Lompat ke isi utama

Memasuki Perguruan Tinggi: apa yang Harus Disiapkan Difabel Netra?

Solider.id - Minggu 5 Juli 2020, DPD Pertuni Jawa Timur bersama Kartunet menghelat diskusi yang berjudul “Virtual Sharing Tunanetra Ayo Kuliah”. Diskusi ini mengundang tiga narasumber. Ketiga narasumber yang diundang yakni Alfian Andika Yudhistira (alumni Universitas Airlangga), Banyu Nugraha (mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi), dan Nurul Hikmah (mahasiswa Universitas Negeri Surabaya). Kesemua narasumber yang dihadirkan adalah difabel netra.

Mula-mulanya, Alfian Andika Yudhistira, difabel netra alumni program studi Antropologi Universitas Airlangga menjelaskan, bahwa hal pertama yang harus di siapkan oleh seorang difabel netra ketika hendak memasuki jenjang perguruan tinggi, yaitu kesiapan mental. Ia menyampaikan hal ini berdasarkan pengalamannya.

Sebagai mahasiswa difabel netra pertama di program studinya, ia harus berhadapan dengan orang-orang ditempatnya belajar yang tidak memahami bagaimana difabel netra belajar. “kita memang memiliki berbagai undang-undang dan peraturan yang mengatur hak difabel untuk belajar di perguruan tinggi, namun itu semua tidak dipahami dilapangan”. Ungkap Alfian pada diskusi yang digelar melalui platform Zoom.

Ia mencontohkan, ketika pertama kali dirinya berkomunikasi dengan pihak Universitas Airlangga, pihak universitas berpikir bahwa menyediakan akses bagi mahasiswa difabel tentu saja membutuhkan biaya yang mahal. Sebabnya, menurut pihak universitas, mahasiswa difabel, terutama difabel netra, harus belajar menggunakan buku braille, dimana pengadaannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Suka tidak suka, berhadapan dengan hal seperti itu, membuat seorang mahasiswa difabel harus memiliki mental yang kuat.

Peristiwa lain misalnya, ada dosen yang sempat tak percaya bahwa Alfian dapat menyelesaikan skripsi. Namun, setelah Alfian berhasil menuntaskan skripsi, justru dosen tersebut memberikan pujian—sekaligus menghapuskan rasa ketidak percayaannya pada mahasiswa difabel netra.

Banyu Nugraha, mahasiswa program studi Sastra Inggris Universitas Muhammadiyah Sukabumi, hal lain yang harus disiapkan oleh difabel netra yang akan memasuki dunia kuliah, yakni kemampuan mengkomunikasikan kebutuhan. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di universitas yang baru pertama kali menerima difabel netra, Banyu memiliki pengalaman berharga ketika harus mengkomunikasikan kebutuhannya kepada pihak universitas. Sebabnya, universitas tentu saja belum memahami kebutuhan mahasiswa difabel netra, karena, karena sebelumnya belum pernah menerima difabel netra di kampusnya. Banyu harus menjelaskan kepada universitas, bahwa mahasiswa difabel netra sepertinya memerlukan bahan belajar yang disajikan dalam bentuk Soft Coppy, agar dapat diakses dengan menggunakan pembaca layar. Sederhananya, menurut Banyu, mahasiswa difabel netra harus pro aktif mengkomunikasikan kebutuhannya, terutama di universitas-universitas yang sebelumnya sama sekali belum pernah menerima mahasiswa difabel.

Apa yang dikatakan oleh Banyu, didukung oleh Nurul Hikmah, narasumber lain dalam diskusi tersebut. Dirinya yang belajar di program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya, juga harus memberikan penjelasan kepada pihak pengelola program studi mengenai bagaimana difabel netra dapat mengakses pembelajaran. Sebabnya, program studi tempatnya belajar, sudah lama tak menerima mahasiswa difabel. sebelumnya, program studi tersebut, pernah menerima mahasiswa difabel, namun hal itu telah berlangsung sebelum Nurul masuk ke program studi itu.

Dimas Prasetyo Muharam, difabel netra alumni jurusan Sastra Inggris Universitas Indonesia yang menjadi moderator dalam diskusi ini, menimpali bahwa selain mengikuti kegiatan akademik, mahasiswa difabel harus mengikuti kegiatan non akademik seperti organisasi. Hal ini, karena disanalah, seorang mahasiswa akan dapat membangun pertemanan dan jejaring yang lebih luas. Jika ada yang mengkhawatirkan kemampuan seorang difabel netra, maka tak perlu khawatir. Yang harus dilakukan adalah menunjukan kemampuan yang dimiliki difabel netra.

Dimas mencontohkan, karena ia sangat mencintai dunia digital, maka ia mahir membuat website. Oleh karenanya, hal itulah yang ia tunjukan ketika ia mendaftar organisasi kampus dan kepanitiaan. Alhasil, orang lain pun percaya dengan kemampuannya dan ia seringkali ditempatkan pada divisi media dalam sebuah organisasi.

 

Reporter; Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.