Lompat ke isi utama
poster diskusi media sosial aksesibel

Yuk, Bikin Konten Media Sosial #BisaDiakses Difabel!

Solider.id, Yogyakarta - Konten yang aksesibel membuat difabel dapat menerima informasi dan pengetahuan yang sama dengan non difabel. Dunia digital harusnya menjadi kesempatan maksimal untuk difabel berkarya, khususnya bagi difabel netra. Banyak contoh sukses difabel netra bekerja sebagai barista, atau pekerjaan lain, namun untuk dunia digital masih tertinggal kesempatannya. “Alasan tersebut yang melatarbelakangi saya mendirikan Suarise.” tutur Rahma Utami dalam Diskusi Inklusi 3 tentang Aksesibilitas Media Sosial, Jumat (3/7), via platform Zoom.

Kenapa aksesibilitas media sosial menjadi penting? Dari survei Suarise kepada 100 difabel netra dan low vision, secara statistik banyak yang menjadi pengguna Facebook 78% dan Instagram 15%. Difabel netra banyak menggunakan Facebook dalam bentuk m.Facebook karena lebih nyaman. Temuan lainnya responden netra dan low vision mayoritas follow influencer. Ketika konten influencer tersebut sudah aksesibel, maka dapat diakses oleh semua difabel. Hal inilah yang ingin diangkat oleh Suarise.

Media sosial hari ini sudah menyediakan fitur aksesibilitas. Dulu, keluhan difabel yang menggunakan Instagram adalah tentang image heavy atau informasi tersentral pada gambar, padahal banyak konten menarik dan berguna untuk semua pengguna, termasuk difabel netra. Konten kadang menjadi tidak aksesibel ketika semua informasi ditaruh digambar tanpa teks atau caption. Namun semua konten Instagram sekarang sudah dapat dibaca oleh screen reader, meski kadang memang terjadi bug atau masalah.

Di beberapa media sosial seperti Facebook, LinkedIn, Twitter dan Instagram, sudah ada fitur Alt Text untuk mendeskripsikan gambar di dalam media sosial tersebut. Alt-Text atau dalam bahasa Alt Teks adalah kependekan dari Alternatif Teks, teks yang tidak terlihat oleh mata yang sifatnya unik untuk tiap gambar yang membuat difabel netra dan low vision mengetahui tentang gambar yang ditampilkan di halaman digital. Alt Teks dikenal di media sosial baru dua tahunan, meski di website fitur ini sudah dikenal lama.

Saat ini, Alt Teks bisa ditambahkan dengan dua cara, pertama, secara manual dari media sosial melalui fitur aksesibilitas yang telah dinyalakan dan di website melalui authoring tool atau atribut dalam kode html. Kedua, secara otomatis oleh Artificial Intelligence (AI) software yang sudah mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk generik yang terlihat jelas pada foto.

Kompatibilitas screen reader hanya bisa membaca Alt Teks maksimal 120 karakter. Jadi, baiknya konten yang ada gambar dan teks agar menjadi konten yang aksesibel, informasi tentang gambar bisa ditaruh di caption sehingga informasi Alt Teks hanya berisi 120 karakter saja.

Rahma menyarankan jika memungkinkan, bila ada teks di dalam gambar, upayakan agar memiliki kontras yang cukup antara tulisan dengan latar belakang untuk memudahkan low vision. Dan jika memungkinkan bila konten video dalam halaman feed, upayakan agar memiliki caption juga dengan kontras warna yang cukup untuk memudahkan teman-teman Tuli.

Dalam Global Accessibility Awareness Day (GAAD) atau Hari Kesadaran Aksesibilitas Global bulan Mei lalu, Suarise mencoba approach konten kreator dan komunitas serta influencer media sosial untuk membuat konten dengan menggunakan tagar #BisaDiakses. Tujuannya, agar informasi dari konten-konten yang dibuat langsung tertangkap mana yang aksesibel tanpa harus mengikuti akun-akun tersebut.

Di sisi lain, untuk membantu advokasi, pengguna Instagram bisa menggunakan tagar #TantanganAksesibilitas yang berisi tips-tips untuk membuat konten agar lebih aksesibel maupun mengkritisi konten-konten yang belum aksesibel. Harapan ke depan, Suarise mengajak orang-orang terutama konten kreator dan influencer untuk menggunakan fitur Alt Teks dan tagar #BisaDiakses pada konten mereka agar pengguna netra dan low vision bisa menemukan dan ikut menikmati konten yang mereka sukai.

“Kalau menemukan konten kreator dengan konten menarik tapi belum aksesibel, maka jangan ragu untuk menyuarakan pada si konten kreator tersebut atau bisa membuat video yang langsung mendemonstrasikan hambatan apa saja yang dialami difabel dalam mengaksesnya. Membuat tagar bersama seperti #TantanganAksesibilitas adalah salah satu cara kompak untuk menyuarakan hambatan tadi.” ujar Rahma mengakhiri diskusi.

 

Reporter: Alvi

Editor     : Ajiwan Arief    

The subscriber's email address.