Lompat ke isi utama
Kineva dan keluarga berfoto denagn Kuni Fatonah

Memproteksi Anak Berkebutuhan Khusus dari Covid-19 di Desa

Solider, Kulon Progo- Tiga anak berkebutuhan khusus di Kulonprogo mendapapakan satu paket Alat Pelindung Diri (APD). APD diberikan oleh Kuni Fatonah, asisten koordinator Desa Inklusi yang telah digagas Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia. Kegiatan yang didukung Program Peduli dan Australia Government tersebut, sekaligus memperingati Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap tanggal 23 Juli.

Menurut Kuni, anak berkebutuhan khusus perlu mendapat perhatian lebih agar tidak terpapar corona. Komordibilitas pada anak berkebutuhan khusus dan tempat tinggal di desa yang belum banyak dijangkau penanganan Covid-19 membuat anak berkebutuhan khusus menjadi lebih rentan terpapar.

“Informasi buat mereka juga masih minim, misal bagaimana mereka belajar di rumah tapi tetap dengan protocol,” tuturnya, pada Senin (13/7).

Selama ini, Kuni dan kader desa inklusi terus memberikan pemahaman kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Mulai dari bagaimana mentaati protokol kesehatan, model belajar di rumah dan pendampingan yang menyesuaikan dengan kebutuhan anak yang beragam.

Kuni juga menjelaskan tiga anak berkebutuhan khusus yang dipilih akan mengikuti kegiatan virtual dalam peringatan HAN pada 21 Juni mendatang. Masing-masing anak akan menunjukkan karya yang sudah dibuatnya, seperti kerajinan dan karya lukis.

Walijah (55), orangtua salah satu anak berkebutuhan khusus bernama Ramadan Anggit Setiawan mengaku banyak belajar dari kader desa inklusi, bagaimana mendampingi anak ketika belajar di rumah. Sebelumnya dia merasa kebingungan ketika pihak sekolah meinformasikan proses belajar dilangsungkan di rumah.

“Tapi karena ada pendampingan, tiap hari bisa ikut dampingin Anggit belajar,” ungkapnya.

Siang itu, di beranda rumah Walijah, Anggit, anak berkebutuhan khusus difabel autis sedang membuat layangan bergambar yang akan ditunjukkan saat kegiatan virtual memperingati HAN. Selain Anggit, Indah Setyarini, anak berkebutuhan khusus Slow learner menyiapkan aneka kue yang dibuatnya sendiri. Kineva Syahra Aqidah, difabel down syndrom juga akan memamerkan hasil seni dari menggambarnya.

Program Peduli sendiri, fokus pada perlindungi dan mendorong pemenuhan hak-hak anak dan remaja. Memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan dan alami selama masa pandemi. Dengan mengambil tema Aku dan Corona, Program Peduli mengganggap penting untuk menyuarakan suara dari anak agar kebutuhan mereka terpenuhi dan perlindungan terhadap mereka juga dapat dilakukan dengan tepat.

Sekitar lebih dari 500 anak yang tersebar di sekitar 50 kabupaten/kota di seluruh Indonesia antusias menyambut Hari Anak Nasional di tengah pandemi yang melanda.[]

 

Redaksi

The subscriber's email address.