Lompat ke isi utama
webinar desa inklusi

Parameter Wujudkan Desa Inklusif

Solider.id, Pati – Dalam mewujudkan desa inklusif, butuh beberapa parameter dalam implementasiannya. Hal ini dibahas dalam webinar dengan tema desa inklusif basis solidaritas bangsa, pada hari Kamis (2/7).

Salah seorang narasumber pada webinar tersebut yakni Bito Wikantosa selaku direktur pelayanan dasar Kemendes mengatakan adanya agen perubahan dari desa  untuk menciptakan desa inklusif.

 “Yang diperkuat adalah warga desa, kepala desa, perangkat desa, badan permusyawaratan desa, dan kelompok marginal dan rentan, untuk tampil secara aktif menjadi agen perubahan dari desa yang belum optimal mengaktualisasikan nilai-nilai inklusi sosial, mengubah menjadi desa inklusif.” Kata Bito

Menurutnya hal itu penting, karena dapat diaktualisasi untuk menjadi undang-undang desa. Strukturisasi sosial desa inklusif dapat ditempuh melalui tiga jalan pemberdayaan masyarakat desa, yaitu jalan kebudayaan, jalan pembangunan, dan jalan demokrasi.

“Jalan kebudayaan yaitu menggali kembali hasil cipta rasa, karsa, dan karya untuk warga desa yang mensejarah yang hadir sebagai identitas budaya, itu merupakan kekuatan utama untuk membangun tumbuhnya desa inklusif. Kedua jalan pembangunan, adalah pembangunan desa harus untuk semua warga, tidak ada seorang pun yang ditinggalkan di dalam penyelenggaraan pembangunan desa, jadi kelompok marginal dan rentan di desa harus difasilitasi agar mereka dapat memperoleh akses terhadap sumber daya pembangunan di desa.” Ucapnya

Dan ketiga jalan demokrasi dimana undang-undang desa menetapkan dua model demokrasi yaitu demokrasi representatif dan demokrasi permusyawaratan.

“Ciri demokrasi representatif yaitu adanya pemilihan kepala desa dan pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sedangkan ciri jalur demokrasi permusyawaratan yaitu adanya musyawarah desa. Dua model demokrasi tersebut yang sesuai sila ke-4 pancasila ini harus dihadirkan, karena kalau tidak ketika salah memilih pemimpin akan sulit juga untuk mewujudkan desa inklusif.” Jelasnya

Ia berharap kelompok marjinal dan rentan harus aktif dalam pengambilan keputusan yang ada di dalam musyawarah desa. Selaras dengan direktur pelayanan social dasar, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo membenarkan bahwa kekuatan desa ada di komunitas dan ekosistem yang sudah terbentuk di desa.

“Dengan pendekatan sosiologis yang bagus, kultural yang bagus, relasi kepentingan kelompok-kelompok di desa itu untuk apa,  untuk membentuk konsesus sendiri saja.” Ujar Ganjar

Menurutnya, untuk mendorong inklusifitas desa perlu adanya pendamping-pendamping.

“Maka kemudian kemendes sudah turun tangan seperti itu, hari ini kita membutuhkan pendamping-pendamping, maka inklusivitas yang ada di desa bisa kita dorong.” Tuturnya

Harapanya nanti ada formulasi yang bisa menuju rencana aksi, sehingga ia bisa mendorong untuk teman-teman di tanah air dalam mewujudkan desa inklusi.

 

Reporter: Oby achmad

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.