Lompat ke isi utama
seorang pengguna kursi roda tampak sholat di sebuah masjid diluar saff. sumber: https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/psbjie330/menengok-masjid-ramah-difabel-di-jakarta

Aksesibilitas Rumah Ibadah, Wujud Kesetaraan Capai Kemuliaan

Solider.id - Setiap tindak-tanduk manusia, pastilah memiliki dasar yang mengilhaminya. Begitu pula dalam peribadatan, setiap manusia memiliki agama, kepercayaan, dan keyakinannya masing-masing. Secara normatif, kebanyakan dari kita  mempercayai, bahwa setiap agama yang ada  di dunia ini adalah mengajarkan tentang welas asih, kebajikan, menolong sesama, dan yang paling penting adalah menghargai hakikat manusia dan  kemanusiaan itu sendiri. Pada hakikatnya setiap insan yang mendeklarasikan diri sebagai orang-orang yang beriman, pastilah akan selalu mencari dan berbuat kebaikan, terutama bagi sesama. Kebaikan-kebaikan tersebut, biasanya termanifestasi dalam bentuk sumbangan sosial, bakti sosial, sedekah, dan lain sebagainya. Akan tetapi tidak banyak  tokoh agama dan para pemangku kebijakan  yang memikirkan tentang kebaikan spiritual kaum difabel. Dapat kita lihat di sekitar kita, bahwa masih minimnya kesadaran para tokoh agama tentang aksesibilitas tempat peribadatan. Masih sangat banyak tempat ibadah yang jauh dari kata aksesibel. Karena ketidak aksesan tempat-tempat peribadatan tersebut, maka tidak jarang pula membuat sebagian  difabel akhirnya merasa tidak bersemangat untuk melakukan ritual peribadatan di rumah ibadah. Dapat kita lihat di sekitar kita, bahkan di kota Malang sendiri, belum ada masjid, gereja, pura yang benar-benar aksesibel. Rumah-rumah ibadah tersebut, seolah dirancang hanya bagi mereka yang menurut banyak orang memiliki kesempurnaan secara fisik. Padahal ketika kita berpikir dan menelaah lebih dalam lagi tentang hakikat keagamaan, pastilah kita akan menemukan teks-teks yang menganjurkan umatnya untuk menghargai manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Hal di atas senada dengan pendapat beberapa teman difabel yang sempat solider wawancarai mengenai aksesibilitas di rumah ibadah.

Menurut Afif Husain Rasyidi (mahasiswa difabel netra jurusan Psikologi di Universitas Brawijaya), sejauh dia shalat di masjid yang ada di kota Malang ini, relatif (ada yang akses dan ada yang tidak akses). Lalu Menurutnya lagi,  Di tempat sekitar kontrakannya (Kertosentono),   mushola itu akses karena tempat wudhu  dan tempat  shalatnya itu berdekatan, jadinya lebih memudahkan. Lalu ada juga masjid yang tangganya sedikit. Tetapi sebenarnya itu tidak menjadi masalah, yang penting tempat wudhu itu dekat dengan tempat shalatnya. Selain itu masjid yang tidak banyak tanjakan dan belokannya, yang bangunannya tidak begitu rumit, itu dianggapnya lebih memudahkan. Lalu tentang takmir, Afif merasa ketika dia mencoba berjalan sendiri ke masjid dan tidak bertanya kepada takmir, maka takmir masjid itu hanya mengamatinya saja, tetapi ketika ia bertanya, maka katanya takmir itu akan membantu. Akan tetapi, bagi Afif masjid yang ada di FISIP (tempat ia berkuliah) takmirnya sudah aware dengan keadaan Afif yang difabel netra, sehingga tanpa bertanya pun Afif akan dibantu oleh para takmir di masjid fakultas tersebut. Menurut Afif adanya karpet yang berwarna hitam (yang biasanya digunakan untuk mengeringkan kaki), itu juga memudahkannya untuk mengidentifikasi  arah, sebab  bisa menjadi pengarah  karena letak karpet tersebut jalurnya mengarahkan ke masjid.   

Afif juga berharap bahwa para takmir itu dapat menumbuhkan kesadarannya secara pribadi, misalnya bisa dengan menempelkan tulisan yang bersifat ajakan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap disabilitas, lalu untuk fasilitas tempat duduk yang ada di tempat wudu, bagi Afif itu memudahkan bagi difabel fisik, tapi bagi Afif yang difabel netra , justru adanya kursi tersebut malah membuatnya sering terbentur. Jadi menurut Afif,  kalau bisa tempat wudu yang ada kursi bagi difabel fisik atau lansia itu dipisahkan, agar difabel netra tidak membentur kursi tersebut. Lalu  menurut Elo Kusuma Alfred Mandeville (mahasiswa difabel fisik jurusan Desain Komunikasi Visual di  Universitas Brawijaya), belum ada gereja, baik yang ada di Malang, maupun di Bali yang benar-benar memenuhi standar aksesibilitas. Meskipun begitu, kata Elo, ia sering dibantu oleh orang-orang di gereja dan diberi perhatian khusus, mungkin karena kondisi Elo yang tidak memiliki tangan dan badannya kecil, sehingga Elo seakan-akan diistimewakan. Sebenarnya   Elo sebagai seorang difabel fisik, tidak mau diperlakukan demikian. Lalu Elo menambahkan, bahwa belum ada gereja (baik di Malang, maupun di Bali) yang menyediakan ramp atau plengsengan bagi pengguna kursi roda

Kemudian, menurut I Made Prasetya Wiguna Mahayasa  (mahasiswa difabel netra jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Malang), pura itu identik dengan kesan alamiahnya, alamiahnya dalam artian alamnya. Jadi, kata-kata alam ini merujuk pada desain pura yang benar-benar  outdoor, jadi tidak memiliki atap. Pura  identik dengan kumpulan candi-candi.  Jadi, pura itu benar-benar alami. Di mana-mana, setiap pura itu memiliki desain yang berbeda tetapi mayoritas pura itu   memang  agak sulit buat dijangkau oleh orang-orang khususnya yang memiliki hambatan motorik seperti pengguna kursi roda karena lingkungan pura itu sendiri biasanya terjal, bahkan terkadang akses untuk ke pura itu  harus dengan  merayap melewati medan yang  kiri kanannya adalah jurang, sebab lingkungannya   benar-benar alam. Tidak jarang   untuk bersembahyang di pura itu butuh perjuangan  untuk beribadah, katanya hal tersebut adalah salah satu  kenikmatan tersendiri  bagi orang-orang yang nondifabel. Tetapi Wiguna juga menyadari bahwa orang-orang yang memiliki hambatan pada  motoriknya   akan kesulitan mengakses pura untuk bersembahyang. Lalu menurut Wiguna sendiri, pura sebaiknya memiliki bidang miring ramp pada sekitaran tangga-tangganya, agar dapat memudahkan pengguna kursi roda. Wiguna juga mengakui bahwa ia sangat jarang mendapati ada difabel pengguna kursi roda yang bersembahyang di pura. Tetapi bagi Wiguna yang difabel netra, ia tidak begitu kesulitan untuk bersembahyang di pura, sebab kalau sedang di Bali ia sering didampingi keluarga, atau kalau sedang di Malang, banyak teman yang menemaninya bersembahyang di pura. Wiguna tidak menuntut banyak untuk pura itu benar-benar akses, tapi baginya adalah kesadaran masyarakat itu sendiri yang harus ditumbuhkan agar mau membantu dan mengarahkan bila ada difabel, terutama difabel netra yang hendak bersembahyang. Menurut Wiguna, salah satu syarat agar pura itu tidak sulit diakses adalah puranya tidak berada di pedalaman, seperti di dalam hutan, maupun di pantai, dan pura tersebut juga tidak begitu kompleks desainnya. Jadi pada intinya, menurut Wiguna, hendaknya pura memiliki bidang miring atau ramp untuk memudahkan pengguna kursi roda, dan memiliki gueding block agar dapat memudahkan difabel netra. Bagi Wiguna, adanya bidang miring ramp dan guding block itu tidak begitu berat untuk direalisasikan.

Menurut pengamatan solider, masih banyaknya tempat ibadah yang tidak memiliki bidang miring (ram), masih kurangnya juru bahasa isyarat ketika tokoh agama menyampaikan ceramah/khutbahnya, dan rumitnya konstruksi bangunan  yang menyusahkan difabel untuk menghafal jalan menuju tempat peribadatan tersebut. Padahal regulasi yang mengatur tentang peribadatan difabel itu telah ada, seperti yang tercantum dalam UU No.  8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,  pada pasal 14 tentang Hak Keagamaan, poin (b) disebutkan bahwa difabel semestinya berhak Memperoleh kemudahan akses dalam memanfaatkan tempat peribadatan. Kemudian aksesibilitas tempat peribadatan keagamaan juga dipertegas pada poin (d) bahwa Difabel harus mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan pada saat menjalankan ibadat menurut agama dan kepercayaannya. Dengan gamblang pula dijelaskan  pada Pasal 80 di UU tersebut, bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mendorong dan/ atau membantu pengelola rumah ibadah untuk menyediakan sarana dan prasarana yang mudah diakses oleh difabel.

Maka dari itu, diperlukannya pemikiran-pemikiran  futuristik dan tindakan yang implementatif  secara komprehensif, adalah bahwa tempat peribadatan dewasa ini sudah seharusya aksesibel bagi semua orang, termasuk bagi para difabel. Karena tempat ibadah yang bagus dan megah, namun tidak bersifat terbuka bagi semua adalah sebuah kesia-siaan. Tempat ibadah yang luas dan mewah, bila tak dapat didatangi oleh mereka yang difabel. Hakikatnya semua manusia ingin beribadah dengan keyakinannya, tapi jangan sampai hanya karena tempat ibadah  yang tidak aksesibel, membuat para difabel tidak dapat mengenali hakikat Tuhan dan ketuhanan itu sendiri. Agama ada untuk manusia, maka dari itu, marilah para tokoh-tokoh agama, dan para pemangku kebijakan berpikir bahwa sudah saatnya tempat ibadah bukan hanya simbol religiusitas semata, tetapi juga dapat menjadi titik awal terciptanya inklusifitas yang cerdas berdasarkan asas-asas sifat Tuhan yang mengasihi semua. Tuhan tak buta untuk melihat kesetaraan hambanya, dan Tuhan pun tak tuli untuk mendengar ratapan dan rintihan kaum-kaum yang termarjinalkan. Jangan sampai hanya karena tempat ibadah  yang tidak cukup akses, membuat kita semua lupa bahwa ada mereka, kaum  difabel yang juga butuh bercengkrama dengan Tuhan di rumah suci tersebut.

 

Penulis: Andi Zulfajrin Syam

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.