Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar pemenuhan hak anak

Pengasuhan Anak Difabel di Masa Pandemi

Solider.id – Protokol Perlindungan Terhadap Anak Penyandang Disabilitas dalam Situasi Pandemi Covid-19 adalah salah satu dari lima protokol yang diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang prosesnya dimulai dengan melakukan analisis terhadap data kondisi anak difabel dalam masa pandemi Covid-19. Analisis data ini terutama dilakukan kepada anak yang telah berstatus sebagai Anak dalam Pemantauan (AdP), Pasien Anak dalam Pengawasan (PAdP) dan anak yang telah terkonfirmasi positif Covid-19.

Yanti Kusumawardhani selaku Spesialis Perlindungan Anak Save The Children Indonesia, dalam kegiatan diskusi virtual tentang Anak Penyandang Disabilitas di Masa Pandemi Covid-19 (24/7) yang hampir setiap hari Jumat diselenggarakan oleh KPPPA ini menjelaskan tentang bagaimana pengasuhan anak difabel selama pandemi. Yanti mengawali paparannya dengan penjabaran piramida tingkat resiko dan intervensi yang perlu dilakukan pada anak difabel selama wabah virus Corona belum berakhir.

Semua anak, baik anak difabel dan nondifabel, pada dasarnya rentan atau mempunyai tingkat resiko untuk terpapar Covid-19. Oleh karenanya pada tahap ini intervensinya adalah penyadaran dengan pemberian informasi, kampanye dan bantuan sosial. Kemudian untuk anak difabel dalam lingkungan rumah, yang didefinisikan Yanti sebagai tingkat resiko sedang, permasalahannya terdapat pada pengasuhan yang tidak layak sehingga bentuk intervensinya masih bersifat pencegahan. Selain bansos, intervensi dapat dilakukan dengan layanan hotline dan informasi, habilitasi dan rehabilitasi serta layanan rujukan. Sedangkan anak difabel yang tergolong anak tanpa gejala (ATG), AdP, dan PAdP atau tingkat resiko tinggi dengan potensi yatim/piatu dan masalah psikososial serta ekonomi, maka perlu dipikirkan tentang keberlanjutan pengasuhannya. Pada tahap ini dibutuhkan respon manajemen kasus dengan intervensi tambahan dari sebelumnya yaitu layanan psikososial dan konseling.

Dari tingkat risiko dan intervensinya tersebut, Yanti menambahkan bagaimana pengasuhan anak difabel yang berstatus ATG, AdP, dan PAdP yaitu, pertama, mempersiapkan satu kamar/ruangan khusus dan fasilitas bagi difabel yang diisolasi secara mandiri. Kedua, memberikan informasi yang lengkap dan komunikasikan dengan anggota keluarga termasuk risiko keterpaparan pada anggota keluarga yang lain, diantaranya dengan membatasi akses, lakukan pembagian tugas, membantu anak mengekspresikan perasaannya, selalu mendampingi, saling mengingatkan dan menjalankan protokol kesehatan. Ketiga, memastikan asupan gizi anak. Keempat, melengkapi diri dengan informasi dan dukungan pihak lain dan terakhir, memaksimalkan perawatan dan penanganan kondisi anak agar sehat kembali.

Yanti memberikan beberapa tips pengasuhan untuk anak, baik untuk anak difabel dan non-difabel, yang dapat dilakukan orangtua atau pendamping, diantaranya selalu mendukung dengan rasa empati dan kasih sayang. Dukungan dapat diberikan secara fisik dan verbal yang dapat membantu anak merasa aman, diterima dan disayangi dengan bahasa tubuh dan kata-kata positif. Selanjutnya, mengenali dan menghargai hal positif dari anak dengan memberi pujian pada kemampuan dan capaiannya sekecil apapun, bukan sebaliknya fokus pada kesulitannya. Berikan bantuan hanya ketika anak membutuhkan agar anak belajar mandiri.

Komunikasi sering kali menjadi masalah atau masih menjadi gap antara anak dengan orang dewasa, oleh karenanya Yanti menyarankan agar dalam berkomunikasi sejajarkan tinggi tubuh dengan tinggi tubuh anak ketika berbicara, lakukan kontak mata, bersabar dengan memberi ruang dan waktu bagi anak untuk mengomunikasikan pendapatnya lalu berikan konfirmasi pada anak bahwa kita memahami maksud si anak.

Selama pandemi Covid-19 meski protokol yang telah dibuat ditujukan untuk anak difabel, namun hal lain yang perlu diperhatikan adalah kerentanan orangtua, terutama ibu, dalam menghadapi perubahan yang tak jarang berakibat tekanan psikologis selain tekanan ekonomi. Menurut Yanti, hal yang dapat dilakukan adalah meminta bantuan dengan berbagi beban pengasuhan pada orang dewasa lain di dalam keluarga tersebut. Usahakan tetap terhubung dengan orang-orang yang memahami situasi atau bergabung dengan komunitas orangtua difabel untuk dapat berbagi tantangan dan cerita keberhasilan. Selain itu, merasa wajar jika orangtua frustrasi dan cemas di masa pandemi, maka butuh waktu mengistirahatkan tidak hanya badan tetapi juga pikiran. Dan terpenting adalah menyimpan nomor kontak darurat yang ditaruh di tempat-tempat yang mudah dilihat seperti di kulkas, pintu atau ruang keluarga. KemenPPPA membuka hotline Layanan Psikologi Sehat Jiwa (Sejiwa) dengan nomor 119 ekstensi 8 untuk mengadukan kasus-kasus dan juga keluhan jika orangtua atau pendamping membutuhkan bantuan.

Menutup paparannya, Yanti memberikan rekomendasi kepada setiap Pemerintah Daerah untuk memberikan peningkatan kapasitas dan pendampingan tentang apa yang dapat dilakukan, termasuk penyediaan APD dan dukungan psikososial kepada orang tua/wali/pendamping untuk membantu upaya perlindungan, proses perawatan atau pemulihan anak difabel yang terpapar Covid-19. Kemudian menyediakan bantuan kebutuhan pokok dan akses pada layanan yang dibutuhkan serta rujukan atau rekomendasi terkait psikolog, psikiater, atau tenaga medis lain yang sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarga. Tak kalah penting dan paling mendasar adalah penyediaan informasi terkait Covid-19 dan layanan yang tersedia dalam format yang mudah diakses oleh anak difabel dan keluarganya.[]

 

Reporter: Alvi

Editor    : Ajiwan Arief  

 

The subscriber's email address.