Lompat ke isi utama
ilustrasi anak sekolah dasar sedang berfoto bersama

Upaya PGRI dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusif

Solider.id,Yogyakarta - Keberadaan PP No 13 Tahun 2020 tentang “Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas” merupakan dasar bagi penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik, termasuk difabel, untuk mengenyam pendidikan bersama-sama dengan peserta didik nondifabel lainnya. Hal tersebut diwujudkan dengan menyediakan sarana, tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan kurikulum yang disesuaikan, serta mengakomodasi kebutuhan masing-masing individu peserta didik.

Berbekal hal tersebut, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Yogyakarta menggelar seminar daring bertajuk “Kesiapan Pendidik dan Peran PGRI dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia”, Selasa (7/7) siang. Dalam seminar tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dari PGRI dan pemerintah.

DR. M.Q. Wisnu Aji, S.E.,M.ED., pengurus PB PGRI, mengawali acara dengan memaparkan berdasarkan data dari Kemendikbud, saat ini terdapat 59704 siswa difabel, 4476 guru pembimbing khusus (GPK) dan sekolah inklusif di Indonesia. Jumlah tersebut diakuinya sangat tidak sebanding dengan banyaknya siswa difabel yang ada. Ia mengasumsikan bahwa hanya ada satu guru dalam satu sekolah inklusif, padahal seharusnya terdapat paling tidak ada dua GPK.

Lebih lanjut, Aji menerangkan mengenai sejumlah persoalan pendidikan inklusif di Indonesia berdasarkan penelitan yang telah dilakukan oleh Ni’matuzahroh tahun 2018 lalu. Dalam penelitian itu disebutkan jika ada 44,6% guru di Indonesia menyatakan sekolah mereka belum siap untuk menjadi sekolah inklusif. Hal tersebut dikarenakan sekolah inklusif hanya membebani sekolah tanpa membawa efek positif nantinya.

“Ini sangat memprihatinkan bagi saya, ternyata banyak guru yang masih menganggap siswa difabel sebagai sesuatu beban. Maka, diperlukan pengarusutamakan isu difabel dalam rangka memahamkan bahwa pendidikan sebenarnya adalah hak masing-masing anak. Hal ini bukan untuk semata-mata karena charity, namun benar-benar menyadarkan para guru untuk memahami hak semua anak,” tegasnya saat acara berlangsung.

Aji melanjutkan bahwa hal tersebut kian diperparah dengan 44,6% guru menyatakan bahwa belum semua sekolah perlu diubah menjadi inklusif dan 39,2% lainnya menyatakan jika sekolah inklusif ideal digagas namun sulit untuk diaplikasikan. Menurutnya hal ini sangat tidak sejalan dengan peraturan yang seharusnya setiap sekolah harus inklusif dan pemerintah dalam hal ini akan memfasilitasi sekolah terkait hal-hal yang diperlukan nantinya.

“Pada level sekolah saja kita masih bermasalah, baik dari guru maupun lingkungan sekolahnya. Hal ini perlu segera disadari dan ditindaklanjuti oleh pemerintah, bahwa pendidikan inklusif bukan hanya sekadar perintah undang-undang, tetapi merupakan amanah yang menyangkut hak asasi seluruh orang,” urainya.

Kendati demikian, Aji menilai entitias di luar pemerintah, seperti PGRI, juga dapat berperan untuk turut mempercepat proses terwujudnya pendidikan inklusif. Misalnya saja dengan melakukan pelatihan kepada GPK secara masif dengan tetap melakukan pelatihan kepada guru reguler di sekolah inklusif. Hal itu selaras dengan keinginan orang tua siswa difabel yang mengharapkan anaknya dapat mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki. Manajemen sekolah pun tak boleh luput untuk didampingi. Terlebih, tetap melakukan sosialisasi kepada siswa dan warga sekolah tentang urgensi pendidikan inklusif sehingga akan membangun lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi siswa difabel.

“Kedepannya, pemerintah perlu bersinergi dengan PGRI selaku entitas profesi untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan inklusif. Salah satu hal baik yang nantinya akan tercipta dari hadirnya pendidikan inklusif, yakni tumbuhnya paradigma baru di masyarakat bahwa pendidikan inklusif merupakan bentuk penyempurnaan dari pendidikan khusus yang selama ini selalu diidentikkan dengan difabel,” pintanya memungkasi.

 

 

Reporterp; Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.