Lompat ke isi utama
poster webinar anan downsyndrome

Anak Dengan Down Syndrome dan Bagaimana Mereka Menghadapi Pandemi COVID-19

Solider.id - Dalam menyusun tatanan new normal, mengutamakan upaya pencegahan dan pemberantasan wabah COVID-19 adalah hal penting. Protokol kesehatan harus ketat, peningkatan penentuan status infeksi dengan RT-PCR, dengan melakukan penelusuran kontak, karantina, isolasi dan pembatasan fisik. Tatanan kehidupan normal baru disusun sesuai kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak yang berguna dalam menentukan kualitas generasi bangsa Indoenesia di masa depan. Upaya pemenuhan kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak dengan down syndrome harus berjalan sesuai jadwal seperti pelayanan kesehatan dasar yakni imunisasi, asuhan neonatal esensial, pemenuhan nutrisi, asuhan tumbuh kembang harus kembali berjalan optimal. Demikian dikatakan oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Persatuan Orangtua Anak Down Syndrome (POTADS) yang dimoderatori Pramuri Harumdhani pada senin (6/7).

Pelayanan imunisasi harus diberikan untuk semua anak termasuk anak down syndrome. Tidak lagi disarankan untuk menunda imunisasi, terutama bagi bayi dan anak yang sangat muda. Jika tertunda, rencanakan imunisasi dikejar. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan tetap dilakukan sesuai jadwal yang direkomendasikan Kemenkes. Kegiatan pendidikan anak usia dini sebaiknya dilakukan di rumah dalam lingkungan keluarga, dalam bentuk stimulasi berbagai ranah perkembangan dengan penuh kasih sayang oleh anggota keluarga yang sehat. Kegiatan pembelajaran bagi anak usia sekolah dan remaja sebaiknya tetap dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran jarak jauh mengingat kemungkinan bulan Juli wabah belum teratasi dengan baik. Tatanan kehidupan normal baru harus tetap mengutamakan pembatasan fisik untuk mencegah penyebaran COVID-19. Pelonggaran terlebih lagi penghentian PSBB harus didasarkan analisis epidemiologis secara seksama. Tetap menjaga kesehatan dengan nutrisi lengkap seimbang, istirahat cukup dan aktivitas fisik sesuai usia.Aman Bhakti Pulungan juga menghimbau setiap anggota IDAI untuk siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mempersiapkan tatanan kehidupan normal baru koordinasi dilakukan melalui Satuan Tugas COVID-19 IDAI.

 

Rekomendasi Terkait COVID-19 bagi anak dengan down syndrome

Kelompok Riset Trisomi 21 (T2IRS) membuat rekomendasi untuk orang-orang dengan DS, pengasuh, dan klinisi terkait dengan pandemi COVID-19 yakni : Hindari paparan semaksimal mungkin melalui menjaga jarak. Jika anda memiliki down syndrome yang disertai dengan masalah kesehatan lain, sebaiknya isolasi diri sebaik mungkin. Pastikan adanya akses ke layanan kesehatan yang setara, dan berikan pelayanan yang sama pada orang dengan down syndrome seperti orang lain. Jika ada keraguan mengenai perubahan keadaan kesehatan seseorang dengan down syndrome segera periksakan ke fasilitas.

 

Yang Harus diperhatikan untuk down syndrome adalah bagi yang memiliki keterbatasan intelektual mungkin akan membutuhkan bantuan untuk mengerti dan melaksanakan pencegahan COVID-19 seperti : Menjaga jarak, menjaga kebersihan tangan dan tubuh, memakai masker, isolasi mandiri. Difabel down syndrome (DS) juga dapat merasakan kesulitan menyampaikan gejala yang ia rasakan, seperti rasa tidak nyaman atau nyeri. Maka, pengasuh atau keluarga harus memperhatikan adanya keadaan kesehatan anak dengan down syndrome. Mengenali gejala sejak dini penting untuk anak dengan DS untuk mencegah penyakit yang parah.

Terkait soal sekolah. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mendukung dan mengapresiasi kebijakan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk menjadikan rumah sebagai sekolah dan melibatkan peran aktif siswa, guru, orangtua dalam proses belajar mengajar. IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan melalui skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) baik secara dalam jaringan maupun luar jaringan. Menggunakan modul belajar dari rumah yang sudah disediakan oleh Kemendikbud. Anjuran melanjutkan PJJ ini akan dievaluasi secara berkala. Mengantisipasi kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka setidaknya sampai bulan Desember 2020. Pembukaan kembali sekolah-sekolah dapat dipertimbangkan jika jumlah kasus COVID-19 telah menurun. Apabila sudah memenuhi syarat epidemiologi untuk kembali membuka sekolah, maka IDAI menghimbau agar semua pihak dapat bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI sesuai dengan area yang sudah memenuhi syarat pembukaan. Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilans kesehatan untuk mendeteksi kasus baru dan pelacakan epidemiologi. Untuk keperluan ektrapolasi data secara akurat maka IDAI menyarankan pemerintah dan pihak swasta melakukan pemeriksaan RT-PCR secara masif (30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi COVID-19) termasuk juga pada kelompok usia anak.

Anjuran IDAI mengenai aktivisme anak di luar rumah selama masa pandemi COVID-19, IDAI menganjurkan anak-anak untuk tetap di rumah. Setiap orang yang kembali dari aktivitas di luar rumah wajib melepas dan membersihkan semua pakaian serta perangkat yang digunakan atau dibawa kemudian mandi, dan keramas sebeklum kontak dengan anak. IDAI menghimbau orangtua dan keluarga untuk tidak membawa anak-anak ke tempat umum atau membentuk kerumunan. Jika terpaksa maka anak harus selalu didampingi harus menjaga jarak fisik 2 meter, anak usia 2-18 tahun dan orang dewasa dianjurkan memakai masker dan face shield, menggunakan barier yang sesuai seperti penutup di kereta dorong untuk anak kurang dari 2 tahun, menjauhi orang yang sakit, cuci tangan sesering mungkin, menghindari memegang mulut, mata dan hidung.

Penggunaan masker, face shield, dan APD lain tidak menjamin pencegahan infeksi COVID-19, perlindungan terbaik adalah mencegah penularan infeksi dengan tetap di rumah.

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.