Lompat ke isi utama
dua perempuan netra yang bekerja di dunia digital

Cerita Dua Perempuan Netra Unjuk Kemampuan di Dunia Digital

Solider.id – “Kok bisa sih tuna netra bekerja di dunia digital, tuna netra kan nggak bisa lihat?”. Pertanyaan senada kerap pula dilontarkan kepada Hadianti Ramadhani, perempuan low vision yang kini menekuni pekerjaan sebagai content writer di perusahaan periklanan berbasis digital bernama ThinkWeb. Sebagai content writer, Hadianti memproduksi konten yang akan dipublikasikan di media digital dari brand-brand yang menjadi klien ThinkWeb. Lantas bagaimana difabel netra bisa bekerja di dunia digital? Hadianti menjawab pertanyaan tersebut dalam Bincang Kerja Bareng Difabel yang diselenggarakan online oleh Difalink beberapa waktu lalu.

Hadianti mengatakan bahwa pada dasarnya netra bisa bekerja dengan komputer secara mandiri dengan software pembaca layar. Laptop dan smartphone yang digunakan sama, hanya saja diinstal beberapa perangkat lain. Prinsip kerjanya tidak melihat apa yang tampil di layar, tapi apa yang dibaca oleh software yang diinstal tadi. Selain itu, pekerjaan digital bisa dilakukan dari rumah atau dari kantor seperti dirinya. Hal yang terpenting menurut Hadianti adalah kesempatan karena kesempatan itu istimewa bagi difabel untuk mendapatkan pengalaman kerja. ThinkWeb adalah digital agency atau perusahaan periklanan berbasis digital pertama di Indonesia yang membuka kesempatan bekerja bagi netra untuk bermitra dengan orang lihat atau orang awas. Saat perusahaan lain menolak netra, Ramya Prajna Sahisnu atau yang akrab dipanggil Rama, CEO ThinkWeb, justru ingin punya karyawan netra. ThinkWeb memang sudah welcome dengan netra, selain Hadianti ada satu lagi karyawan netra di divisi berbeda dan sebelum ia masuk juga ada yang pernah magang di ThinkWeb.

Hadianti mulai bergabung dengan ThinkWeb sejak tahun 2017. Ia masuk di divisi konten karena perusahaan tahu  bidang mana saja yang bisa dikerjakan oleh netra. Menulis sebenarnya bukan hal baru bagi Hadianti, karena sejak 2011 sebagai alumnus jurusan ilmu komunikasi, ia sudah menyenangi dunia tulis-menulis dengan aktif mengirimkan tulisan ke media, menulis blog, dan lainnya. Hadianti merasa menulis konten marketing adalah bentuk penulisan yang belum pernah ia lakukan dan ketertarikannya dimulai dari situ.

Pertanyaan selanjutnya, apa saja yang perlu difabel netra siapkan ketika mau berkarir di dunia digital? Hadianti mengatakan bahwa kemampuan atau skill yang dipunyai harus ‘menengah ke atas’. Industri periklanannya berbasis digital sehingga software-software akan cukup banyak digunakan untuk pekerjaan sehari-hari. Meski berbeda dengan orang awas yang tinggal klik-klik tombol dengan gampang, tidak demikian bagi difabel netra yang dipandu hanya dari suara sehingga untuk bisa lancar atas aplikasi baru maka membutuhkan proses orientasi terlebih dahulu. Kesempatan yang dimaksud Hadianti tadi termasuk juga kesempatan untuk orientasi tools bekerja sehari-hari. Hal ini diberikan oleh ThinkWeb di masa probation atau masa percobaan tiga bulan kerja. Hadianti dikenalkan tools-nya apa saja lalu di-eksplore sampai lancar pakai dengan laptop dan smartphone. Kalau tidak paham, Hadianti selalu bertanya bagaimana cara pemakaian software-nya.

Tidak hanya pengenalan alat, ketika masa probation Thinkweb juga memberikan mentoring. Ada seorang senior yang mengajari basic digital marketing dan flow kerja, serta standar apa yang akan dipublikasikan di media sosial, latihan bikin caption, dan lainnya. Bagi Hadianti, sesi mentoring ini penting untuk bekal bekerja.

Yang juga menarik, di Thinkweb karyawan netra diberikan teman tandem untuk pekerjaan visual yang tidak bisa dibaca dengan screen reader. Tugas yang dikerjakan karyawan netra adalah tugas-tugas yang bisa dikerjakan dengan laptop yang menggunakan screen reader, sedangkan tugas-tugas yang tidak bisa dikerjakan screen reader, seperti entry data kuis-kuis berhadiah yang menyertakan insert foto KTP yang membutuhkan visual, itu harus dibantu oleh content writer lain yang merupakan orang awas. Hadianti memberikan catatan bahwa jikalau tertarik untuk bekerja di dunia digital, maka difabel netra perlu memastikan 80% pekerjaan yang akan ditekuni dapat dikerjakan secara mandiri, sisanya bisa dibantu oleh orang awas.

Hadianti ingin mengajak difabel netra lainnya untuk membuka diri pada bidang pekerjaan ini serta bagi pelaku bisnis untuk melibatkan difabel berkontribusi karya di bidang digital yang dapat dikerjakan secara team work.

“Kualitas pekerjaan seseorang akan semakin baik ketika jam terbang tinggi, tapi difabel tidak akan bisa mencapai itu ketika tidak ada kesempatan dan kepercayaan serta mentoring.” tegas Hadianti.

Dunia digital sangat potensial untuk dapat penghasilan. Di luar sana banyak pekerjaan digital yang bisa dikerjakan freelance atau paruh waktu. Hal tersebut menjadi solusi ketika transportasi publik belum aksesibel bagi difabel di Indonesia. Jadi, tidak perlu kemana-mana karena bisa dikerjakan di rumah. Jika ingin bertemu dengan klien dapat dilakukan via telepon, email atau online. Difabel netra perlu mendongkrak skill karena dunia digital adalah peluang bagi difabel yang tidak mementingkan standar pendidikan tapi kualitas. Meski tak kuliah pun, tapi kalau skill-nya cukup, maka dapat menghasilkan uang dari dunia digital.

Hadianti memberikan beberapa tips bagi difabel netra yang ingin berkarir di dunia digital, meski merasa dirinya masih pemula karena baru dua setengah tahun menggeluti dunia digital, tapi Hadianti meyakini bahwa mindset awal harus dimulai dengan melihat potensi diri. Setelah menyiapkan diri dan keterampilan terbaik di pekerjaan dunia digital tersebut, kemudian membangun jejaring. Dulu, Hadianti mengenal ThinkWeb dari Bioskop Bisik yang kerjasama dengan Yayasan Mitra Netra dimana ia aktif di organisasi tersebut, lalu ia kenal seorang teman yang magang di ThinkWeb dan banyak cerita-cerita pengalaman selama di sana. Orang mengenal dan tahu skill Hadianti dari jejaring tersebut, sebab kalau tidak aktif berorganisasi dan berjejaring ia tidak akan mengenal ThinkWeb. Saran Hadianti, jangan hanya menunggu kesempatan, tapi juga tingkatkan jejaring.

Hadianti mengingat proses dirinya mencari pekerjaan baginya dahulu tergolong susah. Ia banyak melamar kerja sana-sini tapi tidak dapat juga hampir tiga tahunan dan juga hampir stres. Ia merasa faktor penerimaan terhadap difabel di dunia kerja masih minim dan dari sisi pengalaman difabelnya juga masih kurang kala itu.

“Akhirnya aku ikut komunitas dan organisasi, banyak menerima informasi training di dalam dan luar negeri. Aku ke Jepang tahun 2012 mewakili komunitas pemuda disabilitas. Juga pernah beberapa kali training diantaranya di Malaysia dan Korea Selatan tahun 2013, Australia 2018 karena aku aktif di organisasi sehingga ketika ada kesempatan aku dilibatkan.” terang Hadianti.

Lain Hadianti lain pula pengalaman Andira Pramatyasari sebagai Youtuber. Belakangan banyak orang menggunakan Youtube untuk menghasilkan uang, termasuk bagi netra. Dengan jumlah penonton beragam, pasar Youtube punya daya tarik tersendiri. Situs web memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi ini dapat digunakan oleh netra dengan modifikasi.

 

Pengalaman Andira yang belum dua bulan mengunggah video pertama di Youtube, merasa bahwa media online adalah cara paling tepat berekspresi. Terlebih di masa pandemi semua kegiatan offline mau tidak mau dipaksa berubah online. Selain akibat pandemi, Andira ingin melakukan hal baru yang belum pernah ia lakukan dan juga ingin menantang dirinya sendiri untuk menyampaikan sesuatu secara monolog.

Persiapan awal membuat video pun cukup sederhana karena Andira memaksimalkan peralatan dari yang ia punya. Memang ada beberapa alat baru yang ia beli seperti mini tripod, holder dan microphone eksternal, tapi dengan harga relatif murah. Perekaman dilakukan menggunakan ponsel IPhone yang kamera dan videonya sudah cukup mumpuni untuk Youtuber pemula.

Proses perekaman video berlokasi di rumah, seperti layaknya protokol selama pandemi. Jadi, Andira hanya meminta bantuan keluarga di rumah untuk menyesuaikan posisi kamera, sementara untuk proses editing Andira memutuskan memakai jasa editor, dan lagi-lagi dengan harga relatif murah.

“Aku mau video aku ini penontonnya tidak hanya netra tapi orang lihat, makanya aku melibatkan orang lihat pada proses perekaman dan editing.” jelas Andira dalam diskusi yang diselenggarakan Yayasan Bintari (24/6) dengan tajuk “Ekonomi Kreatif dan Optimalisasi Platform Digital untuk Disabilitas”.

Andira berencana ke depannya ketika viewers dan subscriber-nya sudah banyak, ia akan belajar mengedit videonya sendiri. Yang ia bisa kerjakan sendiri saat ini baru membuat video salam pembuka dan penutup berupa audio yang kemudian disempurnakan editornya dengan menambahkan animasi.

Banyak teman yang sejak dulu menyarankan Andira membuat kreasi lewat video tapi ia merasa belum cukup punya alasan untuk bikin konten positif yang tidak sekedar bertujuan hanya ingin mendapat viewers dan subscriber semata.

“Aku memilih membuat video dengan topik rekrutmen CPNS karena aku juga sedang mendaftar, jadi aku tahu permasalahan dan keluhan yang dialami oleh difabel ketika mendaftar CPNS. Agar mereka yang mau ikut daftar CPNS dapat paham suka dukanya serta memberi edukasi bahwa peluang lulus difabel cukup besar padahal di sana banyak kesulitan dan tahapan CPNS cukup banyak, jadi tentu banyak juga permasalahan CPNS formasi difabel.” ungkap Andira.

Dengan adanya video edukasi tersebut, Andira berharap pembuat kebijakan mengetahui permasalahan ini dan memberi solusinya ke depan. Andira sudah punya ide lain untuk topik yang ingin ia bahas di Youtube channel-nya semisal mereview aksesibilitas fasilitas atau layanan publik, tapi tentu saja harus menunggu pandemi mereda. Selain itu, ia ingin membagikan profesi atau jurusan fakultas yang bisa diambil oleh difabel netra dan sebagai konten selingan, Andira akan menyelipkan hal-hal ringan seperti cover lagu atau aktivitas sehari-hari agar Youtube channelnya tidak terlalu terkesan serius.

Dengan subscriber sekitar 220-an dari 11 postingan video dan durasi tonton 200 jam, memang masih termasuk kecil untuk ukuran satu bulan menjadi Youtuber tapi bagi Andira ini pencapaian awal.

“Ini membuatku semangat membuat video baru dengan isi yang positif dan berguna bagi banyak orang. Tidak ada salahnya aktif di dunia online apapun tujuannya untuk eksistensi diri atau pun yang menghasilkan uang, jangan takut dengan sedikitnya orang yang mengetahui keberadaan kita di dunia maya. Ketika yang kita bagikan positif, pasti akan ada saja peminatnya. Meski Youtube Channelku segmented tapi aku akan memberikan yang terbaik untuk yang menonton channelku.” pungkas Andira.

 

Reporter: Alvi

Editor     : Ajiwan Arief  

 

The subscriber's email address.