Lompat ke isi utama
uang baru tidak aksesibel

Aksesibilitas Pecahan Uang, masih Jadi Angan-Angan

Solider.id - Sejarah hari bank di Indonesia yang diperingati setiap tanggal 5 Juli tidak merujuk pada momentum berdirinya Bank Indonesia (BI), melainkan Yayasan Pusat Bank Indonesia yang kemudian menjadi Bank Negara Indonesia (BNI) tanggal 5 Juli 1946. Setiap tanggal 5 Juli diperingati sebagai hari bank di Indonesia. Peringatan ini merujuk kepada lahirnya Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank pertama yang didirikan pemerintah RI setelah kemerdekaan, tepatnya tanggal 5 Juli 1946 (tirto.id, 2019).

Ketika mendengar kata “bank”, pastilah yang terbersit di pikiran kita adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan uang, seperti deposito, kredit, debit, dan bunga tabungan, dan lain sebagainya. Pada ulasan kali ini, kita tidak akan membahas panjang lebar tentang sejarah berdirinya bank di Indonesia. Tetapi, kita mau melihat, sudah sejauh mana bank yang ada di Indonesia menerapkan konsep aksesibilitas?

Dilansir dari pertuni.or.id, Bank Indonesia (BI) telah meluncurkan uang baru Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) emisi 2016 pada hari Senin, 19 Desember 2016. Salah satu keunikan uang NKRI yang belum lama diluncurkan ini, yakni adanya fitur Blind Code (Kode Tunanetra), sehingga diharapkan uang NKRI dapat lebih mudah diakses oleh difabel netra di seluruh Indonesia. Kode tunanetra yang dimaksud merupakan  garis kembar yang dicetak timbul pada sisi kanan dan kiri lembar uang. Pada pecahan uang seratus ribu rupiah misalnya, terdapat sepasang garis timbul. Pada pecahan lima puluh ribu rupiah terdapat dua pasang garis timbul. Pada pecahan dua puluh ribu rupiah terdapat tiga pasang garis timbul , dan seterusnya. Semakin kecil nilai pecahan uang, maka semakin banyak garis kembar yang terdapat pada kedua sisi lembar uang tersebut. Aksesibilitas uang untuk difabel netra telah cukup lama menjadi fokus advokasi Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia). Setelah beberapa upaya lobi dan audiensi yang dilakukan Pertuni kepada BI, barulah akhirnya BI menindaklanjuti perihal aksesibilitas uang tersebut pada tahun 2015. Dalam sebuah forum diskusi, Pertuni memberikan contoh aksesibilitas uang yang telah ada di negara-negara lain. Dollar Australia misalnya, menggunakan bahan kertas yang relatif kaku, serta memiliki ukuran kertas yang berbeda antara tiap pecahan uang untuk memudahkan difabel netra membedakan pecahan uang yang satu dan yang lain. Sementara itu, dollar Hong-Kong menggunakan angka Braille dan garis timbul sebagai aksesibilitasnya—dan inilah yang pada akhirnya dipilih BI untuk digunakan pada lembar uang NKRI sebagai fitur aksesibilitas untuk difabel netra (https://pertuni.or.id/aksesibilitas-untuk-tunanetra-pada-uang-baru-nkri/).

Lalu apakah aksesibilitas pada pecahan rupiah tersebut telah benar-benar akses bagi teman-teman netra? Solider menanyakan hal tersebut kepada beberapa teman-teman netra, antara lain, Afif Husain Rasyidi ( Ketua Departmen Pendidikan Forum Mahasiswa Inklusif Universitas Brawijaya), Katanya dia malahan baru tahu kalau uang yang sekarang itu memiliki tanda berupa garis-garis penanda bagi difabel netra, sebab dulu ia dapat mengingat jumlah uang dari warnanya. Menurutnya lebih akses uang yang dulu daripada yang sekarang. Dulu ia dapat menghafal jumlah uang dari warnanya, seperti pecahan seratus ribuan itu berwarna merah,  dua puluh ribuan itu berwarna hijau, dan pecahan lima puluh ribuan itu berwarna biru.  Untuk uang yang sekarang, ia harus lebih mendekatkan matanya dengan teliti  untuk tahu jumlah uang   dan juga mengidentifikasi jumlah uang  itu dari tokoh yang menjadi lambang dari pecahan uang rupiah tersebut. Bahkan ia yang low vision terkadang susah membedakan antara pecahan dua ribuan dengan pecahan dua puluh ribuan, katanya sering tertukar. Menurut lalaki kelahiran Madura ini, ia  tidak mendapatkan sosialisasi mengenai uang rupiah pecahan baru tersebut yang memiliki penanda (berupa garis-garis)  bagi difabel netra

Lalu menurut Jefri Adam (Ketua Yayasan Pelita Netra), baginya  uang tunai yang ada  memang tidak akses, sehingga ia lebih suka menggunakan uang non tunai, seperti OVO dan lain sebagainya. Kalaupun ketika ia ingin mengetahui jumlah uang, katanya lebih bisa jika menggunakan aplikasi di android. Tambahnya  lagi, uang yang dari BI itu benar-benar tidak akses. Tetapi ia juga pernah mendengar kabar, katanya ada difabel netra dari daerah, yang bisa mengetahui jumlah uang meski kondisi uang tersebut sudah kusut. Namun kabar tersebut belum tentu kebenarannya. Tetapi Jefri Adam kembali menjelaskan bahwa, uang tunai yang ada apalagi bila telah lusuh akan semakin tidak akses, kecuali uang yang baru keluar dari ATM atau    bank.

Kemudian, menurut Muh. Sonny Sandra  Ketua Forum Advokasi dan Penyadaran Hak Asasi Manusia Penyandang Disabilitas (FAHAM DISABILITAS) Sulsel yang juga menjabat sebagai Ketua National Paralympic Committee (NPC) Sulsel, baginya  aksesibilitas uang kertas akan lebih mudah dipahami apabila menggunakan tanda braille, sebab jenis pecahan uang yang beredar juga tidak begitu banyak, jadi tidak susah untuk membiasakan diri dan mempelajari mengenali jumlah pecahan uang apabila telah dilengkapi dengan penanda dalam bentuk braille.

Meskipun pihak BI mengklaim bahwa,  dalam rangka membantu dan mengakomodasi kebutuhan difabel netra dalam mengenali pecahan uang Rupiah, Bank Indonesia telah meminta masukan dari asosiasi/organisasi tuna netra di Indonesia terkait penerapan kode khusus berupa blind code pada uang kertas Rupiah. Pencantuman blind code tersebut diaplikasikan pada uang kertas Rupiah yang diterbitkan mulai tahun 2004 (https://www.bi.go.id/id/faq-sistem.aspx).

Ternyata penanda uang bagi difabel netra bukan pertama kalinya diluncurkan pada tahun 2016, Namun menurut pengamatan Solider, hingga kini  uang yang beredar  belum aksesibel bagi difabel netra secara maksimal.  FiturBlind Code yang melengkapi uang baru Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) emisi 2016 tersebut tidak dapat bertahan lama. Apabila uang tersebut sudah lusuh, maka penanda yang ada akan semakin samar dan sulit diraba bagi difabel netra, yang ujungnya adalah mereka akan tetap memerlukan bantuan orang-orang terdekat untuk mengenali uang, atau jika difabel netra tersebut sudah cukup cakap menggunakan teknologi, mereka akan terbantu dengan adanya aplikasi-aplikasi pembaca uang, yang terdapat pada  ponsel pintar yang menjalankan sistem operasi iOs maupun Android.

Semoga dengan adanya ulasan ini, para pemangku kebijakan yang memiliki otoritas dalam hal pencetakan uang, menjadikan uang di masa depan lebih akses dan memenuhi konsep inklusif yang komprehensif

Selamat hari bank, dan harapan difabel netra  untuk aksesibilitas yang maksimal pada uang tak pernah padam.

 

Reporter: Andy Zulfajrin Syam

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.