Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar logo ADA

Pengalaman Mahasiswa Indonesia: Bagaimana ADA Bekerja?

Solider.id – pada 26 Juli 2020 adalah peringatan 30 tahun diundangkannya American With Disability Act (ADA). Dalam rangka memperingati 30 tahun ADA, At America mengundang Surya Sahetapy, mahasiswa Tuli asal Indonesia yang saat ini sedang belajar di Rochester Institute of Technology. Surya Sahetapy  menceritakan bagaimana pelaksanaan ADA di Amerika

Surya mengatakan bahwa ADA berisi hak bagi difabel untuk mendapatkan akses dibidang pendidikan, pekerjaan, layanan publik, hak informasi, dan hak atas akomodasi. Undang-undang ini di inisiasi oleh kelompok difabel di Amerika. Menurut pengalaman Surya, karena diundangkannya ADA, hak informasi bagi Tuli dapat terpenuhi. Pemenuhan hak informasi ini berjalan dengan bertahap.

Dulu, Clost Caption di televisi bagi Tuli belum ada. Tetapi, setelah ADA diundangkan, sedikit demi sedikit semua televisi menyediakan clost caption. Sehingga Tuli dapat mengakses informasi dari televisi.

            Selain itu, hak atas informasi bagi Tuli, juga disediakan dengan adanya VRS. VRS merupakan rekayasa teknologi yang dapat mengubah suara dalam bentuk lisan menjadi Bahasa isyarat, dan begitu juga sebaliknya. Sehingga, dalam rekayasa teknologi seperti ini, Tuli dapat berkomunikasi dengan orang dengar.

Kemudian, Surya menceritakan, bahwa ADA bukan hanya berlaku bagi orang Amerika. Berdasarkan pengalamannya yang merupakan mahasiswa internasional di Amerika, ia tetap mendapatkan akomodasi yang layak sesuai kebutuhannya. Dikampusnya saja, tersedia sekitar 140 Juru Bahasa Isyarat untuk membantunya dalam perkuliahan.

ADA juga telah menjadi instrument penting dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran hak difabel di Amerika. Menurut keterangan Surya, universitas sekelas Harvard University, pernah digugat karena tidak menyediakan Clost Caption bagi Tuli. Alhasil universitas itu pun kalah di pengadilan.

Perusahaan-perusahaan besar pun telah memenuhi hak pekerja difabel untuk mematuhi ADA. “saya punya teman yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Apple, dan mereka menyediakan akomodasi bagi Tuli”. Ungkapnya pada diskusi yang diselenggarakan tanggal 25 Juli 2020.

Namun, untuk beberapa perusahaan kecil, mereka memang belum menyediakan akses informasi bagi difabel. padahal, sesungguhnya perusahaan kecil sekali pun, dapat membuat rencana anggaran untuk melakukan pemenuhan hak difabel.

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.