Lompat ke isi utama
ILUSTRASI GAMBAR TULISAN POSTER DISKUSI MEDIA PLD UIN

Menyoroti Paradigma Media dalam Menghadirkan Difabel

Solider.id,Yogyakarta -Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga menggelar Monthly Coffeebility bertemakan “Representasi Difabel Dalam Media” secara daring melalui platform Zoom, Jumat (24/7) siang. Dalam diskusi tersebut turut menghadirkan Ajiwan Arief Hendradi (Redaktur Solider) sebagai pembicara. Monthly Coffeebility sendiri merupakan diskusi rutin PLD yang mengangkat isu-isu terkait difabel.

Ajiwan mengawali sesi diskusi dengan memaparkan bahwa difabel masih dianggap sebagai kelompok minoritas. Ia mencontohkan jika sampai saat ini belum ada kesetaraan hak bagi difabel untuk dapat berpartisipasi dalam setiap aspek kehidupan. Selain itu, masih sering dijumpai kasus perundungan dan diskriminasi yang menimpa difabel merupakan bukti nyata bahwa kesetaraan hak difabel belum sepenuhnya terwujud.

Menurutnya fenomena tersebut disebabkan dari ketidaktahuan masyarakat tentang keberadaan difabel. “Masyarakat kita sampai detik ini kurang terbiasa melihat dan berinteraksi dengan difabel. Tentu itu akan membuat masyarakat kurang bisa melihat keberagaman dan perbedaan yang terjadi disekitar mereka. Alhasil hal tersebut justru melahirkan paradigma yang seringkali digunakan masyarakat untuk melabeli difabel dan pada akhirnya difabel tereksklusi,” urainya.

Hal lain yang sangat disayangkan oleh Ajiwan adalah kelirunya media dalam membingkai dan menghadirkan difabel. Akibatnya hal tersebut akan lebih melanggengkan berbagai macam stereotip tentang difabel dimata masyarakat. Padahal media memegang peran penting dan strategis untuk mengubah cara pandang masyarakat tentang difabel.

Mengutip penelitian dari Paul Hunt, menyebut jika terdapat sepuluh macam stereotip yang sering media gunakan untuk menggambarkan difabel. Sedangkan dalam paparannya, Ajiwan menyebut setidaknya ada enam dari sepuluh stereotip yang sering digunakan media di Indonesia.

“Apabila kita teliti dalam melihat acara berita baik televisi maupun surat kabar, maka kita akan sering menemukan fenonema dimana difabel selalu dihadirkan sebagai sebuah objek tertawaaan, beban sosial, perlu dikasihani, dipandang akseksual, objek penarasan bahkan sumber inspirasi. Beberapa hal tadi merupakan stereotip yang lazim digunakan media di Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ajiwan menggarisbawahi dua poin penting yang seharusnya ditonjolkan oleh media di Indonesia. Poin pertama yaitu kampanye terkait pemenuhan hak difabel. Kampanye yang tentunya memuat unsur edukasi bahwa difabel menjadi difabel karena lingkungan, bukan karena kondisi kedifabelannya sehingga penting untuk mengubah lingkungan agar lebih akomodatif lagi. Melalui kampanye, diharapkan akan lebih meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pemahaman terhadap isu difabel.

Poin kedua yaitu dengan menempatkan difabel secara wajar dengan tidak melebih-lebihkan karakter difabel. Terlebih, banyak aktivis difabel diluar sana yang kurang setuju dengan penempatan difabel sebagai sumber inspirasi atau yang lebih dikenal dengan Inspiration Porn.

“Memang pada kenyataannya media saat ini sangat menjunjung tinggi sebuah rating serta menganggap jika konten tentang difabel masih kurang begitu diminati oleh masyarakat. Hal tersebut justru yang mendorong kurangnya keberpihakan media terhadap difabel,” tuturnya.

Kendati demikian, Ia sangat mengapreasi kepada media-media di Indonesia yang telah menghadirkan difabel secara wajar dan proporsional. Keberpihakan semacam ini menurutnya menjadi penting dan akan berdampak baik kedepannya. Dengan secara perlahan mengikis paradigma lama masyarakat lewat konten-konten yang berbau kampanye kesetaraan.

Diakhir diskusi, Ajiwan turut mengingatkan kepada peserta bahwa kita semua harus menjadi penikmat media yang teliti, dengan terus mengkritisi dan menjadikannya bahan diskusi. “Gempuran stereotip tentang difabel boleh saja ada, namun kita juga harus melawannya dengan cara yang positif dan elegan. Misalnya saja dengan memproduksi konten bernuansa kampanye sehingga akan mengurangi stereotip yang selama ini selalu melekat pada diri difabel. Semoga kedepannya akan semakin banyak lagi media-media nasional yang melek dan berpihak kepada difabel,” pintanya mengakhiri.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.