Lompat ke isi utama
Poster webinar Universitas Brawijaya, Malang

Prodi Kajian Difabel di Universitas Brawijaya

Solider.id, Jember– Ada yang baru di Universitas Brawijaya (UB) pada tahun ini, yaitu dibukanya Program Studi Magister Kajian Difabel. Peluncuran program dilakukan bersama Webinar bertajuk Why Disability Studies? pada Jumat (25/7).

Fadilah Putra, Wakil Direktur Pascasarjana UB menyatakan pendirian Prodi Kajian Difabel merupakan sebuah terobosan baru di Indonesia. Hal ini dikarenakan pilihan studi di Indonesia mayoritas masih didominasi satu bidang keilmuan saja. Sementara kajian Difabel merupakan kajian yang bersifat multidimensional.

“Meskipun menemui beberapa hambatan, saya memilki optimisme tinggi di program ini. Salah satunya karena saat ini fokus dunia intenasional pada isu ini cukup tinggi Sehingga para mahasiswa bisa bekerjasama di lingkup internasional,” jelasnya.

Sementara itu, Dan Goodley, professor dari Universitas Sheffield menyatakan kajian Difabel merupakan ilmu yang penting karena terkait dengan aspek manusia. Sehingga memerlukan pendekatan multidisiplin keilmuan. Apalagi di masa pandemic, bidang ini lebih dibutuhkan.

“Kajian Difabel merupakan reaksi timbal balik, berdasarkan pemikiran Difabel sebagai masalah sekaligus Difabel sebagai kesempatan,” ungkapnya.

Menurut Dan, saat ini di banyak keilmuan, para pakar selalu melihat isu Difabel sebagai hal terakhir yang dipikirkan. Misalnya ahli dalam konstruksi bangunan, tata kota, pembuat kebijakan dan lainnya acapkali meninggalkan isu Difabel. Ini menyebabkan kebutuhan Difabel menjadi tertinggal dalam berbagai aspek. Oleh karena itu dibutuhkan lahirnya ahli di kajian Difabel sebagai jembatan bagi jurang keilmuan ini.

Selain kedua narasumber di atas, hadir pula narasumber lain yaitu Vivi Yulaswati, Penasehat Senior di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Slamet Thohari, Dosen UB. Webinar yang diadakan dalam bahasa Inggris ini dimoderatori Wike, Ketua Jurusan Magister Kajian Difabel.[]

The subscriber's email address.