Lompat ke isi utama
salah satu musisi difabel netra Bali

Kreatif Kala Pandemi ala Difabel Bali

Solider,id, Denpasar - Pandemi Covid-19 boleh saja membuat aktifitas manusia menjadi terbatas, namun tidak untuk kreatifitas. Bekerja, belajar dan beribadah dari rumah tidak serta merta membuat seseorang menjadi tidak produktif. Tidak terkecuali bagi para difabel.

Berdiam diri di rumah justru terkadang dapat membuat sebagian orang dapat menumbuhkan ide yang kreatif. Misal saja seperti menciptakan lagu, aransement musik, bahkan berjualan lewat media daring. Selain itu, di era teknologi seperti sekarang,   generasi melenial tentu memanfaatkan teknologi dalam berkreatifitas, belajar maupun bekerja. Kemajuan teknologi ini pulalah yang mendukung para difabel melenial dalam berkarya untuk tetap berproduktifitas di masa pandemi ini.

Made Prasetya Wiguna Mahayasa, adalah seorang mahasiswa difabel netra yang tercatat di jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang. Sejak duduk di bangku SMA, ketertarikannya akan teknologi sudah terlihat. Terbukti saat ini Wiguna tengah menggeluti dunia digital marketing. Ia memiliki tiga bidang usaha yakni Wiguna Music, Wiguna Cell dan Dropship.

Wiguna Music: yakni jasa les privat keyboard. Berbekal ilmu tentang musik khususnya keyboard, ia melayani konsumen yang ingin belajar bermain keyboard baik offline maupun online. Dengan sedikit kreatifitas, ia menggunakan media aplikasi pesan instan WhatsApp untuk mengajarkan keyboard pada murid-muridnya yang memilih privat secara online, sedangkan yang memilih offline dapat datang langsung ke rumah. Jika mengajarkan muridnya secara online, Wiguna akan merekam terlebih dahulu praktik yang akan disampaikan melalui vidio kemudian diselingi dengan materi berupa teks ataupun voice not (pesan suara). Wiguna mengaku dengan sistem privat online, ia bisa mengajar lebih dari satu murid secara bersamaan. Selain itu, kita juga bisa menikmati cover music karyanya lewat channel youtube Wiguna Official music.

Wiguna Cell yakni jasa agen pulsa dan layanan PPOB (point pay online bank) yang melayani pendaftaran pembayaran BPJS, tagihan listrik, saldo OVO dan lain-lain melalui bank. Hingga saat ini ia telah memiliki 550 (lima ratus lima puluh) mitra dari seluruh Indonesia yang telah bergabung dalam jaringannya.

Menurut laki-laki kelahiran Denpasar, 19 Maret 2000 ini menuturkan bahwa ia merasa lebih berarti dengan adanya teknologi. “selain untuk membantu ekonomi keluarga, saya senang dan nyaman melakukan kegiatan ini. Dengan hambatan penglihatan yang saya miliki ini, saya merasa digital marketing memudahkan saya dalam berbisnis.” Tutur anak kedua dari dua bersaudara ini. Sejak ayahnya meninggal, Wiguna turut membantu ibunya dalam memasarkan produk kuliner khas Bali produksi ibunya sendiri di media sosial.

Wiguna berharap dapat mengembangkan lagi digital marketing yang dimilikinya saat ini. Menurutnya, dengan adanya pandemi ini sedikit banyak akan menggeser tatanan kehidupan manusia. Terlebih dalam dunia usaha akan mengubah prilaku konsumen dalam berbelanja. Ia mengungkapkan  bahwasanya digital marketing adalah peluang baik yang harus ditangkap oleh para difabel di era baru.  Karena dengan teknologi ia percaya dapat mendukung produktifitas dan kreatifitas difabel.

Dede Satria, seorang difabel netra asal Tulikup Gianyar. Sejak kecil ia memang menyenangi musik. Hobinya itulah yang mengantarkannya menjadi seorang sarjana seni di Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI). Sebelum adanya pandemi, Dede begitu ia disapa kesehariannya bermain musik untuk menghibur pengunjung di beberapa rumah makan dan melayani jasa les privat musik. Sejak adanya pandemi, ia tetap bekerja seperti biasanya. Berbekal dengan bakatnya dalam bermusik, ia dan lima orang temannya yang juga adalah seorang difabel netra kemudian membentuk sebuah group band yang diberi nama Nirkala Band. Nirkala band ini lounching pada tanggal 25 Oktober 2019 lalu. Diusianya yang terbilang baru ini, Nirkala band sudah sering pentas dan beberapa kali telah tampil di salah satu stasiun TV lokal. Karya-karyanya juga dapat dinikmati melalui channel youtube yang bernama Nirkala Bali, dan baru-baru ini mereka merilis lagu tentang Corona.

Selain aktif di group band, laki-laki kelahiran 3 Desember 1993 ini juga sebagai penyiar di radio online. Radio online tersebut bernama Nuca Lele asal Nusa Tenggara Timur. Radio ini merupakan radio online yang didirikan oleh para difabel netra asal NTT. Jika penikmat radio ingin mendengarkan bagaimana kepiawaian para difabel netra ini dalam siaran radio, dapat mengunduh aplikasinya di play store dengan nama Nuca Lele.

Selain menjadi penyiar, Dede juga memiliki Podcast pribadi di tujuh platform Podcast salah satunya adalah di Spotify yang diberi nama Bali Blind. Di Podcast pribadinya ini ia baru memiliki dua kali jam tayang dalam seminggu. Di hari jumat adalah jumat tekno. Yang mana pada hari ini ia berbagi tentang teknologi seperti belajar komputer, handphon, aplikasi dan benda elektronik lainnya yang aksesibel bagi difabel. kemudian Podcast di hari minggu. Di hari minggu ia sharing tentang hal-hal yang ringan seputar kegiatan sehari-hari yang bisa ia lakukan. Seperti memasak, bersih-bersih atau aktifity dayly living (ADL).

Melalui Podcast ini ia ingin memberi tahu pada masyarakat bahwasanya difabel juga bisa bekerja, berkegiatan  dan belajar sama seperti orang-orang nondifabel hanya saja dengan cara yang sedikit berbeda. “dalam waktu dekat ini, saya berencana untuk membuat kegiatan yang lain lagi agar terus produktif” tandasnya mengakhiri wawancara.

Kisah inspriratif lain juga datang dari seorang difabel daksa dari Klungkung Bali. Ia bernama Dewa Ayu Fatma Adnyasari. Saat ini ia menjalani usaha online yang dimiliki ketika masih bekerja dulu. Akibat pandemi gadis yang baru saja meraih gelar sarjananya di bidang desain grafis tahun lalu ini kemudian dirumahkan. Sebelumnya, ia bekerja di sebuah percetakan buku sekolah yang ada di Denpasar. Ketika ia masih bekerja, ia memiliki usaha sampingan dengan berjualan online di instagram dengan nama dw_rumahbarang. namun usahanya itu tidak berjalan penuh. Ia berjualan ketika waktu senggang saja. Kemudian karena dirumahkan, Dewa Ayu lalu memfokuskan dirinya pada usaha online yang dimiliki sebelumnya itu.

“waktu masih bekerja dulu saya juga punya sampingan jualan online di instagram. Tapi karena waktu terbagi dengan bekerja, jadi tidak fokus mengurus jualan online.” Tutur gadis kelahiran Denpasar 23 Oktober 1994 ini. Kini usaha online shopnya tersebut berkembang dengan baik. Dewa Ayu mengaku konsumennya saat ini lebih banyak dari pada dulu sewaktu ia masih bekerja. “setiap hari ada aja yang beli. Sampai-sampai kami kewalahan mencari barang karena kehabisan stok.!” Ungkapnya. Dalam oprasional usahanya, Dewa Ayu dibantu oleh temannya. Saat ini ia baru menjual barang-barang fashion dan kecantikan yang diambil dari produsen lain. Saat ini ia juga tengah mengembangkan desain fasion sendiri namun belum menemukan mitra usaha yang dapat membantu untuk memproduksi hasil desaine-nya tersebut. Harapannya ke depan, Dewa Ayu bisa memiliki dua usaha online yakni usaha di bidang fashion dan usaha di bidang percetakan.

 

Reporter: Ayu Wandari

Editor     : Ajiwana Arief

The subscriber's email address.