Lompat ke isi utama
poster kegiatan diskusi online

Cerita Survivor Bipolar Berdaya Saat Pandemi COVID-19

Solider.id, Surakarta - Pernah memiliki cerita panjang terkait perjuangannya dalam menghadapi gangguan jiwa, Fithri Setya Marwati, seorang dosen di sebuah universitas menceritakan pengalaman tersebut saat menjadi pemantik diskusi dalam webkusi pentingnya layanan kesehatan jiwa bagi difabel saat pandemi COVID-19, Minggu (5/7). Pada suatu waktu, Fithri pernah memutuskan tidak mengkonsumsi obat-obatan yang dia dapat dari psikiaternya. Namun kemudian ia mengalami relaps atau kekambuhan yang menyebabkan ia harus dirawat inap lagi dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk bisa berkomunikasi dengan baik seperti semula dan meraih kesadaran seperti saat ini.

Fithri menyikapi dengan positif efek pandemi meski sebelumnya pernah dilanda kecemasan. Ia semula tidak menyangka secepat itu pandemi covid-19 sampai ke Solo hingga dinyatakan Kasus Luar Biasa (KLB). Ia yang memilki seorang anak balita, berpikiran negatif jangan-jangan anaknya kena. Ada kecemasan. Karena cemas lalu menimbulkan rasa takut akhirnya ia banyak berpikir sehingga ia tidak bisa nyenyak tidur dan kepikiran. Karena pola tidur terganggu, nafsu makan berkurang karena kebanyakan mikir. Aktivitas terbatas, karena tidak bisa keluar rumah karena hal-hal penting mesti dijaga. Akhirnya ia bosan karena terus-menerus berada di dalam rumah.

Namun ada efek postifnya, Fithri menjadi tertib meminum obat. Untuk mengurangi rasa bosan, ia melakukan banyak hal kreatif, hal-hal yang dulu tidak pernah ia lakukan sebelumnya seperti membuat mainan kapal-kapalan, membuat kerajinan bunga dan memasak. Ia semakin terampil meramu resep masakan untuk tiga kali konsumsi makan bersama keluarga dengan menu yang berbeda-beda.

Sebagai seorang dosen di perguruan tinggi swasta, di masa pandemi yang banyak mengetengahkan kabar tentang Putus Hubungan Kerja (PHK) di berbagai lini pekerjaan terutama swasta, Fithri juga mengalami penurunan pendapatan. Karena bekerja dari rumah (WFH) dinilai bahwa fasilitas tidak dilakukan di kampus, maka pekerjaan laporan banyak dikerjakan dari rumah. “Saya tipe pembosan, karena ada laporan, setiap hari ada deadline, ini harus dilakukan hari ini. Akhirnya saya kena sanksi apa ya, aduh gimana ya nanti, ada ketakutan seperti itu. Income pun menurun,” jelas Fithri.

Karena terbiasa mengakses pengobatan mandiri, maka harga obat jadi mahal. Timbullah pikiran dan niat belajar berdagang secara online. Itulah kemudian yang memupus rasa cemas, takut dan kecewa. Ia kemudian meneguhkan diri bahwa ternyata dirinya bisa berdagang secara online. Menurutnya itu menjadikan kepuasan tersendiri. Fithri juga bisa mengambil hikmah bahwa dengan bekerja dari rumah ia memiliki waktu yang berkualitas untuk menemani anaknya yang balita yang menurutnya itu menujukkan pengabdiannya sebagai seorang ibu.

Menurut ibu dua anak ini, layanan kesehatan jiwa sangat penting di saat pandemi COVID-19 karena ketika ada perasaan dipendam seperti cemas dan takut, ia bisa mengakses dengan berkonsultasi ke psikiater. Sebulan sekali ia ungkapkan uneg-uneg kemudian diberikan resep. Hanya saja dia masih menemui kendala saat berobat, sebab antrean yang tambah panjang karena penerapan physical distancing, tidak bisa inden padahal resep relatif mahal dan kadang susah bertemu dengan psikiter. Ia kemudian mencari cara dengan datang lebih awal dan membawa copy resep sehingga lebih mudah saat dikomunikasikan.

Fithri sudah menemukan kecocokan, baik obat dan psikiter sehingga ketika ia mendapatkan obat dan pengarahan, ia bisa survive. Soal manajemen diri, ia bisa berdiri sendiri alias mandiri artinya memiliki kesadaran diri yang penuh. “Saya ada family support, komunitas, juga lingkungan di sekitar saya yang sangat mendukung karena untuk berusaha berdiri banyak up and down. Saya tidak bisa menyayangkan, ternyata saya dulu seperti itu tetapi saya ada support lalu saya bisa berkata, oh saya bisa sadar,” pungkasnya.

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.