Lompat ke isi utama
Poster Fira Fitria dalam Bincang Alumni memperingati ADA

Fira Fitria Berbincang di Sapa Alumni, Memperingati ADA

Solider.id, Surabaya– Dalam rangka memperingati American Disability Act (ADA) atau Kebijakan Kesetaraan Difabel Amerika, Konsulat Jendral Amerika di Surabaya menggelar diskusi daring yang menghadirkan alumni pegiat Difabel. Diskusi bertajuk Sapa Amerika pada Rabu (22/7) menghadirkan Fira Fitria, alumni program IVLP 2019. Diskusi satu jam ini mengambil tema Memberdayakan dan Melibatkan Perempuan dan Perempuan Muda Difabel dan dipandu Esti Durahsanti.

Terkait dengan program pemberdayaan difabel perempuan yang saat ini dilakukan  Organisasi Difabel Tuban (ORBIT) adalah berkaitan dengan dampak pandemic Covid-19.

“Hal yang paling ingin saya ubah adalah mindset atau pemikiran. Terutama di daerah, perempuan Difabel masih sangat terpinggirkan. Bahkan orang-orang terdekat mereka masih meragukan apakah perempuan Difabel bisa berdaya,” jelas perempuan yang saat ini tengah menempuh pendidikan magister Kebijakan Publik di Universitas Airlangga ini.

Didampingi penerjemah bahasa isyarat, Dita Alfia, Fira menambahkan bahwa setelah adanya perubahan pola pikir, hal yang tidak kalah penting adalah memberikan kapasitas perempuan difabel itu sendiri. Setelah itu, di tingkatan lebih luas masyarakat perlu memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan difabel untuk bisa berdaya.

Fira merupakan aktor pendiri ORBIT, seorang perempuan difabel cerebral palsy yang aktif memperjuangkan hak-hak difabel di kota kelahirannya, Tuban. Pada Desember 2019 dia bersama beberapa rekan mengikuti program pertukaran International Visitor Leadership Program (IVLP) bertema Advokasi dan Kebijakan Bagi Masyarakat Adat, Minoritas dan Terpinggirkan selama tiga minggu.

Sementara itu Angie Mizeur, Kepala Humas Konjen Amerika di Surabaya menyatakan terkesan dengan semangat Fira. Angie yang saat ini masih bekerja dari rumah mengikuti diskusi dari kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat.

“Dia punya banyak energy, jadi kami bicara setelah program pertukaran dia menjelaskan bagaimana hidup (sebagai Difabel-red) di Amerika, apa yang dia pelajari. Dan melakukan banyak hal untuk membantu masyarakat paham tentang hak-hak Difabel,” paparnya.[]

 

Reporter: Ida Putri

Editor: Robandi

The subscriber's email address.