Lompat ke isi utama
ilustrasi tips bagi difabel netra ketika mendaki gunung

Tips Difabel Netra Daki Gunung

Solider.id - Mendaki Gunung merupakan suatu olahraga ekstrem yang penuh petualangan dan kegiatan ini membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan seakan hendak mengungguli merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar berarti keunggulan terhadap terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri. Olahraga mendaki gunung mempunyai nilai positif untuk menyalurkan minat dan bakat generasi muda yang senantiasa menginginkan hal-hal baru.

 

Melalui olahraga mendaki gunung ini generasi muda akan berkembang secara spontan dan dapat dipacu untuk memberikan rangsangan kepada jiwa muda yang suka akan tantangan, keuletan dan ketangkasan serta kemampuan untuk menghadapi tantangan melalui kegiatan yang positif. Mendaki gunung mempunyai tingkat dan kualifikasi yang berbeda. Seperti istilah mountaineering atau istilah lainnya mencakup pengertian perjalanan melintasi bukit hingga ekspedisi ke Himalaya.

Strategi untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan mendaki gunung sangatlah diperlukan melalui perencanaan yang matang dan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan suatu pendakian gunung, diantaranya adalah faktor fisik seorang pendaki gunung. Pendaki gunung yang mempunyai tingkat kebugaran jasmani yang baik dapat melakukan suatu pendakian tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Banyak pendaki gunung yang belum sadar akan hal ini sehingga mengakibatkan suatu pendakian terhambat karena kelelahan atau bahkan terjadi kecelakaan karena hilangnya konsentrasi saat melewati jalur yang curam karena staminanya telah habis. Faktor lainnya adalah sikap mental dari seorang pendaki gunung. Mental sekuat baja diperlukan oleh setiap pendaki gunung karena di pegunungan kita akan menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang tidak terduga seperti perubahan cuaca yang ekstrim, jalur-jalur pendakian yang terjal, bahkan tersesat sekalipun.

 

Di Indonesia ada beberapa teman-teman difabel yang masih konsisten berkegiatan di alam bebas khususnya pendakian gunung. Diantaranya adalah Sabar Gorky, Irfan Ramdhani dan Arrohmah Sukma difabel fisik yang mampu membuktikan kalau kondisi tubuh bukan penghalang untuk melakukan sesuatu yang diluar nalar manusia dan bahwa sesungguhnya, batas bukanlah pembatas untuk menembus batas. Nah, kali ini bukan hanya difabel fisik yang bisa mendaki gunung, ada banyak rekan-rekan difabel netra yang mendaki gunung juga, tidak sedikit bahkan, bisa dibilang teman-teman netra lebih banyak yang mendaki gunung dibandingkan dengan teman-teman difabel fisik. Mungkin, secara visual difabel fisik masih bisa melihat jalur pendakian dengan jelas, hanya saja bagian fisik saja yang terbatas untuk melewatinya.

Beda halnya dengan teman-teman difabel netra, mereka tidak bisa melihat jalur pendakian dengan kedua matanya. Mereka hanya bisa meraba tim pendamping yang membawanya, biasanya dengan memegang bahu atau ransel volunteer yang mendampingi teman difabel netra.

Bisa terbayangkan? Untuk teman-teman awas saja untuk mendaki sulit, terlebih dengan teman-teman difabel netra, tetapi itu semua bukan halangan, batas dalam kadar diri bisa kita lewati apabila kita bersungguh-sungguh dan yakin untuk melampauinya.

 

Memang benar kata pepatah lama, apabila fungsi indera diambil oleh Sang Maha.

Tuhan, akan berikan indera yang lain lebih tajam.

 

Memang belum banyak di Indonesia teman-teman difabel yang berani mengambil resiko dalam kegiatan olahraga ekstreem ini, ada beberapa prosedur untuk difabel, ketika ingin melakukan mendaki gunung. Berikut tips bagi difabel netra, ketika ingin mendaki gunung;

 

  1. Jaga kesehatan untuk fisik yang bugar, yaitu menjaga kesehatan sebelum mendaki gunung, yang paling penting dipersiapkan ketika hendak mendaki gunung adalah soal kesehatan. Persiapan fisik tak hanya dibutuhkan ketika mendaki gunung saja melainkan setiap kegiatan outdoor atau langsung bersentuhan dengan alam.

Semua basic wisata adventure, karena kita jalan di alam, dasarnya kemampuan fisik kita harus dalam kondisi sehat dan bugar. Kemudian bisa juga dengan menjaga pola makan. Perbanyak minum air putih, diperlukan agar menjaga stabilitas cadangan air di tubuh kita sebelum fisik terkuras ketika mendaki gunung.

  1. Teman-teman difabel netra harus memupuk mental agar terjaga, karena untuk non difabel saja mendaki gunung memberikan tantangannya sendiri, yang terdiri dari jalur yang curam, jalur sisi kiri dan kanan terdapat jurang yang dalam. Membuat semua pendaki harus siap ekstra berhati-hati ketika ingin mendaki gunung. Maka dari itu teman tunanetra harus tahu itu dan menguatkan mental agar bisa sampai ke puncak gunung. Apabila fisik sudah habis. Namun, mental masih terjaga. Pasti bisa menggapai puncak, maka dari itu mental sangatlah penting untuk teman-teman tunanetra agar bisa mendaki sesuai tujuan utama.
  2. Porsi latihan fisik difabel netra, harus lebih banyak ketimbang pendaki nondifabel. Semua pendaki harus melakukan latihan fisik sebelum naik gunung. Untuk pendaki difabel netra, harus menambah porsi latihan fisik tersebut. Dikarenakan fisik untuk difabel sangat akan terkuras habis ketika mendaki gunung, maka dari itu teman-teman difabel netra yang ingin mendaki gunung diwajibkan untuk berlatih dua kali lipat dari teman-teman nondifabel, agar fisik dan mental terjaga. Karena dijalur nantinya, akan membuat waktu di perjalanan terkuras untuk memilah-milih jalan mana yang aman dilalui untuk teman difabel netra.  
  3. Memegang bahu atau ransel teman yang di depan, untuk memberi tahu jalur mana yang ada batu, atau longsoran tebing, akar melintang, menuruni turunan curam, menaiki tanjakan curam. Agar teman difabel netra yang dibelakang tahu aka apa saja yang akan dilewatinya, bisa dibilang volunteer itu mata bagi teman difabel netra untuk mendaki gunung.

 

  1. Pakai jasa porter untuk membawa barang, seorang difabel netra yang hendak mendaki gunung tidak boleh membawa beban yang terlalu berat. Pendaki netra  sebaiknya membagikan barang bawaannya kepada porter, biar apa? Biar perjalanan pendakian bisa mengimbangi teman-teman awas yang mendampingi teman difabel netra.  
  2. Merancang estimasi waktu perjalanan, perjalanan bagi pendaki difabel akan memakan waktu lebih lama. Sebab itu, perlu merancang estimasi waktu yang lebih lama.
  3. Selain porter, difabel yang hendak naik gunung juga harus didampingi sekurang-kurangnya dua orang. Formasinya satu di depan, satu di belakang, yang di depan untuk menjadi mata teman netra. Untuk yang dibelakang untuk menjaga-jaga apabila ada sesuatu yang tidak diinginkan, misalkan teman netra yang tergelincir akibat jalur yang licin, jadi sewaktu-waktu orang yang dibelakang sudah siap siaga untuk membackup.[]  

 

 

 

Penulis: Irfan Ramdhani

 

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.