Lompat ke isi utama
ilustrasi pengalaman dari Kanada tentang praktik baik pendidikan bagi difabel di masa pandemi

Belajar dari Kanada, Pendidikan bagi Difabilitas di Masa Pandemi

Solider.id - Wahana Inklusif Indonesia bersama Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial dan Politik (LPPSP) mengadakan webinar tentang pendidikan bagi difabel di masa pandemi dengan pembelajaran dari Kanada. Mengundang narasaumber Irene Evy Wulandari sebagai pemerhati pendidikan difabilitas di Kanada dan Anissa Elok Budiyani selaku adolescent development officer Unicef Indonesia, akir pekan silam.

Hak pendidikan adalah hak untuk semua anak tak terkecuali anak difabel. Namun pada realitanya, pemenuhan hak anak difabel masih mengalami kesulitan. Tolhas Damanik, direktur eksekutif wahana inklusif Indonesia dalam sambutannya memaparkan menurut data yang dihimpun, anak-anak difabilitas di Indonesia yang menempuh pendidikan tidak lebih dari 30%.

“Kita selalu mrmpertanyakan mengapa yang 70% lagi sulit masuk padahal negara kita sudah berumur 75 tahun, dan gerakan untuk menciptakan pendidikan inklusif sudah lama lebih dari 20 tahun, tetapi angka untuk anak disabilitas menempuh pendidikan masih jauh.” Tutur Tolhas

Dalam masa pandemi, pendidikan anak difabel sangat terdampak ketika pembelajaran dilakukan di rumah yang dalam penerapannya sulit untuk dilakukan.

“Banyak para orang tua yang mengeluh akan hal ini, sehingga banyak orang tua yang ingin secepatnya pembelajaran di sekolah lagi, juga banyak guru yang memberikan materi yang sama pada anak difabel dengan anak nondifabel, juga belum adanya kebijakan yang mengatur bagaimana pembelajaran jarak jauh untuk sekolah inklusif. Masalah-masalah ini akan kita bahas pada webinar kali ini.” Ucap Tolhas.

Irene Evy Wulandari yang berdomisili di Kanada memaparkan bagaimana sistem pendidikan disana, dimana tidak ada anak-anak yang tertinggal.

“Penduduk di Kanada ada 37,5 juta dengan 6,5 juta adalah difabel, dari jumlah itu ada 200 ribu penduduk dengan usia masih sekolah. Di Kanada menjunjung prinsip equality yaitu kesetaraan yang diberikan baik untuk difabel maupun nondifabel, dan prinsip equity yaitu bantuan atau pendampingan khusus yang diberikan kepada difabel agar mereka dapat mengakses seluruh kegiatan atau fasilitas pendidikan.” Tutur Irene.

Jadi siswa berkebutuhan khusus dapat berpartisipasi di kelas regular sekolah umum, atau di kelas khusus sekolah umum, atau di sekolah luar biasa. Untuk kurikulum, ia menjelaskan ada dua jenis kurikulum.

“Kurikulum untuk siswa berkebutuhan khusus ada berupa blending curriculum yaitu campuran antara kurikulum mainstream dan individual, atau kurikulum individual yang dirancang khusus sesuai kebutuhan masing-masing difabel.” Ucapnya

Di Kanada untuk gedung sekolah sudah ditutup sejak pertengahan maret dan pemerintah Kanada mengumumkan pembelajaran secara online sejak bulan april. Irene menyebut ada 8 tantangan dan upaya-upaya yang dilakukan pihak pemerintah, sekolah, dan keluarga dalam pembelajaran secara online, yakni:

1. Beban orang tua dan rutinitas baru

Beban orang tua yang semakin besar yaitu mengurus pekerjaan rumah, bekerja untuk kantor dari rumah, mengurus dan mendampingi anak belajar di rumah. Beban orang tua semakin besar jika dalam keluarga memiliki lebih dari satu anak atau satu ABK.

Upaya sekolah yaitu dengan menyapa dan membesarkan hati orang tua agar tidak terlalu mencemaskan soal kurikulum dan materi pembelajaran. Hal yang paling penting adalah bagaimana melatih anak dengan rutinitas baru, karena banyak ABK yang sudah nyaman dengan rutinitas lamanya kemudian berubah dengan rutinitas baru, itu bisa mempengaruhi mereka secara emosional dan psikologis, jadi hal yang pertama adalah bagaimana melatih anak-anak beradaptasi dengan rutinitas baru.

2. harus belajar secara online

Tidak semua ABK dapat beradaptasi dengan  pembelajaran online. Biasanya melihat wajah teman-teman dan guru secara langsung, sekarang melalui layar monitor dan itu dapat membingungkan mereka. Setiap ABK memiliki mindset dan kebiasaan dalam menggunakan komputer. Perubahan fungsi teknologi untuk dijadikan pembelajaran online bukan proses yang mudah dan singkat.

3. Akses komputer dan internet

Ada beberapa keluarga yang masih kesulitan mengakses komputer dan internet, jadi pemerintah Kanada memberikan bantuan peminjaman komputer yang sampai saat ini sudah 200 ribu komputer yang sudah dipinjamkan. Pemerintah juga bekerjasama dengan internet providers untuk memberikan bantuan pada warga-warga yang berpenghasilan rendah dalam mengakses internet gratis.

4. kewajiban untuk tinggal di rumah selama pandemic

Anak dan orang tua atau keluarga merasa terisolasi. Upaya sekolah yaitu seminggu sekali menyelenggarakan family meeting untuk tingkat sekolah atau kelas dengan tema-tema kegiatan yang menyenangkan seperti : talent show, melukis bersama, reading dan creativity time, masak bersama, menyanyi, dan menari bersama. Google meet antara guru dan orang tua untuk membahas situasi dan perkembangan anak, berita-berita terkini, ngobrol tentang kesulitan-kesulitan semasa pandemic. Melibatkan anak dalam jaringan-jaringan komunitas yang edukatif seperti special friendship network.

5. Keluarga dan virus Covid-19

Sekolah sangat mendorong orang tua untuk melatih anak dan keluarga agar secara aktif turut mencegah penyebaran dan terinfeksinya anggota keluarga dari covid.

6. Fungsi rumah menggantikan sekolah

Tinggal di rumah dalam waktu yang lama dapat membuat anak dan keluarga merasa jenuh. Munculnya kreativitas para orang tua untuk mendekorasi ulang rumah, agar menciptakan suasana belajar mirip di sekolah. Untuk mereka yang punya halaman, pekarangan, atau garasi, mendirikan tenda agar anak dapat melakukan kegiatan-kegiatan belajar di dalam tenda.

7. Guru dan anak-anak sama-sama ingin bertemu

Guru melakukan physical distancing visit atau kunjungan jaga jarak. Pada kesempatan itu guru memberikan pesan-pesan singkat pada anak yang membuat mereka senang.

8. Apresiasi

Seberapa besar belajar anak, orang tua dan guru patut mengapresiasi usaha mereka untuk patuh tinggal di rumah, belajar apa yang dapat mereka pelajari. Hal tersebut menumbuhkan rasa percaya diri, damai, dan suka cita pada anak, orang tua, seluruh anggota keluarga, dan juga guru-gurunya.

Annisa Elok Budiyani selaku Adolescent Program Officer Unicef – Indonesia menjabarkan tentang anak-anak difabel khususnya ada di pedesaan yang harus menerapkan pembelajaran mandiri dengan orang tua.

“Hasil penelitian dari Sigab dan jaringan disabilitas menyebutkan anak-anak difabel yang ada di pedesaan harus menggunakan moda pembelajaran mandiri bersama orang tua. Hal ini akan membuat anak-anak terputus dari dukungan sosial, ketika harus belajar di rumah dan orang tua tidak sepenuhnya mendampingi anak karena bekerja, dan mungkin para orang tua yang tidak bisa baca tulis, tidak mendapatkan alat bantu pembelajaran seperti di sekolah, dan paling bahaya mungkin ketika anak tinggal sendiri di rumah.” Ujar Annisa

Menurutnya paling penting anak-anak bisa memahami tentang penanggulangan dini dari wabah dan bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru. Unicef melihat anak-anak difabel sangat rentan tertinggal dari informasi-informasi kunci ini. Serta layanan terapi anak-anak difabel lebih sulit untuk diakses ketika masa pandemi.

“Kami dari unicef bekerja sama dengan wahana inklusif Indonesia sedang berupaya mengkaji kesenjangan layanan yang diperoleh anak-anak difabel dan juga memetakan penyedia layanan yang sudah ada serta mendukung penyedia layanan agar bisa menjangkau lebih banyak anak-anak difabel. Kami juga mengupayakan keberagaman sumber belajar baik daring maupun luring. Dan tentunya sumber belajar ini perlu disempurnakan aksesibilitasnya sehingga lembar kerja yang ada, tayangan di TV, ini bisa diakses oleh anak-anak difabel. Dan berbagai pelatihan, khususnya strategi-srategi pembelajaran yang berpusat pada anak. Kemudian yang paling penting, belajar dari rumah di masa pandemic ini beresiko menambah anak putus sekolah, jadi semakin lama anak putus dari pembelajaran semakin besar anak putus dari sekolah, kami terus melakukan kampanye terkait ini supaya anak-anak tidak putus sekolah. Dan terakhir yang kita kembangkan saat ini panduan belajar dari rumah bagi anak-anak difabel.” Tukasnya

Ia juga menjelaskan beberapa prinsip dasar dari pembelajaran masa pandemic, karena ini penting untuk proses belajar di rumah untuk anak-anak difabel.

“Pertama yang kita harus pahami cara belajar bagaimana yang nyaman bagi anak, misalnya anak autis yang nyaman belajar dengan musik. Kedua, kita berfokus pada hal-hal nyata yang dialami anak-anak kita sehari-hari dan kita menggunakan ini sebagai sumber belajar. Jika pembelajaran secara akademis itu sulit, bisa menggunakan pembelajaran secara keterampilan hidup atau life skill, bagaimana ia belajar mengelola emosi, belajar mengambil keputusan bersama teman-temannya.” Tutur Annisa

Ia juga mengingatkan akan pentingnya kesehatan mental anak dengan menghindari tugas yang terlalu berat atau terlalu banyak.[]

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.