepada seluruh sivitas akademika agar dapat bersinergi, bekerjasama secara profesional, dan saling bahu membahu sehingga kedepannya lebih menguatkan lagi UGM sebagai kampus inklusif,” pintanya mengakhiri.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.