Lompat ke isi utama
foto peserta diskusi virtal partisipasi difabel pada pilkada di masa pandemi

Partisipasi Difabel di Pilkada dalam Masa Pandemi

Solider.id, Pati – Difabel harus ikut berpartisipasi aktif dalam Pilkada yang akan diselenggarakan serentak pada tanggal 9 Desember 2020, dimana masih dalam kondisi pandemi. Hal tersebut dibahas saat acara webinar yang bertemakan Pilkada inklusif di masa pandemi dengan narasumber dari Kantor Staf Kepresidenan, Sunarman Sukamto dan Diana Ariyanti selaku anggota KPU provinsi Jawa Tengah, Rabu (8/7).

Edi Supriyanto ketua Sehati mempertanyakan terkait pilkada di saat pandemi, yang pertama dan utama perlu dijamin keselamatan adalah pemilih, khususnya kelompok difabilitas yang punya resiko tinggi covid-19.

“Terkait Pemilukada yang inklusif, mungkin bisa dimulai tahap Petugas Pemutakhiran Data Pemilih  (PPDP), kami berharap ada lima mandat inklusi : yang pertama adalah soal data pilah, selama ini belum maksimal, katakanlah kalau pencocokan dan penelitian (coklit) data dilakukan per wilayah RT, tentu akan terdata berapa difabel daksa, netra, Tuli sehingga di TPS akan disediakan template, ramp, bilik TPS dibawa ke ruangan, bisa ke halaman, kalau boleh tuangkanlah di kebijakan KPU. Kedua adalah aksesibilitas, kemudahan yang diberikan oleh kelompok berisiko tinggi berupa layanan dan sarana prasarana, contoh di Sukoharjo masih ada rumah gebyok sehingga difabel berkursi roda untuk datang ke TPS sudah malas dulu, dan apakah kebijakan bilik di pekarangan atau halaman rumah apakah boleh, sehingga kursi roda bisa mengakses kesana. Ketiga adalah Partipasi, kami berharap pada PPDP difabel terlibat, misalnya untuk mengakomodir calon pemilih Tuli. Berharap PPDB bisa kemampuan bisa berkomunikasi dengan difabel dan lansia. Keempat, meningkatkan kapasitas, bagaimana difabel memiliki kemampuan kapasitas, jangan sampai nanti ada pendampingnya biar dilakukan pendampingan. Kelima, prioritas perlindungan, bagaimana teman-teman difabel terlindungi dan memastikan pendamping bukan carier covid-19.” Tanya Edi.

Ia juga menanyakan tentang alat coblos yang digunakan sekali atau berkali-kali serta bilik yang dipakai apakah perlu disemprot. Pertanyaan datang juga dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Susi bertanya tentang mekanisme saat coklit.

“Untuk difabel non visual, seperti sensorik netra low vision, difabel intelektual, mental psikososial, saya menunggu apakah petugas menanyakan apakah ada hambatan terkait, petugas coklit untuk mengeksplor pertanyaan”.

Misbahul Arifin juga menanyakan tentang pelibatan relawan difabel supaya inklusifitas dapat diterapkan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Sunarman menjelaskan pentingnya KPUD untuk berkoordinasi dengan kelompok difabel di daerah masing-masing.

“Partisipasi yang disampaikan Edi ini sangat penting untuk semua KPUD, mungkin masalahnya jika KPUD setempat belum ada organisasi difabelnya, mungkin bisa diformulasikan pada KPU provinsi. Untuk KPU tingkat daerah yang ingin bermitra dengan organisasi difabel tetapi belum ada dan siap, itu bagaimana supaya KPU Provinsi bisa bermitra dengan tim relawan KPU jawa tengah untuk diberi tugas mendukung pilkada inklusi di kabupaten kota dalam berbagi pengalaman.” Ucap Sunarman

Ia juga meminta KPU Provinsi untuk menyediakan relawan pada KPU di daerah yang didaerahnya belum ada komunitas difabel.

“Semoga dalam pilkada nanti ada peningkatan partisipasi. Perpres KND penganggaran sedang berproses, sedang ada upaya untuk itu, dan di daerah bisa dibentuk KDD. Tetapi dalam konteks usulan Misbah, apakah memungkinkan KPU mendirikan unit layanan disabilitas KPU, disini partisipasi teman-teman difabel sangat penting, bagaimana KPU bisa mmebentuk ULD, apakah memungkinkan dalam kontek peraturan maupun penyelenggaraannya.” Harapnya

Diana Ariyanti juga menjawab beberapa pertanyaan tersebut, jika KPU sudah berusaha secara maksimal

“Sejak tahun 2014 kami punya relawan demokrasi (relasi) dimana ada 11 basis yang salah satu basis ada basis disabilitas. Sehingga dengan basis ini informasi bisa diterima sepenuhnya oleh teman-teman difabel. Kami juga memerlukan data pilah, perlu kroscek juga, coklit di salah satu pilihannya sudah ada jenis difabilitasnya.” Jawab Diana

Ia menerangkan kesulitan penyelenggara ketika ada salah satu keluarga yang masih menyembunyikan anggota keluarganya yang difabel.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.