Lompat ke isi utama
ilustrasi anak Downsyndrome

Menyoroti Potret Down Syndrome di Indonesia

Solider.id,Yogyakarta - NLR Indonesia bekerjasama dengan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya menggelar webinar berjudul “Potret Down Syndrome Di Indonesia, Diseminasi Hasil Asesmen”, Rabu (8/7) pagi. PSLD menghadirkan narasumber dari peneliti asesmen yang terdiri dari Unita Werdi Rahajeng, M.Psi, Wahyu Widodo, M.Hum., Ari Pratiwi, M.Psi, Nurjannah, Ph.D, dan sejumlah penanggap dari unsur pemerintah serta pakar terkait.

Webinar ini digelar untuk menindaklanjuti hasil asesmen down syndrome yang telah dilaksanakan di penghujung tahun 2019 kemarin. Mulanya asesmen ini digelar untuk mengetahui sejauh mana gambaran di lapangan dari anak dan remaja down syndrome (ADS), terlebih juga melihat sampai dimana peran masyarakat dan pemerintah dalam menjamin pemenuhan hak-hak mereka.

Wahyu Widodo, Sekretaris PSLD UB, memulai acara dengan memaparkan bahwa down syndrome merupakan salah satu kelainan kromosom yang lazim ditemui. Di Indonesia sendiri, terjadi peningkatan proporsi down syndrome pada anak usia 24-59 bulan yaitu 0,12 pada tahun 2010, serta 0,13 pada tahun 2013, dan 0,21 pada tahun 2018. Data ini merujuk pada riset kesehatan dasar (Riskesdas) rentang 2010 sampai 2019.

Adapun tujuan penelitian ini menurutnya untuk melihat tiga hal utama. Pertama, memetakan demografis mulai dari status kesehatan, sosial ekonomi, hingga pendidikan. kedua, mengetahui ekologis atau penerimaan, dukungan dan stigma dari lingkungan, mulai dari mikrosistem hingga makrosistem. Terakhir, untuk memberikan rekomendasi kebijakan terhadap sejumlah pemangku kepentingan untuk membenahi sistem yang ada.

“Lokasi penelitian kami klasifikasikan menjadi 3 kluster dalam 5 kota yang kami teliti. Terdiri dari Jakarta sebagai representasi kota besar, Salatiga dan Boyolali sebagai representasi kota menengah, serta Kupang dan Kefamenanu sebagai representasi kota kecil. Sedangkan untuk respondennya sendiri kami mengambil dari orang tua, komunitas/penyedia layanan, dan pemerintah,” urainya.

Sementara itu, Nurjannah, Anggota Bidang Penelitian dan Pengembangan PSLD UB, menyatakan bahwa daerah sangat mempengaruhi tingkat deteksi dini yang dilakukan oleh orang tua. Misalnya saja di Jakarta mayoritas deteksi dilakukan saat setelah lahir, sedangkan di Kupang deteksi baru dilakukan ketika anak berusia 1 hingga 5 tahun.

Nurjannah juga menyoroti bahwa kondisi daerah tampaknya juga mempengaruhi ADS dalam mengakses pendidikan formal. Berdasarkan pengamatan, Jakarta misalnya, keterlibatan anak dengan down syndrome mencapai 74%, sementara di Kefamenanu hanya 13% saja. “Memang hal ini mau tidak mau turut dilatarbelakangi oleh penerimaan dan persepsi orang tua terhadap ADS dimana indeks di Jakarta lebih tinggi daripada daerah lainnya,” tuturnya,

Lebih lanjut, Nurjannah turut mengimbau untuk melakukan deteksi dini yang valid dan reliabel sebagai langkah diagnosis ADS. Kemudian melakukan upaya replikasi praktik-praktik baik yang telah terlaksana di suatu daerah ke daerah lain. Ia beranggapan jika rekomendasi tersebut menjadi penting dalam rangka mendorong percepatan penyelesaian permasalahan yang berkenaan tentang ADS di Indonesia.

Merespon hal tersebut, perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prima Dea Pangestu, menuturkan bahwa ADS berhak mendapat perlindungan khusus untuk menjamin rasa aman terhadap ancaman yang membahayakan diri dan jiwa dalam masa tumbuh kembang si anak.

Selain itu, Prima juga menekankan kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk mengasuh dan menumbuhkembangkan si anak sesuai dengan kemampuan dan potensi yang mereka miliki. Terlebih, keluarga juga memegang peran penting sebagai lingkungan paling intim anak sehingga dari situlah karakter anak terbentuk.

“Pemerintah dalam hal ini kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak terus mengupayakan perlindungan yang optimal kepada seluruh ADS tanpa terkecuali,” pungkasnya.

 

Reporter; Bima Indra

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.