Lompat ke isi utama
gambar difabel bertongkat sedang mendaki gunung

Tips Mendaki Gunung bagi Difabel Fisik

Solider.id - Naik gunung adalah aktivitas yang menantang. Medan yang berat, cuaca dan tekanan udara yang berbeda, sampai penggunaan berbagai peralatan mendaki gunung yang butuh keterampilan dan pengetahuan khusus. Naik gunung juga bisa menjadi meditasi buat orang-orang yang mengalami penat sehari-hari dalam melakukan pekerjaan, menghirup udara segar dikawasan pegunungan seakan-akan merenovasi otak untuk bisa lebih segar juga untuk menghadapi hari esok dalam menghadapi situasi pekerjaan.

Semua tantangan itu bukan tidak mungkin dilakukan oleh rekan-rekan difabel. Di dunia sudah ada banyak pendaki difabel yang mendaki gunung, bahkan yang membuat mata ini terbelalak adalah ketika melihat Kyle Maynard (lahir 24 Maret 1986) adalah seorang pembicara, penulis, dan atlet seni bela diri (gulat) yang berasal dari Amerika, yang dikenal sebagai amputasi quadruple pertama yang mendaki Gunung Kilimanjaro tanpa bantuan prosthetics. Dialah yang membuat banyak para pendaki difabel  bersemangat untuk mengikuti jejaknya.  

 

Di Indonesia ada beberapa teman difabel yang memiliki minat, bahkan renjana (pashion) berkegiatan di alam bebas khususnya pendakian gunung. Sebut saja Sabar Gorky, Irfan Ramdhani dan Arrohmah Sukma. Beberapa kawan difabel fisik  yang mampu membuktikan kalau kondisi tubuh bukan penghalang untuk melakukan sesuatu yang diluar nalar manusia dan bahwa sesungguhnya, batas bukanlah pembatas untuk menembus batas. Memang belum banyak di Indonesia teman-teman difabel yang berani mengambil resiko dalam kegiatan olahraga ekstreem ini, ada beberapa prosedur untuk difabel, ketika ingin melakukan pendakian gunung.

 

Berikut tips bagi kawan difabel fisik yang memakai tongkat, ketika ingin mendaki gunung;

 

  1. Jaga kesehatan untuk fisik yang bugar, yaitu menjaga kesehatan sebelum mendaki gunung, yang paling penting dipersiapkan ketika hendak mendaki gunung adalah soal kesehatan. Persiapan fisik tak hanya dibutuhkan ketika mendaki gunung saja melainkan setiap kegiatan outdoor atau langsung bersentuhan dengan alam.Semua basic wisata adventure, karena kita jalan di alam, dasarnya kemampuan fisik kita harus dalam kondisi sehat dan bugar. Kemudian bisa juga dengan menjaga pola makan. Perbanyak minum air putih, diperlukan agar menjaga stabilitas cadangan air di tubuh kita sebelum fisik terkuras ketika mendaki gunung.
  2. Porsi latihan fisik difabel fisik, harus lebih banyak ketimbang pendaki nondifabel. Semua pendaki harus melakukan latihan fisik sebelum naik gunung. Untuk pendaki difabel fisik yang menggunakan tongkat, harus menambah porsi latihan fisik tersebut. Dikarenakan fisik untuk difabel sangat akan terkuras habis ketika mendaki gunung, maka dari itu teman-teman difabel yang ingin mendaki gunung harus berlatih dua kali lipat dari teman nondifabel.
  3. Pakai jasa porter untuk membawa barang, seorang difabel fisik yang hendak mendaki gunung tidak boleh membawa beban yang terlalu berat. Pendaki kawan difabel daksa cukup membawa diri sendiri. Jangan malu, ketika ada orang-orang yang menyindir ketika kita memakai jasa porter yang perlu diketahui tujuan mendaki gunung adalah kembali pulang dengan keadaan selamat.
  4. Merancang estimasi waktu perjalanan, perjalanan bagi pendaki difabel fisik akan memakan waktu lebih lama. Sebab itu, perlu merancang estimasi waktu yang lebih lama.
  5. Selain porter, difabel yang hendak naik gunung juga harus didampingi sekurang-kurangnya dua orang. Formasinya satu di depan, satu di belakang. Akan lebih baik jika dapat didampingi oleh lima orang, dengan dua orang menjaga di sisi kanan dan kiri pendaki difabel fisik. Pendampingan ini sangat berguna bagi difabel daksa, agar bisa lebih safety lagi untuk berkegiatan dalam pendakian, untuk meminimalisir resiko terjatuh atau terpeleset karena jalur yang sulit untuk teman difabel fisik .
  6. Sesuaikan cara melangkah dengan medan. Seorang pendaki difabel fisik harus mampu menyesuaikan cara berjalan dengan medan yang ada. Apabila kondisi jalur cukup landai, ia bisa mendaki dengan tongkat seperti biasa. Namun saat medannya menyempit, dia harus berjalan miring. Semantara pada jalur yang menanjak atau terjal, dia harus merangkak atau menyeret tubuhnya. Pada jalur yang menanjak dan tidak begitu terjal,  berjalan mundur dapat dilakukan agar tubuh tidak tepelanting ke depan.
  7. Hindari turun gunung dengan berjalan kaki atau tracking, sebagian besar kecelakaan terjadi justru saat menuruni gunung. Untuk pendaki difabel, disarankan hindari jalan kaki ketika menuruni gunung. Caranya adalah menyewa porter untuk ditandu sampai bawah, lagi-lagi untuk mengurangi resiko kecelakaan saat pendakian.

Mari rancan rencana sebaik mungkin untuk melakukan pendakian secara aman. mari bertualang taklukkan alam. Yakinlah bahwa difabel bukan halangan untuk menjelajah alam.[]

 

 

Penulis   : Irfan Ramdhani

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.