Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar diskusk virtual

Cerita Tantangan Akses Pertemuan Virtual bagi Difabel

Solider.id, Bandung sejak pandemi Covid – 19 merajalela di negara kita, sejumlah agenda penting dan pertemuan yang melibatkan banyak orang praktis lumpuh dan tak dapat dilakukan. Sebagai gantinya, sejumlah pihak merancang berbagai pertemuan, seminar dan bahkan pelatihan kedalam bentuk virtual. Hal ini tentu merupakan kebiasaan baru yang mau tak mau harus dilakukan. sementara itu, difabel yang pada umumnya memiliki banyak hambatan memiliki cerita tersendiri saat mengakses berbagai pertemuan virtual.

Kebijakan pemerintah sejak maraknya pandemi corona dengan menerapkan Social Distancing dan aturan Work From Home - WFH pada akhir Maret 2020, kemudian diteruskan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga saat ini memasuki fase New Normal yang masih terbatasi, segala kegiatan lebih memfokuskan pada akses layanan secara virtual atau daring.

Komunikasi melalui media online ini digunakan oleh banyak pihak, dari mulai kalangan profesional, pelajar dan mahasiswa, hingga masyarakat umum. Dilansir dari beberapa sumber, hasil analisa yang dilakukan oleh Satqo Analytics telah memperlihatkan data dalam rentang waktu satu pekan saja dari 20 Maret hingga 26 Maret 2020 lalu, pengguna aplikasi Zoom menembus angka 257.853 orang.

Memasuki fase New Normal, bukan berarti masyarakat sudah sepenuhnya bisa melakoni seluruh aktifitas hidup secara normal. Ruang gerak yang masih terbatas, sehingga berbagai kegiatan pun belum sepenuhnya dapat dilakukan dengan leluasa untuk dilakukan secara terbuka. Alternatif lain, menggunakan media online seperti Skype, Google Meet atau yang sedang marak digunakan yaitu Zoom Cloud.

Disadari masyarakat banyak, menggunakan perangkat teknologi dapat mempersatukan banyak individu dalam berkegiatan walau berada dalam ruang yang terpisah. Begitu pula dengan masyarakat difabel dalam berkegiatannya. Selain kegiatan di ranah pendidikan formal maupun non formal, organisasi atau komunitas pun banyak menggunakan aktifitasnya secara daring.

Disampaikan Dudi N Rahimi, dari salah satu komunitas difabel Bandung menuturkan, banyak kalangan masyarakat difabel yang masih harus beradaptasi dengan trend saat ini dalam berinteraksi sosial, meeting atau kegiatan lain.

“Intinya ketika di masa berbagai kegiatan dilakukan secara virtual, maka semua kalangan termasuk masyarakat difabel juga harus bisa beradaptasi dengan trend sekarang. Setahu saya sejauh ini di kalangan difabel belum terlalu banyak menggunakan aplikasi tersebut dalam berkegiatan,” paparnya.

Dudi juga menambahkan, munculnya ide memberikan pelatihan pada kalangan difabel untuk mengoperasikan aplikasi yang menjadi trend itu berawal dari rasa khawatirnya kepada para difabel yang berminat mengikuti kegiatan yang bersifat pelatihan, meeting atau silaturahmi semata. Namun, mereka dibenturkan pada kendala secara teknis yang belum dipahami menggunakannya.

“Ada rencana pelatihan public speaking untuk difabel secara virtual memakai salah satu aplikasi tadi, nah saya khawatir teman-teman belum terbiasa menggunakannya. Sebab itu, sebelum pelatihannya dilakukan, teman-teman diajak untuk belajar bareng dulu,” tandasnya.

Dr. Popy Diah Puspitosari, aktivis yang konsen terhadap difabel berpendapat, di masa pandemi ini, terjadi banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun dikatakan saat ini sudah masa transisi memasuki adaptasi kebiasaan baru, tapi belum normal seperti sebelum pandemi. Sementara kebutuhan bersosialisasi, belajar, berkarya tetap ada.

“Untuk yang nondifabel, semua sudah beralih cara menjadi daring. Teman-teman difabel pun memiliki kebutuhan dan hak yang sama untuk belajar, bersosialisasi maupun berkarya,” ungkap Popy.

Dirinya juga mengajak para difabel untuk mencoba mempelajari bersama metode daring tersebut, dengan harapan agar selanjutnya masyarakat difabel pun bisa mengikuti kegiatan-kegiatan yang biasa diadakan secara offline, berganti menjadi online sampai situasi lebih aman.

“Masyarakat difabel diharapakan tetap optimis dan belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru ini, serta dapat memanfaatkan metode pertemuan yang berbeda ini untuk tetap memperkaya wawasan serta mengisi waktu luang dengan berbagai hal positif,” jelasnya.

Sementara untuk para difabel sendiri mengoperasikan aplikasi berbasis internet dalam berkegiatan memang mesih dianggap sesuatu yang baru. Pada gelaran salah satu agenda nasional Ikatan Muslim Tunanetra Indonesia – ITMI misalkan, Yudi Yusfar sebagai ketua ITMI pusat menuturkan, kendala terbesar yang dirasakan oleh tim panitianya adalah memberikan edukasi penggunaan model aplikasi yang digunakan.

Untuk kalangan personal, difabel yang memang memiliki profesi kantoran dan sempat merasakan kebijakan work from home, mengaku tidak begitu kesulitan mengakses aplikasi yang sedang marak digunakan di masa pandemi, misal untuk kegiatan meeting atau kebutuhan kerja lainnya. Kendala lain yang justru dirasakan adalah rasa jenuh yang berlebihan saat melaksanakan meeting menggunakan aplikasi.

“Kita sebagai manusia fitrahnya adalah untuk berinteraksi secara nyata, melakukan meeting atau kegiatan kantor lainnya melalui virtual selama berbulan-bulan mengundang rasa jenuh,” pengakuan Ajiwan.

Dirinya juga mengakui, saat diberlakukannya fase new normal dan dapat kembali menikmati suana kantor dirasa lebih fress.

Kesulitan menggunakan aplikasi secara virtual juga sangat dirasakan para siswa dan orang tua murid dari kalangan sekolah luar biasa. Bentuk edukasi dan sosialisasi mengoprasikannya masih dibutuhkan pelatihan.

“Tahapan mengingstal dan registrasi untuk membukanya yang rumit,” pungkas Titin, salah satu orang tua siswa difabel.

Dari tuntutan kondisi pandemi dan kebutuhan sosialisasi melalui virtual tadi, Dudi melalui komunitasnya merancang pelatihan untuk mengoprasikan aplikasi yang marak digunakan untuk kegiatan virtual. Ia membuka kesempatan pada semua difabel dari ragam kedifabelannya untuk mengikuti pelatihan tersebut dua pekan yang lalu.

“Bagi yang ingin mengikuti pelatihan cara menggunakan aplikasi zoom, bisa mendaftarkan diri dan menginstal aplikasinya terlebih dulu,” kata Dudi.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan perdana tersebut diikuti juga oleh difabel Netra dan Tuli yang dibantu Juru Bahasa Isyarat (JBI)

“Masih harus ada sesi belajar berikutnya, karena masih banyak yang terkendala spilt bergabung ke zoom meeting,” tuturnya.

Samudra dosen salah satu Universitas di Cirebon mewakili difabel daksa, menurutkan trik untuk menghilangkan rasa jenuh atau radiasi pada penglihatan saat harus mengikuti metting virtual dalam durasi yang lama dan sering. 

“Untuk teman difabel selain Tuli, saat harus menggunakan aplikasi penunjang virtual yang sedang marak digunakan berbagai aktifitas komunikasi jangan terus dilihat, cukup didengarkan saja,” jelasnya.

Lain halnya dengan pengakuan Purwanti aktivis pengguna kursi roda asal Surakarta, selama pandemi ini setiap pekerjaannya membutuhkan akses dengan cara virtual. Ia mengatakan harus mencari lokasi hingga ke bahu jalan untuk mendapatkan signal, agar dapat mengikuti berbagai agenda kerjanya yang dibahas dalam metting.

“Bukan hanya untuk urusan kantor saja, tapi untuk semuanya. Daerah saya susah signal,” ungkapnya.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.