Lompat ke isi utama
gambar beberapa tulisan tentang keterangan acara temu anak peduli 2020

Bersama Anak Difabel Sukoharjo di Temu Anak Peduli 2020

Solider.id, Sukoharjo - Selasa (21/7) ada enam anak berkebutuhan khusus yang datang di Kelompok Belajar Islam Terpadu (KBIT) Zidni ‘Ilma di Jl Flores, Sukoharjo sejak pukul delapan pagi. Anak-anak itu mentaati aturan protokol kesehatan dari pemerintah yang harus diterapkan yakni suhu tubuh diperiksa dengan thermogun, mencuci tangan dengan cara yang benar menggunakan sabun dan memakai masker serta face shield. Sementara itu para staf Paguyuban Sehati, salah satu mitra Program Peduli serta bapak dan ibu guru yang sudah mempersiapkan sarana dan pra sarana sehari sebelumnya, tengah mengecek background serta photoboot yang berisi hastag berupa himbauan dan motivasi belajar di rumah. Anak-anak itu kemudian duduk dengan mengambil jarak satu sama lain. Kepesertaan Temu Anak Peduli 2020 selain lewat aplikasi Zoom meeting, juga bisa disaksikan secara live di YouTube #SamaSamaDiRumah. Beberapa hastag berupa tulisan #Yuk seru-seruan barengan anak-anak di berbagai belahan Indonesia, #TemuAnakPeduli 2020, #Selamat Hari Anak Nasional Anak Terlindungi Indonesia Maju!, #Festival gembira di rumah,#Anak Indonesia gembira di rumah, dll.

Anin, anak dengan slow leaner, siswa kelas IX MTS Negeri 3 Sukoharjo adalah salah satu di antara yang mengikuti nobar Temu Anak Peduli 2020. Kepada solider.id ia menceritakan kegembiraannya bisa turut berkegiatan bersama anak-anak seluruh Indonesia. Apalagi foto dan videonya bersama teman-teman sanggarnya turut diunggah di layar Zoom. Anin yang sudah setahun belajar tahfidz alquran (hapalan alquran) KBIT Zidni ‘Ilma merasa terobati kangennya dengan bertemu dengan teman-teman serta para guru. Sebelum pandemi COVID-19, ia mampu dengan lancar menghapal juzz ke-30 alquran. “Namun entah, sejak pandemi tidak ada belajar mengaji lagi di sanggar, ia sepertinya sudah mulai lupa hapalannya,” kata ibunda Anin.

 

Saat tahun ajaran baru ini dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan di sekolahnya, Anin juga melakukan cara belajar seperti teman-temannya yang lain. Ia mengaku tidak memiliki kesulitan saat belajar dan menurutnya lebih enak belajar dengan cara daring seperti ini. Ia mengemukakan tanpa alasan. Namun memang menurutnya, sekolah daring tidak membikin badan capek karena tidak harus pergi ke sekolah dari rumahnya yang berada di Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari ke lokasi MTS Negeri 3 di Kecamatan Mulur.

Ada lagi Arul, slow leaner yang mendapat penghargaan juara lomba puisi di Hari Difabel Internasional tahun 2019 lalu. Dari awal acara, Arul tiada beringsut. Ia didampingi sang bunda, Desy Lisnayanti, pendiri sekaligus kepala sekolah KBIT Zidni ‘Ilma. Di sela-sela menonton bareng (nobar) Temu Anak Peduli 2020, tampak Arul bersenda-gurau bersama teman-temannya. Ada lagi Putri, anak difabel daksa, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Kecamatan Polokarto yang pagi itu ditemani oleh sang Ibu. Putri adalah salah satu pengisi konten video yang juga dibuat oleh Sehati untuk meramaikan Temu Anak Peduli 2020. Pada tayangan video, tampak Putri dengan berani berbicara memperkenalkan diri dan memberi contoh pada teman-temannya untuk memakai masker. “Aku pakai maser. Teman-teman pakai masker ya. Hai, Teman-teman nama saya Putri. Septian Putri Sholihah, kelas satu di MI Darussalam. Selama corona saya belajar di rumah sama Umi. (lalu sambil bertepuk tangan Putri menyanyi) Virus corona itu berbahaya. Kita bisa sakit terkena virusnya. Lindungi diri kita. Makan minum yang sehat. Cuci muka nyess nyess....cuci tangan nyess...nyess..cuci kaki nyess...nyess...Berdoa selalu. Badan sehat, oke. Jiwa sehat, oke. Maka itu virus corona menjauh..Alhamdulillah.”[]

 

 

Reporter : Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.